Sedikit bercerita perihal isi folder dan kisah kisah
di dalamnya. Sebelum masuk kedalam cerita, ada baiknya akan saya sedikit
jelaskan perihal apa itu folder dan penjelasan mengenai nomer dari folder
tersebut. Jadi folder yang saya beri nomer di atas merupakan folder-folder nama
perusahaan yang saya buat untuk melamar pekerjaan. Sedangkan nomor nya
merupakan jumlah banyaknya atau urutan lamaran kerja yang sudah pernah saya
keluarkan, entah melamar pekerjaan melalui email ataupun melalui kantor pos.
Hal tersebut saya gunakan sebagai bahan tulisan untuk menghindari penyebutan
nama tempat perusahaan atau pabrik terkait yang saya lamar.
Ini adalah kisah dari Folder No. 92, folder tersebut
kosong tanpa ada file di dalamnya. Hal tersebut sebab saya menggunakan jasa
pihak ke-2 sebagai penyalur tenaga kerja kepada perusahaan atau pabrik yang
sudah menjalin kerja sama dengan pihak ke-2 tersebut. Singkat cerita saya
mendapatkan panggilan masuk dari pihak ke-2 untuk segera melakukan tes Medical
Check Up. Sebelumnya saya sudah di kasih informasi dari sepupu yang menawarkan
suatu pekerjaan. Kebetulan sepupu saya bekerja sebagai pihak ke-2 namun
bertempat di pusat, sedangkan yang menghubungi saya merupakan orang cabang.
Tanpa pikir panjang saya mengiyakan dan segera
melakukan tes MCU pada waktu dan lokasi yang sudah ditentukan. Sebab dari
informasi singkat saudara saya, saya memang tertarik dengan posisi yang
ditawarkan oleh perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, kala itu
diberitahukan sebagai Admin.
Tes pun terlaksana di salah satu puskesmas di suatu
daerah. Tes kali ini merupakan tes pertama saya untuk mengecek kesehatan fisik
saya. Berawal dari tes urin, tes buta warna, tinggi badan, berat badan, detak
jantung, anatomi & postur badan (mungkin itu sebutannya, sebab kala itu
saya di suruh melepas baju dan menurunkan celana), terakhir ronsen di bagian
dada.
Hasil tes pun akhirnya keluar pada hari itu juga,
dan saya di informasikan untuk mengantarkan hasil tes kesehatan tersebut ke
kantor pihak ke-2 sebagai penyalur tenaga kerja. Sampai di sana barulah saya berkenalan dan di
jelaskan sedikit perihal job desk pekerjaan saya kelak. Bapak tersebut
menjelaskan bahwa posisi yang akan saya tempati adalah sebagai Admin Gudang.
Jauh dari persepsi dan bayangan saya yang mengimajinasikan posisi Admin
tersebut sebagai Admin Kantor. Sejenak membisu karena ragu, hingga muncul
beberapa rasa penasaran terkait pekerjaan sebagai Admin Gudang tersebut.
Keraguan saya perihal penjelasan job desk Admin
Gudang terbawa sampai ke rumah. Saya pun menangguhkan pertanyaan Bapak pihak
ke-2 tersebut terkait kesanggupan bekerja sebagai Admin Gudang tersebut. Banyak
pertimbangan yang akhirnya saya fikirkan, hingga memaksa saya untuk berhenti di
salah satu warung kopi dan mengabaikan waktu ibadah Jum’at yang seharusnya saya
tunaikan.
Keraguan saya berubah menjadi kebingungan. Bingung
bagaimana cara memberi alasan yang tidak mengecewakan ibuk saat tau ternyata
saya kurang berminat pada posisi pekerjaan tersebut. Sebab, juga sudah menghabiskan
uang secara sengaja guna melakukan tes kesehatan sebelumnya. Selanjutnya saya
juga merasa malu terhadap sepupu saya, yang telah mensaranai CV saya untuk di
salurkan kepada perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan tersebut, tapi saya
kurang berminat.
Memang gaji yang ditawarkan sangat menggiurkan,
sebab sudah menyentuh UMK setempat. Namun, yang membuat saya kepikiran adalah
soal kenyamanan. Percuma gaji besar jika tidak merasa nyaman saat bekerja. Apa
lagi pekerjaan tersebut akan menjadi kegiatan sehari-hari kita sampai entah
kapan pun itu. Selain itu, saya khawatir jika sudah tidak merasa nyaman saya
nekat pindah dan mencari pekerjaan lain. Sedangkan usia saya sudah tidak muda
lagi. sedangkan, lebih banyak lowongan kerja dengan kualifikasi maksimal usia
25 tahun sebagai persyaratan. Selain itu bukan tipikan saya juga yang
menargetkan mendapatkan gaji tinggi saat bekerja.
Hari berlalu dan selanjutnya saya bertemu dengan
mas-mas penyalur pekerjaan tersebut, sembari saya mengambil hasil tes ronsen di
laboratorium. Saat bertemu untuk yang kedua kali saya memberikan banyak
pertanyaan guna memuaskan rasa penasaran saya, sebelum mengiyakan untuk
menerima pekerjaan tersebut. Setelah percakapan yang ternyata tidak berlangsung
lama tersebut, saya sudah yakin dan mengambil keputusan untuk mundur dan tidak
melanjutkan proses rekrutmen tersebut. Sehingga bisa digantikan oleh orang lain
yang lebih butuh dan beruntung. Setelah ini tinggal meminta maaf dan
menjelaskan alasan kepada ibuk, perihal menghabiskan uang yang diberikan untuk
tes kesehatan dan juga alasan kenapa saya tidak mengambil kesempatan tersebut.
Akhirnya kembali berharap lagi dan berusaha lagi untuk mencari jalan lain. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar