Rabu, 22 April 2020

Folder No. 92


Sedikit bercerita perihal isi folder dan kisah kisah di dalamnya. Sebelum masuk kedalam cerita, ada baiknya akan saya sedikit jelaskan perihal apa itu folder dan penjelasan mengenai nomer dari folder tersebut. Jadi folder yang saya beri nomer di atas merupakan folder-folder nama perusahaan yang saya buat untuk melamar pekerjaan. Sedangkan nomor nya merupakan jumlah banyaknya atau urutan lamaran kerja yang sudah pernah saya keluarkan, entah melamar pekerjaan melalui email ataupun melalui kantor pos. Hal tersebut saya gunakan sebagai bahan tulisan untuk menghindari penyebutan nama tempat perusahaan atau pabrik terkait yang saya lamar.

Ini adalah kisah dari Folder No. 92, folder tersebut kosong tanpa ada file di dalamnya. Hal tersebut sebab saya menggunakan jasa pihak ke-2 sebagai penyalur tenaga kerja kepada perusahaan atau pabrik yang sudah menjalin kerja sama dengan pihak ke-2 tersebut. Singkat cerita saya mendapatkan panggilan masuk dari pihak ke-2 untuk segera melakukan tes Medical Check Up. Sebelumnya saya sudah di kasih informasi dari sepupu yang menawarkan suatu pekerjaan. Kebetulan sepupu saya bekerja sebagai pihak ke-2 namun bertempat di pusat, sedangkan yang menghubungi saya merupakan orang cabang.

Tanpa pikir panjang saya mengiyakan dan segera melakukan tes MCU pada waktu dan lokasi yang sudah ditentukan. Sebab dari informasi singkat saudara saya, saya memang tertarik dengan posisi yang ditawarkan oleh perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, kala itu diberitahukan sebagai Admin.

Tes pun terlaksana di salah satu puskesmas di suatu daerah. Tes kali ini merupakan tes pertama saya untuk mengecek kesehatan fisik saya. Berawal dari tes urin, tes buta warna, tinggi badan, berat badan, detak jantung, anatomi & postur badan (mungkin itu sebutannya, sebab kala itu saya di suruh melepas baju dan menurunkan celana), terakhir ronsen di bagian dada.

Hasil tes pun akhirnya keluar pada hari itu juga, dan saya di informasikan untuk mengantarkan hasil tes kesehatan tersebut ke kantor pihak ke-2 sebagai penyalur tenaga kerja.  Sampai di sana barulah saya berkenalan dan di jelaskan sedikit perihal job desk pekerjaan saya kelak. Bapak tersebut menjelaskan bahwa posisi yang akan saya tempati adalah sebagai Admin Gudang. Jauh dari persepsi dan bayangan saya yang mengimajinasikan posisi Admin tersebut sebagai Admin Kantor. Sejenak membisu karena ragu, hingga muncul beberapa rasa penasaran terkait pekerjaan sebagai Admin Gudang tersebut.

Keraguan saya perihal penjelasan job desk Admin Gudang terbawa sampai ke rumah. Saya pun menangguhkan pertanyaan Bapak pihak ke-2 tersebut terkait kesanggupan bekerja sebagai Admin Gudang tersebut. Banyak pertimbangan yang akhirnya saya fikirkan, hingga memaksa saya untuk berhenti di salah satu warung kopi dan mengabaikan waktu ibadah Jum’at yang seharusnya saya tunaikan.

Keraguan saya berubah menjadi kebingungan. Bingung bagaimana cara memberi alasan yang tidak mengecewakan ibuk saat tau ternyata saya kurang berminat pada posisi pekerjaan tersebut. Sebab, juga sudah menghabiskan uang secara sengaja guna melakukan tes kesehatan sebelumnya. Selanjutnya saya juga merasa malu terhadap sepupu saya, yang telah mensaranai CV saya untuk di salurkan kepada perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan tersebut, tapi saya kurang berminat.
Memang gaji yang ditawarkan sangat menggiurkan, sebab sudah menyentuh UMK setempat. Namun, yang membuat saya kepikiran adalah soal kenyamanan. Percuma gaji besar jika tidak merasa nyaman saat bekerja. Apa lagi pekerjaan tersebut akan menjadi kegiatan sehari-hari kita sampai entah kapan pun itu. Selain itu, saya khawatir jika sudah tidak merasa nyaman saya nekat pindah dan mencari pekerjaan lain. Sedangkan usia saya sudah tidak muda lagi. sedangkan, lebih banyak lowongan kerja dengan kualifikasi maksimal usia 25 tahun sebagai persyaratan. Selain itu bukan tipikan saya juga yang menargetkan mendapatkan gaji tinggi saat bekerja.

Hari berlalu dan selanjutnya saya bertemu dengan mas-mas penyalur pekerjaan tersebut, sembari saya mengambil hasil tes ronsen di laboratorium. Saat bertemu untuk yang kedua kali saya memberikan banyak pertanyaan guna memuaskan rasa penasaran saya, sebelum mengiyakan untuk menerima pekerjaan tersebut. Setelah percakapan yang ternyata tidak berlangsung lama tersebut, saya sudah yakin dan mengambil keputusan untuk mundur dan tidak melanjutkan proses rekrutmen tersebut. Sehingga bisa digantikan oleh orang lain yang lebih butuh dan beruntung. Setelah ini tinggal meminta maaf dan menjelaskan alasan kepada ibuk, perihal menghabiskan uang yang diberikan untuk tes kesehatan dan juga alasan kenapa saya tidak mengambil kesempatan tersebut. Akhirnya kembali berharap lagi dan berusaha lagi untuk mencari jalan lain. []


Tidak ada komentar: