Hari ini saya menyengajakan diri untuk bangun siang. Setelah sebelumnya pulang ngopi dari Ambulu sekira pukul 2 pagi. Sesampainya di kamar pun masih membuka gawai untuk bermain game hingga terlelap. Rabu ini adalah hari terakhir di tahun 2025 saya ndak punya rencana mau kemana dan apa, bangun tidur hanya berleha-leha saja. Sesekali membaca buku, bosan lalu berganti menonton youtube, bosan juga berlanjut membuka game. Kegiatan itu berkelindan sampai akhirnya saya merasa lapar. Ide untuk mandi muncul, selanjutnya berjalan ke daerah kampus untuk berburu makanan.
Warung Pak Edi menjadi pilihan untuk sarapan siang ini. Jam sudah menunjukan pukul 11.00 siang. Warung ini tidak begitu ramai, mungkin orang-orang sedang menyiapkan acara untuk menyambut pergantian tahun nanti malam, di tambah hari ini sudah masuk masa libur panjang bagi mahasiswa di Jember. Usai sarapan saya masih bingung mau ke mana, balik ke kos sudah terlalu malas. Selain karena sepi, nantinya saya pasti akan berakhir terlelap juga. Akhirnya saya memilih ngopi sebentar sampai nanti merasa lelah dan mengantuk, lalu akhirnya menyerah untuk pulang ke kos.
Cafe Nugas adalah warkop pilihan untuk saya ngopi. Memesan Tubruk Robusta & Susu ditambah satu botol air mineral. Saya duduk di kursi pojok dekat tempat wudu dan musala. Lagi-lagi tidak banyak pengunjung, hanya ada beberapa orang saja. Satu orang perempuan duduk di lokasi yang sama dengan saya. Ia membawa laptop dan tampak berfokus dengan laptopnya. Dua orang lagi duduk di seberang kiri lokasi saya. Mereka sepasang kekasih muda yang tampaknya sedang dimabuk cinta. Terlihat dari gerak gerik mereka bercanda tawa saling melakukan physical touch sebagai love language. Dua orang lagi duduk di depan meja kasir. Mereka adalah bapak-bapak yang tampaknya sedang berdiskusi perihal program presiden ke-8, karena dalam obrolan mereka terdengar beberapa kata kunci seperti 'MBG', 'SPPG', 'Koperasi Merah Putih', hingga 'Sekolah Rakyat'.
Wireless Queue Calling System saya berbunyi menandakan pesanan sudah selesai dibuat. Sembari mengambil pesanan, saya juga meminjam asbak ke kasir. Kopi saya sudah siap di meja masih mengepul mengeluarkan asap, rokok juga sudah menyala. Suasana akhir tahun ini sangat teduh, padahal jam sudah menunjukan pukul 12.00 siang. Matahari tertutup awan, berkata dalam hati 'mungkin nanti malam hujan, seperti tahun-tahun sebelumnya saat pergantian tahun.' Headset terpasang dan saya memilih tenggelam dalam tayangan podcast yang ada di youtube.
Tak lama kemudian seseorang menyapa, "Mas nyileh korek e yo?"
"Opo, Mas?" ucap saya sembari melepas headset.
"Nyileh Korek, Mas.." tampak terkekeh.
"Woalah, nggeh, Mas. Monggo.." saya menyodorkan korek menanggapi.
"Sampean dewean ta, Mas?" seseorang itu bertanya.
"Iyo, Mas." jawab saya singkat.
"Aku yo dewean, Mas. Nggabung rene oleh ta? ben ora nyileh korek terus mas, lali nggowo aku." ucap seorang laki-laki tersebut terkekeh.
"Lho, ya monggo Mas, malah sueneng aku enek seng di ajak omong." pungkas saya.
Beberapa menit duduk bersama, kami terlibat dalam obrolan serius. Laki-laki ini bernama Iral, ia adalah pria yang berasal dari Surabaya dan sedang mengadu nasib di Jember. Bekerja pada perusahaan Jasa Kontraktor dan memiliki posisi yang cukup genting di perusahaannya. Sekilas awal menyapa, Iral layaknya pria usia 30 an biasa yang sudah memiliki istri dan dua orang anak dengan perekonomian stabil. Sebuah praduga umum saat melihat laki-laki dengan usia 30. Nyatanya, apa yang saya sangkakan ternyata benar-benar tak terbukti dan cenderung sangat berbanding terbalik.
Iral belum menikah, perihal menikah menjadi obrolan menarik karena dia sedang menggandrungi seorang perempuan yang membuat Iral suka tapi ia tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya. Perihal menikah sebetulnya bisa menjadi cerita panjang tersendiri. Oleh karena itu, akan saya ceritakan pada tulisan lain. Selanjutnya, perekonomian Iral juga tak sesuai prasangka, karena Iral sedang terjebak Pinjol senilai kurang dari 20 juta akan tetapi sudah lunas sebagian dan masih kurang 9 jutaan lagi untuk pelunasannya.
Gelas kopi dan rokok kami telah tandas pada cerita tentang percintaan yang diawali dari celetukan, "Umur 30 urong rabi? kate dadi opo?" Selanjutnya kami membagi tugas, Iral memesan kopi lagi dan saya membeli rokok di luar. Gelas kopi kedua, kami memesan kopi hitam bersanding rokok kretek Gajah Baru isi 16, tak lama kemudian hujan deras mengguyur. Sama seperti tahun sebelumnya, akhir tahun di Jember di sambut dengan guyuran hujan.
"Pie mas carane iso dadi manager?" tanya saya mengawali obrolan setelah kopi kami telah siap dan rokok kretek juga sudah di bakar. Iral hanya tersipu. Ia tidak menyahuti pertanyaan sampai 3 kali hisapan rokok. Baru dia mulai menceritakan segala tentang pekerjaannya.
Iral merupakan manager di sebuah perusahaan yang berfokus pada Jasa Kontraktor. Bisa masuk menjadi manager adalah hasil dari hasil rekom antar kenalan. Memasuki 2025 pada enam bulan terakhir, keuangan perusahaan Iral tidak baik-baik saja. Gaji yang harusnya turun dalam mingguan sempat tertunda beberapa kali. Tertunda tiga hari, seminggu, hingga dalam satu bulan hanya bisa sampai tiga kali gajian saja. Nominal yang diterima pun tidak sesuai dengan nilai harian yang seharusnya di dapatkan.
Gaji yang keluar hanyalah dengan nominal seadaanya uang perusahaan saat itu. Iral mengatakan, paling sedikit saat gajian pernah menerima 200.000 rupiah dan paling banyak adalah 500.000 rupiah, seringnya 300.000 yang dijumlahkan dalam 3-5 kali cicil dalam satu bulan. Jika ditotal dalam satu bulan seringkali gaji tidak benar-benar terlunasi secara perorangan. Sehingga otomatis terakumulasi pada bulan-bulan berikutnya.
"Kerja ndek perusahaanku itu enak, Mas. Rata-rata pegawai total gajinya sudah setara UMR Jember terbaru, itu belum menghitung lemburan yang biasa dikasih oleh bosnya." celetuk Iral sembari terkekeh.
"Lha terus masalah e opo, Mas? kok sampek pinjol sampean." ungkap saya dengan rasa penasaran yang tinggi.
Sebelumnya saya sempat berprasangka buruk terhadap Iral. Menurut saya, umumnya para pelaku pinjol ataupun judol seringkali berasal dari orang-orang yang tidak bisa mengendalikan gaya hidup, sehingga muncul kebutuhan berlebih melebihi sumber income dari masing-masing pelakunya. Gaya hidup yang membuat perorangan berubah karena terlalu mengikuti tren, sehingga tidak bisa mengendalikan diri. Iral mengaku, perihal pinjol memang murni dari kesalahan dia sendiri dan adanya pinjol sudah lebih dulu muncul sebelum kondisi perusahan tidak baik-baik saja.
"Aku pinjol kuwi gawe mbenakne pedah, Mas. Waktu kuwi dalam kondisi tiba-tiba ban motor bocor sobek harus ganti, gear set harus ganti karena putus, servis motor lalu turun mesin karena telat ganti oli dan kondisi tersebut datang pas aku gak pegang uang." ucap Iral kepada saya seperti sedang melakukan pengakuan dosa. "Tentunya juga karena kesalahanku yang selalu berusaha tampil 'punya' di hadapan orang-orang terdekatku, karena memang sifatku yang gaenakan." Iral menambahkan, mangaburkan imajinasiku menjadi seorang Romo dan Iral adalah umat saat sedang melakukan pengakuan dosa pada bilik Ruang Rekonsiliasi.
Kopi kami tinggal setengah, asbak sudah cukup penuh dengan putung rokok. Saya sempat menghentikan cerita Iral karena harus pamit ke kamar mandi buang air kecil. Setelahnya, karena lapar saya pesan snack di kasir. Menu Mix Rame-rame menjadi pilihan. Isiannya ada tempe mendoan, aci, singkong goreng dan tahu walik di letakan pada piring ceper putih porselen, di tengahnya ada saus sambal dan sambal kecap.
"Lha terus, piye pinjole sampean sejak kondisi keuangan sampean koyok ngunu, Mas?" aku ajukan pertanyaan untuk melanjutkan cerita Iral yang sempat terpotong.
"Tak kiro bakale cicilanku lancar, Mas. Gaji mingguan wes tak plotting gawe pembayarane. Sayange, keadaan perusahaan seng koyok ngene, di luar perkiraanku, Mas. Akhire pinjolku ga kebayar sesuai jatuh tempo." Iral mengatakan dengan lirih.
Iral mengatakan, memasuki bulan Juli, gaji beberapa kali sudah mulai tertunda. Berlanjut pada bulan Agustus, September dan Oktober. Pemasukan yang tidak baik-baik saja membuat Iral berusaha mencari cara untuk mengusahakan pembayaran sebelum Jatuh Tempo. Iral mengatakan, ia mulai menghubungi kawan-kawan terdekat. Ia tidak lagi menambah pinjol untuk menutupi pinjol, melainkan meminjam uang kepada teman SMA, Komunitas, Kuliah bahkan teman Ngopi.
Belajar merangkai kata dengan tujuan meminjam uang. Menjanjikan tanggal bayar secepat mungkin agar bisa diberi pinjaman. Memecah-mecah angka pinjaman, karena menurut Iral meminjam uang dengan nominal besar tidak akan ada yang mau meminjami. Mengembalikan uang pinjaman lebih awal dari janji tanggal pembayaran. Pun juga mengakrabkan diri pada kawan-kawan lama yang sudah lama tidak dihubungi.
Sesekali Iral juga mencari pekerjaan sampingan. Menambah pemasukan dengan bekerja freelance, juga cara-cara lain agar hutang pinjol bisa terbayar. Agar tidak muncul bunga dan denda karena tidak bisa membayarnya. Sampai pada bulan Oktober. Iral merasa apa yang biasa dia lakukan sejak bulan Juli dengan cara gali lubang dan tutup lubang sangat menguras emosi dan mentalnya.
Iral lelah harus terus meminta-minta. Beberapa orang kawan bahkan sampai mulai menghindar karena ia terlalu sering meminjam uang. Ia juga merasa malu ketika ada kawan yang meminjam balik, akan tetapi Iral tidak bisa membantunya. Sampai akhirnya Iral memutuskan untuk menyerah dan pasrah dengan keadaan. Menyiapkan mental bahwasanya akan mendapatkan teror SMS penagihan, telepon biasa bahkan telepon WA penagihan. Hingga pada keadaan di mana nomor kontak darurat akan dihubungi karena menganggap Iral berkelit musabab tidak segera melunasi tagihan pinjolnya.
"Juangkrek, Mas.. Mas.."
"Terus piye? Sopo ae seng kenek teror tagihane sampean?"
"Kok sampean ga kasbon ae ndek kerjoane sampean?"
"Trus yaopo, gajiane sampean nunggak piro?"
Rentetan pertanyaan mengalir begitu saja. Iral hanya terkekeh sembari memakan tempe mendoan dengan sambal kecap. Karena mungkin terasa pedas, cepat-cepat dia meminta izin minum air mineral yang saya beli. Penasaran dengan tingkat kepedasan, saya mencomot aci sembari mencocol sambal kecap. "Asin, Cuk!" saya mengumpat, Iral tertawa terbahak. Menurut saya sambal kecap tidak terasa pedas, malah merasa bahwa acinya terlalu asin.
Setelah selesai tertawa puas Iral kembali bercerita. Dia mengatakan memiliki tagihan pinjol dari 3 aplikasi. Diantaranya aplikasi oranye, aplikasi hijau dan aplikasi biru oranye. Aplikasi oranye kontak darurat terdaftar atas nama kawan akrabnya. Aplikasi hijau terdaftar atas nama adiknya. Aplikasi biru oranye dia lupa terdaftar atas nama siapa. Mereka semua mengaku sudah diteror oleh pihak aplikasi. Sehingga mereka mengkonfirmasi Iral terkait hal itu. Parahnya ada pada aplikasi biru oranye, karena menurut Iral pihak DC (Debt Collector) sudah sampai menemukan alamat kosnya, untungnya saat itu Iral sedang bekerja.
Terkait gaji perusahaan Iral juga mengaku pasrah. Dia tidak meminta kasbon, karena ada aturan tidak tertulis bahwasanya jika ada uang yang di utamakan adalah pegawai dengan status sudah berkeluarga. Otomatis Iral tidak termasuk di dalamnya. Namun, jika ada gaji turun, dia akan segera membayarkan pada tagihan pinjolnya. Meskipun nilai tagihannya sudah bertambah karena terakumulasi dengan denda dan juga bunga keterlambatan.
***
Waktu menunjukan pukul 22.00 beriringan dengan hujan yang mulai reda. Iral berpamitan untuk menjemput kekasihnya untuk merayakan akhir tahun bersama. Saya beruntung, tidak sampai harus menceritakan beban kehidupan kepada Iral. Padahal apa yang terjadi pada saya pun tak ada bedanya dengan apa yang sudah diceritakan Iral. Sekali lagi aku berhasil menutupinya dan terlihat biasa saja.
Menjelang 2026 hanya berharap apa yang sudah terjadi pada Iral bisa berakhir baik-baik saja dan bisa terselesaikan tanggungannya. Obrolan hari ini cukup menarik, sialnya saya lupa meminta nomor whatsapp Iral untuk agenda ngopi selanjutnya. Sebetulnya bukan lupa, melainkan terlalu malu. Karena saya rasa akan cukup aneh laki-laki meminta nomor laki-laki lain yang dikenal tanpa sengaja. Saya akhirnya memutuskan untuk pulang ketika jam sudah menunjukan pukul 23.00 malam. Sesampainya di kos ingin segera tidur karena tidak ingin seperti orang-orang lain yang melepas tahun 2025 dan menyambut datangnya tahun 2026.
