Selasa, 28 Oktober 2025

Menafsir Ulang Nilai Tradisional dan Hierarki dalam Sistem Pendidikan Pesantren


Pada akhirnya saya pun merasa jengah ketika banyak orang berkomentar tentang ‘praktik feodalisme yang ada di pesantren’. Memang pada dasarnya tidak ada larangan bagi setiap orang untuk berkomentar, dikarenakan pada beberapa pekan terakhir obrolan terkait pesantren tampak menarik untuk dibicarakan.

Hal tersebut berawal dari sebuah kejadian ambruknya bangunan pondok pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur pada 29 September 2025 bulan lalu. Bersambung pada komentar netizen terkait apa yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny, KH. Abdus Salam Mujib yang menyatakan bahwa kejadian itu adalah takdir Allah dan meminta semua pihak untuk bersabar serta berharap diberi ganti yang lebih baik. Berlanjut pada munculnya isu hoaks di mana Santri Al Khoziny diperintahkan untuk mengecor bangunan sebagai sebuah hukuman. Hal ini pada akhirnya memunculkan banyak pembahasan tentang pesantren yang merujuk pada tudingan adanya praktik feodalisme pada pesantren.

Dalam diskursus pendidikan Islam di Indonesia, pesantren sering menjadi topik yang menarik sekaligus kontroversial. Di satu sisi, pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan tertua dan paling berakar dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara. Di sisi lain, sebagian kalangan modernis mengkritiknya sebagai lembaga yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisional yang hierarkis dan dianggap berpotensi menumbuhkan praktik feodalisme dalam pendidikan. Pandangan ini muncul terutama karena adanya struktur sosial yang menempatkan kyai pada posisi yang sangat dihormati dan ditaati oleh santri. Namun, benarkah sistem hierarkis dalam pesantren identik dengan feodalisme?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu meninjau kembali secara logis dan proporsional apa yang dimaksud dengan nilai tradisional yang hierarkis dalam pesantren. Hierarki di pesantren pada dasarnya bukan bentuk kekuasaan sosial, melainkan struktur transmisi keilmuan dan moral. Dalam epistemologi Islam, ilmu tidak hanya dipandang sebagai produk rasional, tetapi juga memiliki dimensi etis dan spiritual. Kyai, sebagai figur sentral dalam pesantren, berperan sebagai penjaga sanad keilmuan—rantai transmisi ilmu dari guru ke murid yang memastikan kesinambungan nilai dan keotentikan ajaran. Karena itu, penghormatan kepada kyai bukan semata-mata bentuk pengkultusan individu sebagaimana dalam sistem feodal, melainkan pengakuan atas otoritas ilmu dan tanggung jawab moralnya.

Dalam konteks ini, hubungan antara kyai dan santri dapat dipahami sebagai hubungan fungsional dan etis, bukan relasi kekuasaan vertikal. Kyai dihormati bukan karena status sosialnya “di atas” santri, tetapi karena posisinya sebagai perantara ilmu, penjaga adab, dan teladan moral. Hierarki ini bersifat transformatif, karena tujuannya adalah membimbing santri agar suatu hari dapat berdiri sejajar dalam kapasitas keilmuan dan spiritual. Dengan demikian, nilai tradisional yang hierarkis di pesantren berfungsi menjaga stabilitas etika dan kualitas transmisi ilmu, bukan menekan kebebasan berpikir.

 

Isu berikutnya yang sering disoroti adalah ketaatan tanpa kritik, terutama dalam konteks ajaran ta’dzim terhadap guru. Banyak pihak luar melihat ta’dzim sebagai bentuk ketaatan mutlak yang membatasi critical thinking. Padahal, dalam tradisi pesantren, ta’dzim bukan bentuk penyerahan diri secara pasif, melainkan etika epistemologis. Santri diajarkan untuk menghormati guru bukan agar berhenti berpikir, melainkan agar memiliki kerendahan hati terhadap sumber ilmu.

Menurut pandangan ulama klasik seperti Imam al-Ghazali, ilmu tidak akan masuk ke hati yang sombong. Maka, adab kepada guru merupakan prasyarat bagi terbukanya pintu ilmu. Ta’dzim menjadi fondasi yang menyiapkan santri untuk berpikir secara jernih, bukan instrumen yang mengekang akal. Dalam praktiknya, pesantren justru mendorong santri untuk berpikir kritis setelah memiliki dasar adab dan pemahaman yang kuat. Sikap hormat kepada guru tidak meniadakan akal, tetapi menuntun akal untuk bekerja dalam kerangka tanggung jawab moral.

Ta’dzim dan critical thinking sebenarnya tidak berada pada dua kutub yang bertentangan. Ta’dzim menekankan aspek moralitas berpikir, sedangkan critical thinking menekankan aspek rasionalitas berpikir. Pesantren berusaha menyeimbangkan keduanya agar santri tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara etika. Dalam kerangka ini, berpikir kritis bukan berarti melawan guru, melainkan memahami guru dengan lebih dalam, dengan tetap menjunjung nilai-nilai adab.

Pandangan yang menyebut pesantren sebagai lembaga “feodal” juga sering gagal melihat bahwa di balik struktur hierarkisnya, pesantren memiliki tradisi intelektual yang sangat dialogis dan demokratis. Misalnya, melalui kegiatan halaqah dan bahtsul masail.

Halaqah adalah forum belajar di mana santri duduk melingkar bersama kyai atau ustaz untuk membaca kitab, mendiskusikan makna, dan bertukar pikiran. Dalam model ini, posisi kyai bukan sebagai penguasa mutlak, tetapi sebagai fasilitator ilmu. Santri didorong untuk mengajukan pertanyaan, menafsirkan teks, dan memahami konteksnya. Pola halaqah justru menunjukkan kesetaraan intelektual—bahwa setiap individu berhak memahami ilmu sesuai kapasitasnya, selama tetap berada dalam bingkai adab.

Begitu pula dengan bahtsul masail, forum musyawarah keagamaan di mana para santri dan ustaz mendiskusikan berbagai persoalan sosial, hukum, dan moral kontemporer. Di forum ini, argumentasi menjadi inti. Santri diajarkan untuk berargumen berdasarkan dalil, menyusun pendapat dengan metodologi yang sistematis, dan mempertahankan gagasannya di depan rekan-rekannya. Bahtsul masail adalah bukti nyata bahwa pesantren tidak menutup ruang kritik, melainkan mengarahkan kritik agar tetap berbasis ilmu dan adab.

Kedua praktik tersebut menegaskan bahwa struktur hierarkis dalam pesantren bersifat fungsional, bukan ideologis. Hierarki diperlukan untuk menjaga tatanan dan tata cara penyampaian ilmu, tetapi ruang dialog dan perbedaan pendapat tetap terbuka luas. Dengan kata lain, pesantren memiliki sistem yang “tertib tapi terbuka.” Struktur sosialnya mungkin tampak tradisional, tetapi mekanisme intelektualnya sangat modern: santri didorong untuk berpikir, berdiskusi, dan menyimpulkan secara rasional, dengan tetap menghormati guru sebagai penjaga moralitas diskursus.

Seiring perkembangan zaman, banyak pesantren kini juga menerapkan nilai-nilai modern seperti kesetaraan, transparansi, dan akuntabilitas dalam sistem pengajarannya. Beberapa pesantren telah membuka ruang bagi santri perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam forum ilmiah, melibatkan santri dalam manajemen lembaga, dan memperkenalkan pendidikan berbasis riset. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas bukan dua hal yang saling meniadakan, tetapi dapat bersinergi dalam sistem pendidikan Islam.

Nilai tradisional yang hierarkis dalam pesantren berfungsi sebagai pondasi moral dan spiritual, sedangkan nilai-nilai modern seperti kesetaraan dan rasionalitas menjadi alat pengembangan dan inovasi. Pesantren yang mampu menjaga keseimbangan antara keduanya akan melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga berkarakter kuat dan berintegritas.

Karena itu, labeling terhadap pesantren sebagai lembaga feodal sebenarnya bersumber dari kesalahpahaman konseptual. Feodalisme berbasis pada sistem kekuasaan yang memaksa, sedangkan hierarki pesantren berbasis pada sistem nilai dan ilmu. Dalam feodalisme, bawahan tunduk karena takut kehilangan akses terhadap kekuasaan; dalam pesantren, santri taat karena menghormati ilmu dan mencari keberkahan. Perbedaan mendasar inilah yang menjadikan sistem pesantren unik dan tak dapat disamakan dengan model feodal klasik.

Selain itu, pesantren juga mengajarkan keseimbangan antara akal dan hati. Santri tidak hanya belajar memahami teks, tetapi juga menginternalisasi makna di balik teks. Mereka diajarkan untuk menempatkan Al-Qur’an dan rasionalitas di atas figur guru, tetapi tetap menjadikan guru sebagai penuntun moral agar pemahaman tidak liar dan kehilangan arah. Dalam konteks ini, sistem pesantren sesungguhnya telah mengajarkan bentuk critical thinking yang beretika—berpikir kritis tanpa kehilangan adab.

Pada akhirnya, sistem hierarkis dalam pesantren justru dapat dipandang sebagai model etika kepemimpinan dan pembelajaran yang khas Nusantara. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara otoritas moral dan kebebasan berpikir. Kyai dihormati karena menjadi simbol integritas, bukan karena kekuasaan. Santri patuh karena mencari ilmu dan keberkahan, bukan karena terpaksa tunduk.

Dengan demikian, nilai tradisional yang hierarkis dalam pesantren seharusnya tidak dipahami sebagai bentuk feodalisme, tetapi sebagai sistem nilai yang mengatur bagaimana ilmu ditransmisikan dengan adab, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Pesantren bukan ruang yang mengekang akal, melainkan ruang yang menumbuhkan akal dengan landasan moral. Dalam sistem ini, penghormatan dan kebebasan bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua sisi dari satu kesatuan nilai: berpikir kritis dengan adab, dan beradab dengan nalar.

“Di pesantren, berpikir kritis tidak berarti melawan guru, melainkan memahami guru dengan lebih dalam—karena akal yang sehat lahir dari adab yang kuat.”

Kamis, 23 Mei 2024

Buku Cerita Baru di Tahun 2024


Tiba-tiba dia berkata...
"Buku yang aku tulis kisahnya pada januari 2024 dengan terpaksa harus segera aku sudahi. Sudah tidak ada tokoh yang bermain di dalamnya. Tokoh pada cerita telah bermanuver membuat cerita baru dengan kisah yang lain. Semakin meneruskan bukunya, hanya akan memunculkan hampa. Tidak ada lagi kisah cerita melalui rasa yang di tulis dengan indah. Hanya pengulangan kegiatan dari si tokoh dalam menjalani hidup saja."

Sepertinya harapan bahwa buku itu bisa berumur panjang pun pupus. Sebab buku tutup tepat saat hari lahir penulis. Tidak ada yang menyangka, pun penulis juga tidak mengira. Alur kisah tersebut harus disudahi. Karena bukan hal mudah menyusun penutup cerita pada kisah yang belum siap untuk di akhiri.

Namun, keadaan berkata lain. Jika sudah berani memetik indahnya bunga mawar, harus siap pula dengan durinya yang berada pada tangkai. Entah akan tertusuk, ataupun tergores. Sebab sakit adalah bagian dalam menikmati keindahan pada bunga mawar tersebut. 

Penulis berkata dia sudah terlalu berat untuk melanjutkan kisah. Meski, usia cerita di dalam buku tersebut masih terhitung muda. Ala-ala tipikal pacaran masa muda yang biasa orang kenal dengan sebutan cinta monyet. Apa yang dia sampaikan benar adanya. Terlihat dari beberapa kali dia memegang kepala. Saat kehilangan paragraf pada kisahnya.

Lucu menurutku. Tapi air mukanya tidak tampak harus ada yang ditertawakan. Sampai ketika mata kita beradu pandang. Suwung. Aku melihat kekosongan pada matanya. Ingin sekali menghiburnya, akan tetapi terlihat bukan itu yang sedang dia butuh. Beberapa kali pada buku tersebut dia mencoret-coret kasar halamannya. Sesekali membantingnya. Hingga menghempaskannya lalu dia ambil kembali berusaha menyelesaikan penutup dari ceritanya.

Ingin aku usik untuk mengalihkan fokusnya. Berusaha untuk menghibur dari apa yang sudah membuatnya penat. Ingin kutanya pula perihal apa yang membuatnya begitu berat. Mungkin, dengan berbicara denganku dia bisa berdiskusi ihwal kebingungan atas kisahnya. Tapi, aku juga tidak bisa menjamin, apakah aku bisa membantunya guna memahami permasalahannya. Bagaimana jika tidak? Malah hanya merepotkannya saja. 

"Aku bingung bagaimana menutupnya. Tokoh utama sudah terlalu sakit menghadapi pasangannya. Dia sudah terlalu sering menelan pahit dan kekecewaannya. Sebab terlalu banyak mengalah atas apa yang tak seharusnya dia merasa perlu untuk mengalah. Dia berusaha tegas, tapi terlalu takut menyakiti pasangannya."

"Pasangannya terlalu naif, terlalu anjing jika aku bisa mengatakannya. Entah mana yang benar. Semua kesalahannya tak merasa di akui. Dia merasa benar atas apa yang dilakukannya. Tanpa merasa salah telah mengecewakan pasangannya. Baginya, tujuannya hanyalan mencari aman atas dirinya dan atas apa yang dia rasa." 

Penulis tiba-tiba berteriak tanpa arah. Menceracau bagaimana dia bisa memulai kisah seberantakan itu. Mengenai tipikal sifat manusia yang mungkin juga benar pernah dirasakan para manusia. 

Melalui apa yang sekilas aku dengar. Penulis tampak sudah memihak kepada salah satu tokoh. Sehingga apa yang dirasakan tokoh utama, seakan dia rasakan juga. Ingin ku membalas teriakannya. Namun, tetap aku bergeming sembari meneguk kopi. Meski ada rasa ingin untuk menghardiknya. 

"Kini semua telah usai. Selamat kepada tokoh utama. Engkau telah berani mengambil sikap atas pesakitan yang telah dirasakan. Meski harus menelan pahit tiada lagi kisah asmara bersama pasangannya."

"Melalui kenangan tokoh utama akan mencoba untuk menyembuhkan diri. Memulihkan rasa. Menetralkan perasaan yang sudah kacau balau dirasakannya. Segala benda menjadi saksi akan apa yang harus dia kenang. Spion, musik, pendakian, suara, nyanyian, helm berstiker one piece, jarak jauh dalam pertemuan. Hingga tersirat wajah manis pada pertemuan terakhir." 

Dia berkata padaku, "Kisah ini telah usai kawan. Sepertinya aku tidak akan lagi menulis tentang kisah seperti ini lagi. Cukup aku menelan pahit atas apa yang aku tulis. Pada nasib setiap tokoh yang harus merasakan kekecewaan. Melalui alur yang sebab diriku dia menjadi sehancur ini."

"Akan tetapi, aku ingin pada cerita selanjutnya, tokoh ini bisa merasakan kehidupan seperti yang dia harapkan. Merasakan kebahagiaan kepada orang yang dia pilih untuk halalkan. Karena harus melalui perjalanan ini dia bisa mendapatkan pelajaran. Meski itu benar-benar menyakitkan."

Selanjutnya, aku hanya berkata datar menanggapi. "Semoga, dia tidak mati terlebih dahulu sebelum merasakan itu." Sembari berjalan menuju pintu rumahnya. Lalu pamit untuk pulang.[]

Rabu, 22 Mei 2024

Kepala Tiga Tiada Berguna


    Hari ini bukan hari yang istimewa, tapi saya merasa perlu untuk menuliskannya. Tepat pada tanggal ini usia saya bertambah, lebih tepatnya adalah masa hukuman saya di bumi ini berkurang satu tahun, sejak kelahiran saya pada tahun 1994. Batin saya berkeluh kesah;

"Sudah 30 tahun, kok ya masih begini-begini saja. Tidak ada perubahan signifikan pada tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada pencapaian yang bisa di banggakan. Hidup masih juga sendirian. Pasangan yang selalu menemani pun tidak ada. Pendapatan finansial tidak ada kemajuan. Hutang malah semakin meraja lela. Pendapatan belum bisa mengcover kebutuhan rumah, hanya mampu mengcover kebutuhan pribadi saja."

 "Belum bisa mengatur waktu. Belum bisa mengurus diri. Tabungan tidak punya. Pekerjaan pun belum benar-benar disenangi. Hidup melulu hanya ngopi sana-sini. Hingga pertanyaan saudara kapan menikah pun tidak bisa dihindari. Kok, rasanya hidup sudah tidak ada faedahnya. Hanya memenuhi jalanan jadi bikin macet saja."

"Perihal ibadah juga hanya begitu saja. Salat lima waktu sama sekali tidak bisa dijaga. Puasa wajib malah bolong seminggu lamanya. Merasa ada Tuhan, tapi hanya ingat dikala susah saja. Mau meminta dan memohon kalo sudah berada di tengah-tengah masalah. Ketika salat malah tidak berminat untuk berdoa. Selalu merasa susah, padahal usaha diri sendiri pun belum maksimal. Ingin semuanya berjalan sesuai yang di inginkan. Namun, syarat dan ketentuan tidak bisa dilakukan. Malah hanya bisa mengeluh dan meratap." 

    Ulang tahun kali ini berharap tidak ada yang ingat. Bahkan saya sendiri berkeinginan untuk tidak ingat. Ingin semuanya berjalan biasa saja dan terlewat begitu saja. Merasakannya pun saya seperti sudah kehilangan minat. Ujungnya, berimbas pada kerjaan hari ini. Saya jadi hanya menyibukkan diri tanpa benar-benar mengerjakan pekerjaan. Oleh karena itu, saya buka blog ini untuk berkeluh kesah.

    Tapi, keinginan untuk melupakan hari lahir seakan menguap. Ibuk mengirimkan pesan melalui whatsapp, pagi ini pukul 05.36. Pesan tersebut berisikan doa-doa baik perihal rejeki dan ditutup dengan doa agar bisa segera mendapatkan jodoh. Begitulah ibuk, ia adalah reminder saya tentang apa pun dan apa saja. Tentunya perihal hari lahir anak-anaknya pun ia tak akan lupa. Namun, selalu ada debat dalam diri saya ketika menyatakan hal itu. Sebab, tidak semua anak beruntung seperti saya yang memiliki ibu seperti ibu saya.

    Ingin rasanya membalas panjang pesan dari ibuk. Menyampaikan segala unek-unek, tapi yang terkirim hanya; "Nggeh, Buk. Maturnuwun."

    Lagi-lagi dihadapan Ibuk saya tidak bisa berkata-kata. Selalu menjadi yang sangat sulit diutarakan meski sejatinya ingin sekali untuk mengeluarkannya. Mungkin, baiknya saya tulis saja di sini. Biarlah orang lain yang membacanya. Meski Ibuk tidak serta merta bisa mengetahuinya juga. 

"Buk, ngapunten nggeh. Saya masih belum bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan. Tidak ada dari perjalanan hidup saya bisa ibu ceritakan dalam obrolan bersama orang lain, pun bersama keluarga. Meski sejatinya saya tahu, banyak diantara para tetangga maupun keluarga selalu bertanya perihal bagaimana kabar saya, hingga berlanjut pada obrolan kapan saya menikah. Sejujurnya, jika pun Ibuk bertanya, dihadapanmu pun saya tidak akan bisa menjawabnya. Melainkan akan saya jawab dengan tawa dan tersenyum saja. Entah, bagaimana persoalan ini bisa begitu sulit buat saya, Buk."

"Acap kali saya berharap, ada sosok ayah. Di mana mungkin ia bisa mengarahkan saya dan berbicara serius perihal obrolan tentang laki-laki. Ingin sekali saya menanyakan semuanya. Tentang menikah, wanita, finansial, tanggung jawab dan segala hal yang bisa mengikis ketakutan dalam kepala saya sehingga membuat saya menjadi seperti ini. Saya tahu, Buk. Banyak sekali para penceramah atau motivator atau penulis kata-kata yang menyampaikan bahwa tidak perlu takut dengan menikah. Namun, tetap saja otak manusia tidak meresponnya dengan baik, malah memunculkan ketakutan perihal apa saja."

"Saya pun paham. Bertambahnya usia, sudah tentu juga setara dengan bertambahnya usiamu, Buk. Ada banyak harapanmu kepada saya perihal usia itu. Melihat semua sepupu sudah settle dengan kehidupannya, bersama para suami dan istri mereka, bersama anak-anak mereka yang kini telah memanggilmu dengan sebutan "Mbah", bersama dengan segala finansial yang dimilikinya. Selanjutnya kau melirik dan saya yang masih seperti ini adanya. Sekali lagi, maafkan saya, Buk." 

"Doa saya pada usia ini, hanya berharap agar engkau sehat selalu, Buk. Berharap agar engkau bisa terus membersamaiku sampai kelak saya menikah hingga bisa menimang cucu-cucu mu. Ingin sekali bisa melihat kerlingan matamu saat sedang mengasuh anak-anak saya. Versi kecil saya yang bisa melukiskan senyum di wajahmu kala mengingatku dulu. Terima kasih untuk semuanya, buk. Terima kasih masih bisa membersamaiku hingga pada usia ini." 

    Sudah kepala tiga, semoga perjalanan saya kedepan yang dimulai dengan angka tiga, selalu memberikan kesan baik dan manfaat terhadap orang-orang sekitar. Tidak ada harapan muluk, hanya ingin bisa membahagiakan keluarga dan membahagiakan diri sendiri. Menghindari hal-hal yang sia-sia. Memperbanyak aliran pemasukan, hingga bisa menabung dan menikah. Tidak akan mudah memang, tapi doakan saya bisa melewatinya meski sementara ini harus sendiri dulu. Satu obrolan yang pernah saya sampaikan kepada Bill kawan saya;

Saya: "Awakmu eruh, apa yang saya takutkan kala nanti sudah tiada?"
Bill: "Opo, pek?"
Saya: "Aku wedi ga enek seng ndungakne aku, Bill. Mergo aku uduk wong apik dan uduk koncone wong-wong apik. Awakmu ojok lali dungakno, aku lho."
Bill: "Iyo nek awakmu, sek. Nek aku sek, yaopo? nek awak dewe mati bareng, yaopo?"
Saya: "Cok, cangkeme. Amit2 ya allah. Ojo mati sek, aku ga siap, Su..!!!"

 

Senin, 04 Desember 2023

Bahagia itu Hari Ini, Tak Perlu Harus Menunggu Nanti

 


“Hanya satu cara untuk bahagia, yaitu dengan berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kuasa kita.” –Epictetus

Sampai sejauh ini usiaku (tepatnya hampir mencapai kepala tiga), belum benar aku pahami tentang apa itu bahagia. Entah sebab egoku terlalu tinggi, atau mungkin tingkatan kepekaanku memang tumpul. Hanya saja, yang aku pahami adalah aku tidak pernah memusingkan segala sesuatu yang sama sekali tidak ada kaitannya denganku. Selama itu tidak mengganggu, aku pun tetap akan merasa damai dengan duniaku. Meski, aku paham tak selamanya hidup bisa seacuh itu.

Tentunya dalam satu atau dua kali, tetap saja kita akan pernah merasa terganggu, meski sudah sangat acuh. Pada tahap ini, kita tinggal memilih. Seperti halnya, melonggarkan toleransi untuk mengalah dan tidak peduli. Atau meladeni dan memprotes, lalu pada akhirnya terlibat dalam debat kusir sebab permasalahan yang salah tafsir.

Begitulah perjalanan hidup. Kita perlu memberi garis pada batas-batas kehidupan yang bisa membuat kita paham. Mengenai sampai batas mana kita boleh melihat, mendengar, dan berbicara. Sebab kita hidup tidak hanya berkaitan tentang hal-hal pribadi, tetapi juga menyangkut kepentingan komunal.

Selain batas, kita juga harus pandai dalam membuat lingkaran. Sebuah lingkaran yang kita bagi dua, untuk menentukan mana lingkaran dalam dan mana lingkaran luar. Lingkaran dalam adalah tentang hal-hal yang masih ada dalam jangkauan kita. Bisa kita sentuh, kita gapai, kita atur dan kendalikan. Semuanya terserah bagaimana kita sebagai usernya.

Selanjutnya adalah lingkaran luar. Mengenai segala hal yang entah itu menyangkut kita ataupun tidak, di mana hal-hal tersebut sudah berada di luar jangkauan kita. Sekali lagi, ‘di luar jangkauan’. Oleh karena itu, tak semestinya kita begitu merasa pusing dan terganggu atas hal-hal yang berada di luar jangkauan kita. Meski, seringnya tidak sedikit yang tidak bisa lepas dari itu. Memusingkan segala sesuatu yang seharusnya juga tidak perlu kita pusingkan. Membingungkan apapun yang juga tidak harus kita bingungkan.

Tapi, sadar tidak? Manusia memang serumit itu. Seperti kata orang, bahwasanya manusia adalah makhluk yang kompleks. Bukan kompleks terkait yang ada pada luar manusia. Melainkan kompleks pada si manusia itu sendiri. Tak jarang seringkali kita selalu kalah dengan apa yang kita pikir. Kita menjadi minder, ragu, takut, apapun itu padahal sebetulnya hal tersebut yang menjadi hambatan nyata untuk kemajuan diri.

Harusnya bisa kita kontrol, tetapi tidak kita hiraukan. Malah apa yang tidak bisa kita kontrol, selalu kita pedulikan. Jika bisa kita tela’ah lebih lanjut. Mengenal diri merupakan hal yang penting untuk kita bisa paham, bagaimana mengatur apa yang bisa kita atur dan hal yang tidak bisa kita atur. Karena dengan mengenal diri sendiri kita jadi tau batasan-batasannya. Sehingga, untuk memilih atau mencapai kebahagiaan bukanlah hal sulit. Sebab, kita tahu apa yang kita butuhkan untuk bahagia. Jika sudah tahu, tentunya kita akan paham apa yang perlu kita lakukan dan bagaimana melakukannya.

Hal terakhir yang perlu kita benahi adalah, kebahagiaan bukanlah hal yang bisa kita bandingkan, sebab takaran kebahagiaan setiap orang yang tidaklah sama. Oleh karenanya, bahagiamu belum tentu menjadi bahagia mereka. Pun kebahagiaan mereka, belum tentu juga menjadi bahagiamu juga. Ingat, jangan lupa bahagia karena bahagia itu hari ini, tak perlu harus menunggu nanti.[]