Backpacker adalah jalan untuk merasakan apa yang belum pernah aku rasakan, mempelajari segala hal yang belum pernah aku tahu dan mengenang semua waktu yang pernah kulalui. Pada sebuah perjalanan kehidupan. Menulis untuk keabadian.
Jumat, 25 Februari 2022
Story Behind
Selasa, 01 Februari 2022
Definisi Tolol
Sabtu, 04 September 2021
Absurd
Repetisi
Hai, Pak apa kabar?
Sebesar ini, aku masih saja rindu..
Ketika kau mentraktirku makan, saat aku pulang ke rumah..
Sebesar ini, aku masih juga sering iri..
Kepada mereka saat dimarahi oleh bapaknya sebab rokok..
Sebesar ini, aku benar-benar iri..
Saat melihat mereka bisa berangkat bersama bapaknya, kala Sholat Jumat..
Dulu, ingin rasanya bertanya bagaimana kisah romantismu dulu..
Bagaimana saat bertemu Ibuk..
Bagaimana proses perkenalan kalian..
Pacaran..
Hingga memutuskan untuk menikah..
Bahkan ingin kutahu, berapa usiamu saat itu..
Ketika kau memutuskan untuk datang melamar Ibuk..
Tapi, entah..
Sepertinya pun ini hanya anganku..
Ketika kau ada, aku tak pernah sedekat bisa duduk bersamamu..
Meski bersama, tak pernah ada percakapan tentang aku ataupun tentangmu..
Akhir-akhir ini sering kuberfikir..
Tak ada lagi tempat untuk berbicara bahkan berdiskusi..
Kepada siapa kelak bisa kubertanya tentang pernikahan..
Kepada siapa penguat keyakinan kala aku ingin datang untuk melamar pasangan..
Apa yang aku rasa, seakan sudah tidak ada penahan..
Siapa saja yang melarangku pun tak pernah aku hiraukan..
Aku dulu sangat berharap kebebasan..
Tapi sekarang..
Terlalu bebas pun membuatku bosan..
Pak, apapun keputusanku..
Semoga kau di sana juga setuju..
Meski aku tidak bisa menjadi inginmu..
Aku akan membuatmu bangga dengan versiku..
Jumat, 13 November 2020
Sepatu Bapak
Rabu, 22 April 2020
Sebut Saja Uji Coba Kesabaran
Folder No. 92
Minggu, 06 Agustus 2017
Nestapa
Menabur kesedihan demi menuai perhatian
Hanya karena rasa kesepian
Kekosongan yang saat itu juga sedang dirasa
Hingga akhirnya menyalahakan sang waktu..
Waktu terus berjalan dan tanpa ada pelajaran yang bisa aku ambil
Hanya membiarkan lewat begitu saja..
Terjebak kenyamanan hingga satu persatu pamit untuk kembali pulang
Hanya berteriak teriak kesana kemari..
Mengaduh kepada siapapun yang peduli
Mencari perhatian demi mengisi kekosongan akan sepi
Terjebak sang waktu bukan hal yang mudah..
Dimana menjadi saksi bisu datang dan pergi
Datang membawa kebahagiaan saat itu lalu pergi dengan kerinduan tanpa temu
Sekali lagi merasa sepi..
Aku saja tak tahu apa ini yang sedang aku rasa
Kadang bahagia.. kadang sedih.. kadang marah tanpa henti..
Merasa sepi.. tanpa bisa merubah diri..
Sepi tak terarah.. berlari lagi menghindari..
Namun sepi lagi yang aku temui..
Kamis, 22 Desember 2016
Dia yang Aku Panggil Ibuk
![]() |
| Lokasi : Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri Depok, 29 Mei 2014 Diambil saat sedang ziarah wali songo |
Buk..
pie kabare samean?
sehat tho..
samean masak opo buk...
wes maem durung samean mau?
nek durung, samean ndang maem...
ojo lali istirahat... ojo kesel2 samean iku...
Buk..
sepurane nggeh..
sampek akhir tahun niki kulo dereng saget damel bapak ibuk bangga...
dereng saget damel samean seneng...
kuliah molor... dereng lulus2 padahal kancane pun podo katah seng lulus.
sepurane nggeh buk...
kulo dereng saget mbantu perekonomian keluarga...
malah nggawe soro samean kale bapak... gara2 kuliah molor...
Buk..
sekedik maleh...
sekedik maleh nggeh samean entosi... mantun niki kulo lulus...
nggeh nek saget mboten sekedik... tapi nggeh sak terus e...
amergo kulo nggeh iri kale rencang2 kulo.
pengen samean ndugi ten wisuda kulo...
pengen samean ngertos mbesok damel ngerestui kulo rabi...
pengen samean saget nggendong putu samean...
Buk...
ngapunten nggeh buk...
ngapunten sing kuatah... kulo nyesel, dereng lulus2 sampek ayah mboten wonten...
Buk...
samean sing kuat nggeh...
sehat terus...
kulo mung saget sms...
mboten wantun ngomong langsung...
ngapunten nggeh buk...
Selamat Hari Ibu...
Ini merupakan pesan yang sempat saya kirimkan ke Ibuk pagi ini. Saya tahu ibuk pasti belum membuka hp untuk membaca pesan ini. Biasanya jam segini ibu sedang sibuk mempersiapkan botokan untuk dititipkan di pasar tradisional terdekat, meracik es sinom, gorengan untuk di jual di depan rumah, dan beberapa botol bensin yang kosong untuk di isi. Bangun pukul 03.00 dini hari setelah sholat sampai pukul 10.00 pagi, setelah itu duduk menunggu pembeli gorengan dan bensin di depan rumah. Kegiatan baru ibuk setelah ayah pergi. Terkadang warung belum sampai buka banyak pembeli yang sudah memesan, 5 ribu sampai 10 ribu. Es Sinom dan gorengan molen ibuk paling laris diserbu pembeli, sehingga masih belum buka sudah habis di pesan orang.
Akhir-akhir ini memang sering saya berkirim pesan dengan ibuk. Berbicara soal masakan ibuk sampai kegiatan yang saya lakukan setiap harinya. Sedikit cerita tentang ibuk, ibuk saya sosok yang benar-benar sangat mandiri. Semua hal yang bisa dikerjakannya akan dikerjakan sendiri. Seperti beberapa hari yang lalu, ibuk memotong sendiri pohon buah srikaya di depan rumah menggunakan golok. Anehnya mungkin karena kekuatan ibuk terlalu besar golok tersebut sampai lepas dari pegangannya. Saya hanya bisa heran membaca pesan dari ibuk sebab saya masih posisi di Jember.
Foto di atas merupakan foto Ibuk dan Bapak saat melakukan perjalanan ziarah wali sembilan, berlokasi di Masjid Kubah Emas Depok. 29 Mei 2014 tahun kemarin. Mereka berdua layaknya muda-mudi yang lagi pacaran. Sebab waktu bapak dan ibuk berangkat ke wali songo saya sedang berada di Jember dan adik ada di pondok Jombang.
Jika saya di rumah, sering saya membayangkan foto mereka berdua sembari mengenakan kain ihram. Seperti yang mereka berdua cita-citakan, sehingga membuat mereka berdua mendaftar dan menabung untuk mewujudkannya. Namun apa daya, harus menunggu beberapa tahun bapak dan ibuk baru bisa berangkat. Sampai Tuhan berkata lain memilih untuk segera bertemu bapak. Terkadang saya heran kenapa antrian harus begitu panjang.
Ibuk dan Bapak... Saya kasih tahu. Mereka berdua merupakan pasangan sederhana yang sangat romantis. Candaan mereka saat dirumah terkadang membuat saya rindu. Saling berbalas kentut, saling ejek sebab rambut sudah mulai banyak tumbuh uban, saling ejek gara2 sudah mulai pikun. Entahlah.. saya tak kuat mengingatnya. Sering kali sikap mereka membuat saya heran. Pernah suatu ketika mendapat undangan resepsi pernikahan dari salah satu saudara. Sampai di tempat parkir Bapak dan Ibuk baru sadar acara resepsi di adakan di sebuah gedung mewah. Beberapa pengunjung menggunakan Jas dan Gaun2 cantik lainnya. Sedangkan Bapak hanya mengenakan sarung dengan baju batik dan berkopyah, Ibuk memakai setelan baju daster bepergian tak jauh beda seperti yang ada di foto. Parahnya Bapak salah memakai sendal jepit -kebiasaan bapak sebab matanya sedikit kabur saat gelap-. Akhirnya mereka pulang dan berkata ke penjaga parkir mereka kesasar.
Ibuk.. ingin sebenarnya saya untuk memeluknya saat di rumah. Namun dasarnya saya memang pemalu, hal itu jadi hanya keinginan saja. Akhir-akhir ini saya sering merindukannya. Saya selalu berdo'a semoga ibuk bisa kuat. 40 harian ayah kemarin ibuk masih belum mampu untuk pergi ke makam bapak. Melalui bapak dan ibuk saya benar-benar belajar banyak. Bagaimana itu perpisahan sampai indahnya suatu hubungan kesetiaan yang abadi. Bukan layaknya pemuda pemudi atau abg-abg labil yang setelah putus lalu update status mewek, nangis di medsos. Atau mbribik kata2 galau takut perpisahan dan ditinggalkan. Lebih dari itu... sulit untuk menjelaskannya.
Hanya ini yang bisa saya tulis untuk ibuk. Selebihnya masih saya buat proyek tulisan yang menceritakan lebih lengkap tentang sosok bapak dan ibuk. Semoga akhir tahun ini bisa selesai. Untuk sekarang hanya do'a, do'a dan do'a yang bisa saya lakukan dan berikan. Agar Tuhan bisa selalu menjaga ibuk saya dan menempatkan bapak di tempat yang terbaik. Amin. Tabik. []
Rabu, 14 September 2016
Peninggalan Tanpa Wujud
Lanjutan tulisan saya yang berjudul pesan whatsapp. Baru saja saya bangkit dari kemalasan yang mendera akhirnya bisa menulis lagi. Tulisan ini, jika bisa saya dedikasikan untuk ibu beribu terimakasih atas apa yang telah engkau berikan. Terucap rasa syukur atas apa yang telah engkau ajarkan. Satu pelajaran penuh arti, pelajaran untuk bertahan hidup.
Di tulisan sebelumnya saya mengakhiri tulisan dengan menuliskan telah diterima bekerja di sebuah cafe. Berikut kelanjutan kisahnya. Saya bekerja sejak tanggal 15 Maret 2016 masih teringat dengan jelas. Cafe tersebut letaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal hanya sekitar 15 menit berjalan kaki. Saya diterima bekerja sebagai seorang pelayan, mengantarkan gelas demi gelas disetiap meja sesuai permintaan pelanggan. Nampaknya memang bukan pekerjaan yang sulit namun disini lah kisah ini berlanjut.
Saya adalah seorang pelayan cafe sejak bekerja di cafe tersebut. Cafe Cangkir Kita terletak di jalan tidar berdekatan dengan Zona Futsal. Jika waktu senggang mempirlah mari untuk meneguk segelas kopi dan menikmati malam. Sebagai seorang pelayan job dis saya tidak banyak namun sedikit berat serta memerlukan banyak tenaga dan kesabaran. Cangkir memiliki 4 pegawai semuanya laki-laki diantaranya ada Kasir, Barista, Koki & Pelayan. Jam kerja saya dari pukul 19.00 sampai pukul 01.00 atau bahasa lainya sampai cafe tutup. Saya memang bekerja sebagai pelayan namun tugas utama saya adalah sebagai tukang cuci gelas-gelas kotor. Jangan bingung itu termasuk dalam satu paket job dis saya.
"Jika ada banyak gelas kotor kamu fokusnya nyelesaikan gelas-gelas tersebut, nanti ngantarkan makanan dan minuman di tanggung bersama" perkataan Mas Yopi salah satu owner Cangkir saat hari pertama saya training kerja. Seperti yang saya katakan tidak banyak job dis saya. Mencuci gelas-gelas kotor yang menumpuk, mengantarkan makanan dan minuman saat cucian sudah selesai, mengambil satu per satu gelas di meja meja yang sudah di tinggalkan dan terakhir membantu pegawai lain untuk menutup Cafe.
Hari pertama bekerja saya disambut dengan setumpuk cucian gelas kotor. Hari hari berikutnya hal tersebut menjadi terbiasa, dalam sehari saya dapat menghasilkan 3-5 bak besar penuh yang biasa digunakan untu mencuci pakaian (saya tak tahu indonesianya). 1-2 bak sebelum jam malam mendekati close order, 2-3 bak dari pukul 23.00 sampai jam close order 24.00 WIB. Hari pertama masih tak terasa, seminggu pertama baik-baik saja, seminggu kedua mulai terasa lelah, sampai sebulan pertama saya berhasil untuk melewatinya.
Perjalanan satu bulan pertama banyak keluh kesah dalam hati yang harus saya lalui. Bekerja itu lelah, mencari uang itu susah, disitu saya menyadari dan mempelajarai banyak hal. Suatu ketika -saat sedang menghabiskan banyak cucian- pernah terlintas dalam benak saya bahwa mencuci piring dan gelas adalah pelajaran yang di ajarkan ibu saya saat mulai beranjak dewasa. Saya lupa tepatnya umur berapa saya mulai di ajarkan untuk mandiri. Membantu mencuci piring dan gelas di rumah, membersihkan rumah, mencuci baju dan masih banyak yang lain. Sekilas saya teringat apa yang ibu ajarkan. Ada haru disana. Peninggalan tanpa wujud, kemandirian. Peninggalan yang membuat saya bertahan dalam usaha mencari satu-dua lembar uang saku tambahan. Saya bersyukur, terimakasih buk.
Sepinya pasar ayah membuat ibu, adek dan saya harus mencari tambahan meringankan keuangan keluarga. Ibu dengan pekerjaanya di usaha rumahan pembuatan kursi. Adek dengan menjual es lilin (ini membuat saya haru tertahan saat mendengar cerita dari ibu) agar bisa mendapat tambahan uang saku. Saya bekerja di cafe untuk mencari tambahan uang saku juga, sebab adek dan saya tidak setiap saat bisa mendapatkan uang saku (tapi orang tua kami selalu mengusahakan agar tetap bisa memberi uang saku). Heran, ada saat dimana saya sedang bekerja teringat ibu, ayah dan adek yang sama-sama bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Ingatan itu seperti kilasan film yang berjalan menampakan wajah teduh mereka, lelah, senyum semua bercampur menjadi satu memunculkan rindu.
Sampai saya menuliskan kisah ini saya masih terus selalu bersyukur. Banyak perubahan yang sudah saya alami. Banyak pelajaran yang sudah dan masih saya pelajari tentang hidup. 2 bulan pertama saya bekerja sebagai pelayan merangkap tukang cuci. 2 bulan berikutnya saya menjadi tukang masak (memasak makanan ringan french fries, pop corn dan mie). Sekarang dan masih saya jalani menjadi kasir. Perubahan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Banyak jalan yang sudah Tuhan berikan dalam bentuk pilihan. Kita hanya perlu memilih lalu ikhlas dan bersyukur menjalani. Jangan pernah ragu dan berfikir negatif. Kita tak akan pernah tahu rencana Tuhan.[]



