Jumat, 25 Februari 2022

Story Behind


Jum'at, 25 Februari 2022

Balasan surat.. 

Matur nuwun.. 
Aku bingung arep opo maneh sing kudu diomongke selain terima kasih. Barangmu sudah sampai dengan selamat. Sepasang sepatu gunung, yang jika dilihat dari tampilannya pasti mahal. 

Terkadang aku bingung, barang-barang larang iki, kenopo nganti mbok tukokne gawe aku? Bahkan selama iki aku urung iso bales. Sedangkan awakmu uwes berbuat banyak gawe aku. 

Lanjute, aku gawe bahasa indonesia ae yo.

Oke..
Ehem.. ehem.. 
Tadi aku belum lengkap menyampaikan. Sepatu pemberianmu sudah sampai, bersama dua kertas surat dan juga satu buah buku catatan harianmu. Sekali lagi terima kasih. Aku seneng, tapi ya ngerasa ga pantas buat nerima ini. 

Bukumu sudah aku baca. Berat nerima buku ini, tapi aku baca sampai tamat. Selebihnya, harum parfummu (di mana aku menyukai itu) tercium saat aku buka isi paket yang tadi aku terima dari kurir ekspedisi. Sekilas, beberapa gambaran kenangan yang pernah kita lewati terlintas begitu saja. Bahkan, sampai detik aku menulis ini, bau itu masih sering terbang melintas hidung dan memenuhi ruangan tokoku. Tentunya tak mengapa, aku nyaman, sebab aku suka baunya. 

Selanjutnya, izinkan aku menjawab semua tanyamu dalam goresan buku yang kau beri. Semoga kau tidak salah memahami, dan bisa menerima dengan lebih dewasa lagi atas apa nantinya yang akan aku tulis ini. 

Pertama soal sepatu. 
Sekali lagi terima kasih. Terima kasih banget sesuatu yang sedang aku usahakan buat beli, malah kamu seng bisa ngebelikan. Wis terlalu banyak kamu ngasih, mulai dari kiriman makanan, yang di dalamnya ada kaosnya. Lanjut ke jam tangan. Lalu ke pinjaman uang yang aku hutang buat dipinjamkan lagi ke temenku karena dia butuh. Ada juga aku pinjam uang lagi, ketika aku bingung pelunasan untuk pembayaran buku. 

Belum lagi di kota kemarin, masih sempat-sempatnya ngasih kaos. Ngebayarin tiket berangkat, lalu sekarang ini, sepatu gunung. Semuanya aku catat dan aku anggap hutang budi yang kelak akan aku balas. 

Sekarang soal sepatu..
Bagus, pas, keren, pengen segera pake buat naik ke gunung beneran. Hal yang paling bikin seneng, model sepatunya agak tinggi, jadi sedikit membuat tinggiku bertambah sekian senti saat memakainya. 

Membeli ini itu (termasuk sepatu) memang bukan kebiasaanku, sebab aku mandangnya sebagai sesuatu yang aku tidak terlalu butuh. Dulu, kuliah saja aku masih harus pinjam. Sebab sepatu terakhirku sudah lubang. 

Bisa dikatakan sepatuku selalu memiliki cerita dari kisah orang-orang hebat di baliknya. Pertama ada sepatu pantofel. Sepatu itu pemberian budhe dari gaji pensiunan pakdeku. Memang benar, lulus kuliah aku tidak memiliki sepatu. Pernah suatu ketika ayah mau membelikannya, hingga ia tiada, barang itu tak juga terbeli. Namun, bagiku, pemberian budhe sudah mewakili dari pemberian ayah. 

Kedua, sepatu sport biasa. Berwarna biru, yang tentunya kau tahu karena aku kenakan kala bertemu denganmu di kota itu. Sepatu tersebut hasil iuran ibu dan adek. Mereka membelikan aku kado di ulang tahunku yang ke 25. Lalu sekarang, sepatu pemberianmu. Tentunya akan aku jaga dan bangga memakainya. 

Ah terima kasih banyak. Mohon maaf belum bisa balas. Aku gagal dalam manajemen keuangan pun gagal dalam membahagiakan. 

Mungkin kamu tak tahu. Kaos pertama pemberianmu, yang datang berbarengan dengan camilan dan manisan carica.  Meski kebesaran, aku masih sangat suka memakainya. Lalu dua kaos yang bertuliskan kotamu, sangat pas di badan, aku pun bahagia memakainya. Lalu jam tangan, sampai tidak pernah lepas kecuali saat mandi, meski sekarang sudah jarang terpakai sebab itunya (ga tau namanya) putus. Terakhir, ada sepatu. Ah aku sangat bahagia. Terima kasih banyak. 

Maaf sejauh ini aku sosok yang sangat merepotkan dan sudah menghabiskan banyak uangmu. Kamu yang sudah sebaik ini, aku malah sejahat itu dalam memperlakukanmu. Maafkan aku. 

Kenangan di kotaku, saat kau kemari merupakan kesalahanku yang tidak bisa aku putar ulang. Tanpa banyak beralasan lagi, aku mengaku salah sebab tidak bisa menyambutmu dan memperlakukanmu dengan layak. 

Jika masih bisa memberikan alasan. Sebetulnya aku bingung dan tidak siap harus betingkah seperti apa saat kau ada di sini. Aku kikuk, cenderung malu, akhirnya kaku dalam memperlakukanmu. Selagi bisa, tolong maafkan tindakanku kala itu. Aku meminta maaf kepadamu, sudah (bisa dikatakan) menelantarkanmu kala kamu ada di sini. Tidak bertanggung jawab untuk menyenangkanmu, malah hanya bisa membuatmu meneteskan air mata. Sekali lagi, aku mohon, tolong maafkan kebodohanku. 

Mungkin kau penasaran. Apakah aku bahagia saat kau ada di sini? Jujur, aku sangat bahagia. Mungkin jika masih ada waktu dan aku boleh berharap. Aku berharap bisa menebus kesalahanku dengan menunggumu untuk singgah kembali di kotaku. Entah kapan, tapi semoga usia dapat memenuhi dan Tuhan bisa mengizinkan. 

Selanjutnya kau juga bertanya. Apakah aku memikirkanmu? Jika masih boleh jujur, iya aku memikirkanmu. Bahkan sejak saat kita memutuskan untuk berhenti komunikasi dan saling menjauh. 

Seringnya aku selalu teringat kamu saat sedang berkendara. Entah berangkat kerja, saat pulang kerja, atau ketika kemana saja aku berkendara. Kilasan wajahmu pada senyum yang tak bisa aku artikan selalu berhasil muncul. 

Aku terbawa, hingga membuatku senyum dengan sendirinya. Bahkan juga merasa salah atas segala perilaku yang sudah aku lakukan padamu. Sangat tidak pantas aku yang sudah begitu padamu, malah terus kau balas kebaikan. Maafkan aku. 

Terkait mimpimu. Benar memang, Februari ini aku mengalami sedikit perubahan atas peringatan dari Sang Kuasa. Membuatku berpikir ulang berhenti menjalankan tindakan yang tidak semestinya. Meski berat, Februari ini aku bangga bisa lebih baik dari bulan sebelumnya, atau bahkan tahun sebelumnya. Selebihnya, hanya sebab finansial yang kritis sehingga membuatku pontang panting dalam menyelesaikannya. Tapi tak apa, akan selesai juga nantinya, semoga. 

Berikutnya perihal rindu. Maaf, aku tidak bisa menjawabnya. Namun, aku yakin kau tahu jawabannya. 

Terakhir, rencana kita setelah lebaran iedul fitri. Insya allah aku akan tetap mengusahakan untuk singgah. Bertemu Mbokmu, menikmati masakannya, tidur di bawah atap rumahmu, pun mendaki jika mungkin aku masih mampu. Semoga kelak finansialku baik-baik saja. Meski nantinya tidak baik, aku akan tetap mengusahakan untuk ke sana. 

Seperti pada lirik lagu 'Mesin Waktu' milik Budi Doremi. Kali ini aku sampaikan padamu. 

Kalah, kuakui aku kalah.
Cinta ini pahit dan tak harus memiliki.

Jika aku bisa, ku akan kembali.
Ku akan merubah, takdir cinta yang ku pilih.

Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau.
Membawa kamu lewat mesin waktu.



NB: Oh iya satu lagi. Sama sekali aku tidak melihatmu, menilaimu, menganggapmu dari batasan ijasah sekolahmu. Bahkan, bagiku kau adalah orang paling kreatif yang sudah aku temui sepanjang batas usiaku. 

Tak peduli apa ijasah sekolahmu. Aku bangga bisa mengenalmu, yang kelak entah kenapa aku yakin kehebatanmu selalu di atas mereka yang bersekolah tinggi. Tidak pernah aku merasa malu ataupun rugi. Selama kita masih sama-sama manusia, jangan pernah berpikir siapa lebih rendah dan siapa lebih tinggi. Ingat perkataanku, kamu istimewa. 

Selasa, 01 Februari 2022

Definisi Tolol



Hai Januari..

Jangan pergi dulu, beri aku sedikit waktu guna merangkum 31 hari kehidupanku pada bulanmu. Tampaknya memang tak penting, tapi setidaknya aku merekam ingatan ini menjadi memori tulisan. 

Awal tahun 2022 semua tertulis pada Warmindo Mastrip. Melalui denting sendok dan garpu, pada semangkun penuh mie yang gagal aku habiskan. 

Bukan sebab apa, perutku terlanjur mulas untuk menghabiskan kenikmatan dalam semangkuk putih. Hingga, memaksa dia untuk menghabiskan makanannya, lalu aku ajak ia pergi. Beruntung aku menemukan toilet masjid, tempatku mandi dulu saat masih aktif menjadi aktivis. 

Yah, benar.. 
31 Desember - 01 Januari kami terlibat kisah yang tak seharusnya terangkai dalam kehidupan di dunia. 

Ingatanku kembali berputar, sembari menahan kram saat jongkok di kamar mandi. 

Tidak ada yang istimewa pada tanggal-tanggal setelahnya, sebab aku tak sabar untuk segera tiba pada tanggal 14 Januari. 

14 Januari - 17 Januari
Aku berkunjung ke Jawa Tengah, bertandang di kota Kerinduan, Yogyakarta. 

Menggunakan Mutiara Timur, salah satu kereta kelas ekonomi dalam rangkaian gerbong eksekutif dan bisnis. Hanya kebetulan semata, mendapat tiket free dari teman dekat untuk mengunjunginya. 

Sebetulnya aku bukan termasuk golongan penumpang yang mampu untuk membeli tiket kereta di atas harga 100k. Banyak sekali pertimbangan, karena bagi saya tingkat pelayanan kereta ekonomi antar kota sudah sangat memuaskan dan membuat saya nyaman. Hanya saja, saat itu pertimbangannya saya bisa lebih lama berada di kota tersebut dengan menggunakan kereta malam untuk perjalanannya. 

Bersama rekan, saudara atau adik. Dia menjadi guide selama berada di Jogja. Banyak tempat saya kunjungi, pun banyak renungan saya lewati selama berada di sana. Pertimbangan muncul satu persatu, tentang hidup, tentang segala hal yang menjadi kebingungan semua manusia pada umumnya. Termasuk yang saat itu terjadi padaku. 

Sialnya, sampai baris ini waktu sudah menunjukan pukul 23.56 WIB, saya gagal atas rencana memposting tulisan ini pada tanggal 31 Januari. 

Apa yang terjadi di Jogja, biarlah tetap tertinggal di sana. Banyak hal yang pada akhirnya mendewasakan otak dan hati. Banyak jalan atas sederet keputusan ekstrim yang harus diambil. Beriring konsekwensi yang juga harus di hadapi. 

Jogja, terima kasih..
Candi Ratu Boko, mitosmu benar terjadi dan secara nyata aku alami. 

Waktu berjalan lagi, sama persis seperti saat ini yang sudah menunjukan pukul 23.59 WIB. 

Tepatnya sekarang sudah 01 Februari, selamat hari raya imlek teman-teman. 

Kisahku setelahnya menjadi sangat random. Banyak kerjaan terbengkalai, keuangan mulai tak terkontrol, hutang mulai membengkak, meski tanpa ada yang menagih, tapi nominal uang yang begitu besar akan cukup menghantui, tentang bagaimana akan bisa terlunasi. 

16, 17, 19, 20 Januari.
Keributan mulai muncul. Perenunganku harus sudah disikapi dengan mengambil keputusan tegas. Obrolan pada 20 Januari membuka sebuah keputusan dengan konsekwensi yang tidak mudah. 

Aku berharap dia akan tetap baik-baik saja. Bisa kembali pada jalan kehidupan yang sudah semestinya dia pilih. Memaksanya untuk tidak mempedulikanku, menjauhiku dan belajar untuk memulai kembali kehidupannya secara nyata, tanpa harus tersakiti olehku yang sudah terlanjur menjerumuskannya. 

Hai orang baik, semoga kelak bisa ketemu dengan keadaan yang baru tanpa ada tautan yang tidak perlu. Aku butuh beranjak dan kamu haru benar-benar bergerak. Kita harus bisa kembali seperti semula awal kita saling kenal. Sekali lagi, terima kasih banyak. 

Hari dan tanggal terus berlanjut dan beranjak..
Sampai pada kabar yang kurang mengenakkan terdengar.. 

26 Januari 2020
Seorang kawan mengirim pesan haru. Membuatku teringat yang terjadi pada tanggal 13 Desember kala itu. 

Kamu benar-benar telah resmi untuk 'membeli tiket pulang'

Pesanmu membuatku khawatir.. 
Tentunya jika kau begitu, bisa jadi aku juga sama. Aku setengah ketakutan membayangkan jika itu juga terjadi padaku. Aku belum siap, benar-benar tak bisa berpikir jika benar nyatanya kondisiku juga tak jauh berbeda denganmu. Harapku Tuhan benar-benar masih memberikanku kesempatan kedua. 

Aku sadar, sudah terlampau jauh aku bermain. Mungkin sudah terlanjur masuk aku ke dalam hutan yang terus membuatku penasaran. Namun, kali ini aku benar-benar lelah. Ketakutanku akan yang terjadi pada seorang kawan di Banyuwangi, selalu membuatku resah dan belum bisa bernapas dengan lega. Segera, aku harus melihat kondisiku lalu berusaha menerima dengan ikhlas hasilnya. 

Ah Tuhan, tolong.. 
Beri saya kesempatan ke dua..

Waktu berjalan beriring kegelisahan yang tak kunjung hilang. Hati sudah berdamai, tetapi otak membuatku resah tak karuan. 

27-28 Januari 
Tepatnya aku lupa.. 
Mulai bercerita pada seorang kawan di Malang. Padanya, semua kegelisahan terucapkan tanpa sedikitpun terpotong. 
Terima kasih..
Meski ada juga yang masih aku tahan.
Maaf kawan, nanti kamu pasti akan aku beri tahu. 

31 Januari
Banyak pelajaran pada bulan ini. Tepatnya ini adalah bulan untuk menyudahi dan melepaskan. 

Sialnya bertemu dengan orang aneh, melakukan trik pencemaran identitas, menyebarkan hal yang disebut orang aib. Membuatku bertindak lebih waspada tanpa ingin mengulanginya. 

Asing tetaplah asing karena tidak semua manusia memiliki niat baik pada akhirnya.

Bulan berikutnya, harapku bisa tetap dan terus menjaga apa yang sudah seharusnya berjalan. Lalu menghentikan apa yang sudah tidak semestinya untuk dijalankan. Banyak sekali kode Tuhan, sayangnya dulu sangat sering aku acuhkan. 

Hai orang-orang baik..
Kalian tetap orang-orang baik..
Pergiku, hilangku, tak akan berpengaruh pada kehidupan kalian.. 
Malah, ketidakhadiranku akan menjadi yang terbaik antara aku dan kalian.. 

Semoga kelak Tuhan bisa mempertemukan jika memang harus bertemu. 
Pun semoga Tuhan masih berwelas asih kepada saya, seorang hamba yang tidak tahu diri setelah semua yang sudah terjadi. Malah sekarang meminta belas kasih, ketika dulu sama sekali lupa untuk berterima kasih.

Terima kasih Januari
Selamat datang Februari

Sabtu, 04 September 2021

Absurd



Tak tahu harus mulai dari mana, karena pintu masuk sudah beberapa yang berhasil aku buka, meski sebenarnya sama sekali belum seperempat dari keseluruhan pintu yang masih tertutup. Aku berasal dari salah satu pintu, di mana selama sekian tahun aku berjibaku di dalam pintu tersebut. Tak pernah memilih karena aku rasa semua sudah ada di sini, pada sebuah pintu yang sudah diperuntukkan padaku. 

Sekian lama aku mulai tumbuh dan berkembang. Beraktivitas dan mulai menumbuhkan rasa penasaran, keingintahuan, bahkan ada rasa ingin keluar dari zona nyaman yang sudah sedari dini aku terima di mana seharusnya terus untuk dijalankan. Muncul rasa tak nyaman sebab sebuah penasaran. Hal tersebut tertanam menggebu hingga tumbuh benih-benih pemberontakan atas apa yang sudah digariskan. 

Mulai terdengar suara bisik. Kadang terdengan sangat bising. Hadir dalam bayangan imaji yang tak pernah bisa terdefinisi. Mencoba untuk mengartikan, tetapi selalu gagal menemukan sebuah makna dari proses pemahaman. Ruangan atas pintu yang diperuntukkan untukku serasa sempit, hingga membuatku jengah. Seringkali bosan sebab selalu terkikis sebuah rasa penasaran. Berjalannya waktu seakan semakin membuat bosan. Semua keadaan berulang, ingin sekali rasanya untuk tidak mengulang. Mencoba memahami tapi malah hanya semakin membuatku tak mengerti. 

Benih itu mulai muncul dan tumbuh. Aku memiliki rasa penasaran untuk membuka pintu yang ada pada ruanganku. Mencoba menebak apakah yang ada di balik pintu. Membayangkan ada ruangan yang lain. Mengimajinasikan bisa menemukan orang lain. Hingga muncul harapan berada pada ruangan lain di balik pintu yang lain. 

Mulai mencari cara, membuka pintu dengan kunci yang aku sadari tak memilikinya. Mencari cara keluar dari ruangan yang aku baru mengerti sudah ada di dalam sini dengan sendirinya. Memikirkan cara terbaik guna mencari jalan keluarnya. Tidak dengan ambisi melainkan rasa penasaran yang semakin menggerogoti. 

Aku ingin mengenal definisi nyaman dari arti nyaman yang sudah aku pahami. Mencari tahu ruangan lain dari ruangan tempatku saat ini. Membuka pintu baru guna mencari tahu apakah yang ada di balik pintu yang sudah sekian tahun aku tatap ini. Bertujuan untuk mengenal dan mempelajari. Bagaimana awal dan akhir yang nantinya harus aku tempuh sebagai perjalanan diri. Hingga aku paham maksud dari garis takdir yang diberikan padaku saat nanti.

Kudapati kunci pada sebuah laci yang aku tak tahu sejak kapan ada di ruangan ini. Mulai aku cari lubang kunci, hingga membuka apa yang sedang aku inginkan saat ini. Satu kali klik bunyi, dua kali klik memastikan, hingga berhasil aku putar gagang pintu yang ada di depanku saat ini. Pintu terbuka sedikit, tapi aku masih enggan untuk melangkah pergi, menjauhi pintu tempatku berteduh hingga kini. Tak ayal rasa penasaran ini membuatku berkenan melangkah pergi. ... Bersambung.


Repetisi


Hai, Pak apa kabar?

Sebesar ini, aku masih saja rindu..
Ketika kau mentraktirku makan, saat aku pulang ke rumah..

Sebesar ini, aku masih juga sering iri..
Kepada mereka saat dimarahi oleh bapaknya sebab rokok..

Sebesar ini, aku benar-benar iri..
Saat melihat mereka bisa berangkat bersama bapaknya, kala Sholat Jumat..

Dulu, ingin rasanya bertanya bagaimana kisah romantismu dulu..

Bagaimana saat bertemu Ibuk..
Bagaimana proses perkenalan kalian..
Pacaran..
Hingga memutuskan untuk menikah.. 

Bahkan ingin kutahu, berapa usiamu saat itu..
Ketika kau memutuskan untuk datang melamar Ibuk..

Tapi, entah..
Sepertinya pun ini hanya anganku..
Ketika kau ada, aku tak pernah sedekat bisa duduk bersamamu..
Meski bersama, tak pernah ada percakapan tentang aku ataupun tentangmu..

Akhir-akhir ini sering kuberfikir..
Tak ada lagi tempat untuk berbicara bahkan berdiskusi..
Kepada siapa kelak bisa kubertanya tentang pernikahan.. 
Kepada siapa penguat keyakinan kala aku ingin datang untuk melamar pasangan..

Apa yang aku rasa, seakan sudah tidak ada penahan.. 
Siapa saja yang melarangku pun tak pernah aku hiraukan..
Aku dulu sangat berharap kebebasan..
Tapi sekarang..
Terlalu bebas pun membuatku bosan.. 

Pak, apapun keputusanku.. 
Semoga kau di sana juga setuju.. 
Meski aku tidak bisa menjadi inginmu..
Aku akan membuatmu bangga dengan versiku..

Jumat, 13 November 2020

Sepatu Bapak

Hai Yah.. 
Ternyata aneh rasanya kalo panggil dengan sebutan Ayah. Itu sebutan adek padamu, sedangkan aku memanggilmu dengan sebutan Bapak. 

Sebetulnya aku enggan menulis ini. Hanya saja, tampaknya tahun ini banyak bersliweran postingan ucapan selamat kepada sosok Ayah. 'Selamat Hari Ayah' beberapa story Whatsapp bertuliskan seperti itu. Hal tersebut, membuatku ingat kepingan memori di tahun-tahun yang telah lewat. 

"Kapan kuliahmu selesai?"

Pertanyaan itu masih sering terlintas. Tepatnya pada bulan september, satu bulan sebelum bulan kelahiranmu merangkap bulan kepergianmu. Seperti biasa, aku juga hanya bisa berkilah menjawab tanyamu.  

''Sebentar lagi".

Memori lain hadir, kau begitu mengkhawatirkanku. Sebab mengambil jurusan bahasa, kau takut aku kesulitan mencari kerja. Begitulah yang ibu sampaikan. Bahasa sayang yang tak pernah langsung kau tunjukan padaku, melainkan melalui perantara ibu.

Sialnya kali ini kekhawatiranmu terbukti benar adanya. Pekerjaanku selalu di luar ranah jurusan. Sempat 3 bulan menganggur setelah kelulusan. Lalu bertambah setahun menganggur setelah keluar dari pekerjaan pertama. Syukurnya kali ini bisa bekerja, tapi masih saja tetap di luar ranah bahasa.

Tak ingin kalah, memori lain berebut masuk. Kekhawatiranmu kau ceritakan pada adikmu. Ia bercerita padaku kala kau sudah tiada. Kali ini kau merasa gagal, sempat tiga bulan tidak bisa mentransfer uang bulanan. Membuatku memutuskan untuk bekerja di cafe mencari tambahan. 

Apakah aku sudah makan, bagaimana aku bisa jajan, takut aku memiliki banyak hutang, hingga ketakutan lain yang terus kau khawatirkan. Beruntung, adikmu pandai meredam apa yang kau takutkan.

Kepingan memori berikutnya muncul. Aku berharap kehadiranmu pada acara wisudaku. Berharap kau bisa mengajak ibu berkeliling kota kelahiranmu, sembari mengingat masa-masa pacaran bersama ibu. Berharap kau bisa bangga melihatku, anakmu yang kau damba, bisa lulus menjadi seorang sarjana. Berharap kau hadir, memenuhi undangan untuk mengisi kursi perwakilan orang tua. Lalu menangis saat namaku disebut untuk menerima ijasah. 

Aku benar-benar berharap kau bisa hadir. Membuatmu tak malu dengan penampilanmu, meski seringkali kau merasa minder, tidak seperti mereka dengan setelan jas atau pakaian mewah. Benar-benar ingin ku banggakan sosokmu, seorang pedagang ikan yang sanggup mensarjanakan anaknya, bahkan bukan lewat jalur beasiswa. 

Apalah mau dikata. Kau lebih dulu dipanggil oleh Sang Kuasa. Kursimu kosong tanpa isi, undangan untukmu tetap aku simpan dengan rapi. 

Kepingan terakhir muncul. Sampai akhir hayat, pernah kau ucap dan sampaikan pada ibu. Namun, hal itu tak kunjung terwujud. 

Kau ingin membelikanku sepatu, tepatnya sepatu untuk acara wisudaku. 

Terakhir aku pulang adalah saat libur panjang lebaran. Memang saat itu sepatu yang aku bawa untuk pulang adalah milik teman. Sepatu bekas, ada beberapa jahitan, tapi masih layak pakai. Sempat kau bertanya, aku pun jawab sekenanya, bahwa sepatuku hilang entah kemana, sebab memang sudah lubang di beberapa sudutnya. Kau hanya diam tanpa respon. 

Memang saat itu aku sama sekali tidak butuh sepatu. Perkuliahan sudah habis, bimbingan skripsi pun cukup dengan meminjam teman hanya untuk datang ke kampus. Seringnya memang begitu. Semua barang yang aku miliki, rata-rata adalah hasil pemberian. Sebab aku tipikal orang yang malas beli barang, jika barang yang lama masih bisa digunakan. 

Mengenakan celana bolong di bagian dengkul pernah aku alami. Dompet, belum pernah ganti sejak zaman SMA. Jaket, kalo belum sampai hilang ya ndak beli. Sepatu, kalo belum lubang sampai ndak bisa dijahit ya ndak beli, Kemeja, kaos, dan barang-barang lain. Sungguh jika bukan karena kau suruh, atau ibu yang mengajak ku, aku tak pernah mau untuk membeli barang jenis apapun itu. 

Sampai saat kau sudah pergi, sepatu juga tak kunjung terbeli. Aku tak tahu menahu, jika itu adalah keinginan terakhirmu. Sampai hari ke 40, ibu tak pernah menyampaikan apapun kepada ku. Hingga aku kembali ke perantauan, menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Sedangkan ibu di rumah, melakukan usaha keras menjadi pengganti mu sebagai kepala keluarga. 

Suatu ketika ibu menelepon. Suaranya berat, sesenggukan entah gerangan apa yang sudah terjadi. Aku diam bergeming, dia lalu bercerita. 

Siang hari matahari sangat terik. Ibu sedang istirahat merebahkan badan. Ia berada di teras rumah, sembari berjualan aneka gorengan, es sinom dan es kelapa muda. Memang begitulah salah satu bentuk usaha ibu, untuk terus memutar perekonomian keluarga. Tanpa sadar, lelah membuatnya lelap.

Tidak begitu lama, ibu terbangun. Menurutnya, ia mendengar suara mu. Meminta ibu untuk segera membelikan sepatu untuk ku. Mengasihaniku sebab tidak memiliki sepatu. Mengkhawatirkan ku di ejek teman-teman, sebab menggunakan sepatu yang tak layak pakai. Sejenak mendengar cerita ibu, membuatku tak bersuara. Aku heran, sampai tiada pun kenapa masih saja kau mengkhawatirkanku. Sedangkan aku, sebait fatihah atau do'a pun masih sering terlupa untuk ditujukan kepadamu. 

Selanjutnya ibu ingin mengirimkan tambahan uang, agar aku bisa membeli sepatu. Tapi aku menolaknya, dan berkata sudah memiliki simpanan untuk itu, lalu menenangkan ibu agar tidak terlalu khawatir memikirkanku. Padahal sejatinya juga tidak baik-baik saja, bahkan untuk mendaftar wisuda aku harus meminjam uang kepada Yayan temanku. Sialnya sampai saat ini juga belum bisa terlunasi.

Aku tidak terlalu memikirkan sepatu, sebab sudah ada rencana untuk meminjam kepada beberapa teman. Sepatu Pantovel, celana kain hitam, kemeja putih lengan panjang, dan juga jas yang dilengkapi dasi. Semua barang itu sudah aku list, mau meminjam kemana dan kepada siapa. Dari ujung rambut sampai kaki, hanya kaos kaki satu-satunya barang yang aku tidak pinjam. 

Tidak begitu lama apa yang tak pernah terduga pun terjadi. Budhe (kakak dari bapak ku) memberikan beberapa lembar uang pensiunan suaminya, lalu memaksaku untuk pergi mencari sepatu. Beberapa kali aku sudah menolaknya, tapi dia terus memaksaku. Hingga terbelilah sepatu pantovel pertama ku. 

Ujian Skripsiku telah berlalu. Yudisium berada di depan mata, undangan orang tua juga telah berada di genggaman ku. Banyak diantara para peserta wisuda merasa bahagia, bisa memberikan undangan untuk orang tuanya hadir dan menyaksikan anaknya di wisuda. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum masam. Ikut merasa bahagia melihat teman-teman, sedangkan undangan orang tua milik ku masih tersimpan rapi di dalam lemari.

Acara wisuda berlangsung sangat khidmat. Nyanyian mars atau hymne universitas melepas kelulusanku, dimana sebelumnya juga menyambut kedatangan ku sebagai mahasiswa baru. Prosesi wisuda telah usai. Banyak diantara para peserta wisuda terlihat bingung menemukan orang tua mereka. Tak sedikit juga yang sudah bertemu. 

Ada banyak tangis dan tawa pada sore itu. Para orang tua memeluk bangga anak mereka, Mengelu-elukan gelar kesarjanaan mereka, Berfoto-foto ria hingga memberikan berbagai kado dan bunga kepada anaknya yang telah di wisuda. Sedangkan aku masih terdiam duduk di kursi, memperhatikan orang-orang lalu beranjak menemui ibu di tempat kami sudah berjanji untuk bertemu. 

Sialnya aku melihatmu, duduk tersenyum di barisan ujung kursi tempat orang tua hadir. Kau mengenakan kopyah hitam, dengan batik berlengan panjang, juga celana kain kesukaanmu. Sandalmu juga tak begitu bagus, sebab memang itu sandal favoritmu. Aku berdiri mematung, kau masih saja terus tersenyum. Seketika itu aku rindu kau peluk, lalu mendapatkan ucapan selamat darimu. Ingin sekali aku letakan topi wisuda di kepalamu, lalu berbisik lirih..

"Maternuwun pak, pendidikanmu memang tidak tinggi, tapi kau bisa menyekolahkan aku hingga perguruan tinggi, maternuwun."

Selamat hari ayah, bahkan aku sudah hampir lupa ada hari ayah selain hari ibu. Sudah begitu lama pak, maafkan anakmu ini jika inginmu masih belum bisa aku penuhi. Mungkin yang lain masih bisa bertegur sapa mengucapkan selamat hari ayah, apalah aku yang hanya bisa mengirimkanmu sebait fatihah. 

Alfatihah...

















P.S : Selamat membaca, tapi tolong setelah itu tak perlu sampai mengucap bela sungkawa, atau mengasihani, atau menyemangati. Aku sudah baik-baik saja, tak usah khawatir. Tulisan lain tidak aku rekom untuk dibaca, sebab masih sangat tak beraturan. Terima kasih sudah berkunjung, sehat selalu, dan jangan lupa untuk berwelas asih kepada sesama makhluk.

Rabu, 22 April 2020

Sebut Saja Uji Coba Kesabaran


Sekarang pukul 23.00 WIB. Baru saja saya pulang dari kegiatan training pekerjaan. Setelah apa yang saya alami saya sangat berkeinginan untuk menuliskannya. Tepatnya semua berawal saat saya mendapatkan undangan dari salah satu tempat dimana saya melamar pekerjaan. Undangan tersebut terkirim pada hari Senin sekira pukul 14.00 WIB. Undangan tersebut melalui pesan whatsapp, berbunyi mengharuskan saya hadir untuk training dan tes pada hari itu juga pada pukul 16.00 WIB menggunakan sragam yang ditentukan yaitu celana jeans hitam, kemeja ata kaos polo berkerah warna hitam, dan sepatu casual. Jika berhalangan hadir diberikan toleransi kehadiran pada hari berikutnya yaitu Selasa pukul 14.00 WIB dan saya memilih opsi kedua tersebut. tambahan informasi di dalam info tersebut mengatakan, bagi yang bisa hadir pada hari Senin akan memiliki kesempatan besar untuk diterima bekerja dari pada yang hadir pada hari Selasa.

Saya melamar pekerjaan untuk posisi kasir pada salah satu info lowongan pekerjaan. Info tersebut bersifat walk interview lalu bertuliskan membutuhkan posisi Barista dan juga Kasir pada Cafe yang baru akan di buka di kota tempat saya berdomisili. Saya tertarik pada lowker tersebut sebab pertama, saya sudah memiliki pengalaman bekerja di dunia Food & Baverages sebelumnya, selebihnya sebab saya memang sedang butuh pekerjaan setelah kurang lebih 8 bulan menganggur dari pekerjaan terakhir saya. Walk interview dilakukan pada hari Sabtu dan hari Senin saya sudah mendapat informasi untuk melakukan tes dan training, seperti yang saya ceritakan di atas. Saya mengira prosesnya setelah lolos interview akan dipanggil untuk melakukan serangkaian tes lagi, sebelum nanti akhirnya jika dinyatakan lolos tes, akan diberikan informasi mengenai diterima atau tidak sebagai pegawai, lalu membicarakan masa training sesuai pekerjaan yang dilamar, gaji masa training, gaji pokok dan lain sebagainya. Namun, ternyata itu hanya ekspektasi saya, proses yang sebenarnya tidak seperti itu.

Saya memutuskan untuk datang hari Selasa sebab saya belum memiliki seragam yang ditentukan oleh pihak penyelenggara untuk dikenakan saat tes dan training. Oleh karena itu saya perlu berkordinasi dengan ibuk, sebab jika di izinkan saya butuh sekian rupiah dari ibuk untuk membeli baju sesuai yang sudah ditentukan. Ibuk akhirnya menyetujui, setelah saya berdiskusi dengan beliau terkait baju yang saya butuhkan. Lalu beliau mengantarkan saya untuk membeli celana hitam. Untuk kaos polo hitam berkerah saya memakai kaos adik saya, yang dulu dia pernah beli untuk tes pekerjaan di alfamart namun batal.

Seperti yang sudah ditentukan, kandidat yang akan mengikuti tes dan training diharuskan hadir pada pukul 14.00 WIB on time, saya tiba di lokasi pukul 13.30 WIB lebih awal dari waktu yang ditentukan. Jarak dari rumah saya menuju lokasi training tidak begitu jauh, kurang lebih 30-45 menit dengan kondisi traffic normal. Lokasi tempat training merupakan salah satu francise outlet makanan khas indonesia yang sudah membuka banyak cabang di beberapa kota di Indonesia(untuk selanjutnya dalam tulisan ini kita sebut Outlet Hogsmeade saja). Bos atau manager cafe tempat saya melamar, bekerja sebagai semacam supervisor area untuk wilayah sidoarjo dan surabaya pada francise Outlet Hogsmeade tersebut. Singkatnya Si Bos selain bekerja sebagai spv area, beliau juga ingin membuka usaha sendiri sejenis Cafe sejumlah 3 outlet. Oleh karena itu tes dan training dilakukan di lokasi tersebut, tempat si bos bekerja sebagai spv area.

Menurut sedikit informasi yang saya dapat tes dan training dilakukan selama 2 hari. Ekspektasi saya, selama training dan tes tersebut saya akan di ajari melakukan pekerjaan Kasir atau Barista sesuai posisi yang dilamar untuk mengisi posisi pegawai cafe yang akan dibuka. Sebelum nanti akhirnya dinyatakan diterima sebagai karyawan atau gagal, lalu juga diberi info penempatan dan juga grand opening cafe tersebut. Sebab dengan adanya pandemi covid-19 manager outlet masih belum tahu kapan cafe bisa dibuka. Sehingga mengharuskan menunggu informasi dari pemerintah setempat kapan kiranya waktu yang pas dan aman untuk launching cafe tersebut.

Sebelum saya melakukan tes dan training saya diberi intruksi oleh (mungkin) kapten yang ada di lokasi tersebut. Dia menjelaskan tambahan informasi dan pekerjaan apa yang harus saya kerjakan saat itu. Informasi tersebut mengatakan, saya akan training di sana selama 2 hari tanpa dibayar dan akan mulai dibayar setelah masuk training hari ke tiga, sampai menunggu informasi lebih lanjut kapan saya bisa ditempatkan di cafe, sebab untuk saat ini cafe tersebut belum grand opening. Informasi mengenai berapa bayaran (selama training) yang saya terima belum disampaikan (benar-benar less information), saya pun tidak berani bertanya sebab takut di anggap terlalu berfokus pada gaji. Informasi tersebut berlanjut tentang apa yang harus saya kerjakan selama training disana. Menurut si kapten, training sebagai kasir bisa di ajarkan kapan saja (yang saya tidak tahu kapan, mungkin saat senggang atau entahlah), sehingga saya bisa mengerjakan pekerjaan lain terlebih dahulu (apapun itu).

Sampai tahap ini saya paham, mungkin yang dimaksud tes dan training tersebut adalah, tes kesabaran dalam menahan ego dan training kepekaan dalam mengerjakan pekerjaan apapun. Itu kesimpulan saya sebab pernah mengalami, bahwa bekerja di bidang Food & Baverages itu harus mau mengerjakan tugas apapun entah ngepel, nyapu, angkat-angkat dsb. Ego dan kesabaran harus benar-benar di tekan. Sebab kebersihan, kerapian outlet menjadi tanggung jawab bersama (team) sudah bukan job desc perorangan (mungkin). Pressure yang tinggi dari banyaknya pekerjaan diluar job desk menjadi tantangan bersama dalam team. Hal tersebut pernah saya alami sebelumnya saat bekerja di cafe pada tahun 2016-2017.

Sialnya pada hari itu tidak ada lagi kandidat training selain saya sendiri. Menurut informasi yang saya dapat, hari sebelumnya datang 6 orang kandidat. Harusnya jika sesuai intruksi training dan tes 2 hari, mereka juga hadir pada hari ini saya hadir. Namun, entah diantara 6 orang tersebut tidak ada yang kembali lagi.

Intruksi pertama dari apa yang harus saya kerjakan adalah menyapu lantai. Sebab menurut kapten, sejak pagi memang belum ada yang menyapu. Intruksi berikutnya setelah sapu bersih adalah mengepel lantai. Ada banyak sapu dan pel-pelan disana dan masing-masing sapu dan pel-pelan digunakan sesuai tempatnya masing-masing, contoh sapu dan pel-pelan dapur berbeda dengan yang digunakan untuk lorong, begitu juga untuk yang digunakan di lokasi para customer duduk. Karena lokasi cukup lebar cukup untuk membuat saya berkeringat dan juga ngos-ngosan. Tertawa malu dalam hati, mungkin Ini efek sudah terlalu lama tidak melakukan fisik atau pekerjaan berat, sebab di rumah kerjaanya hanya rebahan, makan dan tidur. Intruksi diberikan pukul 14.15 WIB lalu saya mulai bekerja sesuai yang di intruksikan, menyapu, mengepel, merapikan meja dan kursi yang sudah digunakan hingga pukul 15.30 WIB, selanjutnya saya diberikan kesempatan untuk istirahat hingga pukul 16.15 WIB.

Menit demi menit saya nikmati waktu istirahat, baju sudah kepalang basah oleh keringat. Lapar tidak berkeinginan, namun haus benar-benar saya tahan. Kebetulan di situ ada galon air, sialnya saya tidak menemukan gelas di situ. Sudah bertanya ke salah satu pegawai, namun tidak ada respon dimana saya harus mendapatkan gelas, akhirnya haus hanya bisa saya tahan saja. Istirahat hanya saya gunakan untuk bermain handphone dan ngisis, pukul 16.00 WIB saya mulai mencari tempat ibadah, fikir saya mungkin air wudlu bisa sedikit memberikan sejuk dan duduk bersimpuh saat ibadah bisa menghilangkan lelah.

Masuk 16.30 WIB saya mulai kembali lagi bekerja. Kali ini intruksinya saya disuruh berdiri di depan pintu menyambut tamu datang, untuk mengecek suhu badan dan juga memberikan handsanitizer sebelum memasuki resto. Sebelum istirahat tadi sebetulnya saya sudah berada di depan, akan tetapi saya duduk tidak berdiri sebab lelah setelah menyapu dan mengepel lantai. Setelah istirahat, saya diberi warning tidak boleh duduk saat bekerja (oleh salah satu pegawai), melainkan harus berdiri. Meskipun tidak ada tamu yang datang, tetap harus berdiri di depan pintu sebab sudah aturan dari manajemen. Hal tersebut didukung dengan cctv yang ada disitu, sebagai pengawas (seakan) saya benar-benar tidak boleh duduk saat bekerja.

Jam berjalan sangat lambat. Tak dapat saya kira bahwa berdiri saja merupakan hal yang sangat melelahkan dan menyulitkan. Selama itu saya tak berani memandang jam tangan, sebab semakin saya sering melihat jam rasanya semakin lama pula waktu berjalan. Haus mulai tak tertahan, otak mulai berfikir dimana saya bisa mendapatkan minuman, hingga muncul satu ide. Pada akhirnya saya paksakan untuk melihat jam tangan dan waktu menunjukan pukul 17.30 WIB. Dalam hari berkata, “15 menit lagi saya pamit untuk beribadah, dan mengeksekusi ide untuk memuaskan dahaga”. Tepat pukul 17.45 WIB saya pamit beribadah. Menuju tempat wudlu, membasuh tangan, lalu membuat tangan seolah membentuk sebuah wadah, dan selanjutnya dengan bacaan bismillah satu, dua, tiga kali saya teguk air keran. Fikir saya 3 teguk akan cukup untuk beberapa jam kedepan hingga jam pulang pada pukul 22.00 WIB. Jangan tanya puasnya bagaimana, jangan berfikir soal kotor atau mentahnya. Sebab yang saya lihat saat itu hanya sifatnya, sifat dari air sebagai pelepas dahaga.

Pukul 18.00 WIB saya kembali ke posisi, berada di depan pintu sembari membawa alat pengukur suhu dan handsanitizer. Ada satpam datang, saya hampiri untuk mengajaknya ngobrol satu dua kecap. Namun pak satpam malah memperingati, agar saya tetap diposisi saya berdiri. Sebab di tempat satpam dan di dekat parkiran ada cctv yang mengawasi, akhirnya saya kembali ke posisi dan percakapan dengan pak satpam hanya sekedar senyuman dan peringatan saja. Mungkin dia sedang sibuk dengan handphone nya, atau saya yang sok akrab mencoba untuk berkenalan.

Jam terus berjalan, namun begitu sangat lambat yang saya rasa. Pikiran melayang kemana saja. Membuat saya teringat kisah seorang teman yang saya panggil Mami, pernah juga bertugas sebagai pembuka pintu atau penyambut tamu saat ada pengunjung yang datang di restoran franchise terkenal amerika tempat dia bekerja. Dia sampai harus mencari-cari waktu yang pas untuk ke kamar mandi hanya agar bisa duduk. Ada juga teman yang lain, Robi namanya. Dia bekerja di salah satu swalayan (dimana jika ada swalayan A pasti ada swalayan B di dekatnya), namun memilih untuk resign sebab tidak kuat bekerja dengan terus berdiri berjam-jam pungkasnya.

Dari apa yang sedang saya alami saat itu, ditambah beberapa pengalaman dari orang lain tersebut membuat saya memikirkan bahwa, sepertinya ada banyak sekali jenis pekerjaan dimana mengharuskan pekerjanya terus berdiri selama jam kerja berlangsung. Penerima tamu di hotel-hotel atau penginapan, pak satpam di beberapa bank yang biasa membukakan pintu, kasir swalayan, penerima tamu di beberapa resto atau rumah makan, tempat oleh-oleh dan banyak lain sebagainya. 

Pertanyaan saya kepada kalian yang bekerja pada posisi tersebut, apakah kalian merasakan yang saya rasakan? Apakah kalian juga pernah merasa sangat lelah dan capek, berdiri berjam-jam selama kurang lebih 8 jam? Apakah kalian memang ditugaskan untuk terus berdiri tanpa boleh duduk saat bekerja? Apakah kalian juga mencuri-curi waktu (hanya untuk duduk) tanpa terlihat cctv? Apakah kalian sempat merasa berat dihati sebab rasa njarem saat berdiri secara terus menerus? Jika iya mungkin kita sama. Sebagai kategori pengeluh dan penggerutu dan juga lemah. Jika tidak, saya salut kepada kalian. Kalian begitu kuat, sabar dan tabah menjalani itu. Kuat berdiri berjam-jam tanpa melakukan apa-apa. Hanya sebatas menyambut tamu yang hadir. Saya sungguh kagum dan salut kepada kalian.

Tambahan tugas lain mengiringi sepanjang waktu. Merapikan dan mebersihkan meja setelah pengunjung pulang. Mengelap meja yang kotor, mengepel lagi, menyapu lagi, menyapu halaman depan berpaving yang kotor oleh dedaunan kering. Mengepel lorong ruang pegawai. Mencuci tempat cucian piring. Menyabun timba kotor bekas sisa-sisa kuah makanan atau minuman yang tidak habis (saat closing). Mencuci barang-barang kotor saat sudah closing. Menyapu lagi. Mengepel lagi. Menggosok meja juga sebelum closing, dsb. Tugas tersebut datang bergantian dari satu, dua pegawai yang meminta tolong mengerjakannya. Kebetulan Outlet Hogsmeade tersebut memiliki sekitar 5-6 pegawai. 2 di antaranya laki-laki, bertugas sebagai kasir satu, dan kapten satu, sisanya para perempuan. Jika tidak ada yang menyuruh saya melakukan hal-hal tersebut, tugas saya kembali ke depan pintu sebagai penerima tamu skaligus scanning suhu badan.

Melakukan hal-hal tersebut tidak membuat saya sulit. Meski sedikit merasa lelah dan basah saat mengerjakannya, sebab sudah lama tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut dalam jumlah banyak dan harus sekali waktu dikerjakan. Akan tetapi yang membuat saya kesulitan adalah saat dimana saya harus kembali berdiri diam di depan pintu menunggu para tamu. Bukan saat mengerjakan pekerjaan lain seperti mengepel, menyapu, mencuci dan lain2.

Lelah dari mengerjakan pekerjaan lain, menjadi sangat lelah saat setelah mengerjakan (pekerjaan lain) harus kembali berdiri lagi bukan duduk atau pun istirahat. Rasanya jam berputar selisih 30 menit sekali, tiap saya melihatnya. Saat kembali berdiri (lagi) fikiran kembali berkecamuk. Debat dengan entah siapa yang berbicara di dalam diri saya, sebab rasa haus membuat saya semakin tak kuasa. Berdebat antara terus bertahan dan menyerah. Banyak keputusan yang kala itu akan berakhir nekat jika saya melakukannya. Keputusan pertama, langsung pamit kepada kapten lalu mengundurkan diri dari training. Keputusan kedua, meminta minum atau jika harus beli saya akan beli. Keputusan ketiga, jika meminta minum tidak di beri saya nekat pamit pergi. Akhirnya setelah mengepel lantai untuk yang entah keberapa, saya nekat meminta minum. Untungnya saya menemukan gelas kotor bekas kopi yang entah milik siapa, saya cuci dan saya gunakan minum. Gelas tersebut berukuran sekitar 2-3 liter air, saya isi full lalu saya minum dengan satu kali minum. Setelahnya saya kembali ke pos saya, dimana saya harus berdiri lagi.

Saya beri gambaran bagaimana rasanya saat berdiri. Dibeberapa bagian tubuh menjadi terasa denyutnya. Kalo dalam bahasa jawa itu njarem, entah apa bahasa indonesianya. Tumit rasanya berdenyut, betis rasanya seperti bengkak. Akhirnya saya buat gerak bergantian antara kaki kanan dan kaki kiri. Sesekali berjalan ke kanan lalu berjalan ke kiri seperti model yang sedang memperagakan busana. Jika pun tak malu mungkin saya sudah membuat video tiktok atau joget jamet yang lagi viral untuk melupakan rasa capeknya kaki. Begitulah saya mengkontruksi otak, dengan membayangkan sedikit komedi untuk bertahan sampai jam pulang datang. Selebihnya pinggang bagian belakang terasa pegel, mungkin sebab sering membungkuk saat menyapu atau mengepel.

Dalam usaha melupakan rasa njarem pada kaki, hati pun terus berdebat. Perihal terus melanjutkan training atau tidak untuk keesokan harinya. Sebab seperti intruksi si kapten, 2 hari pertama tidak di gaji, akan digaji jika masuk hari ke 3 sampai tiba masa penggajian dengan nominal gaji yang saya juga belum tahu. Sejujurnya saya sudah tak ingin lanjut, sebab tak kuat dengan tugas berdiri depan pintu yang diberikan, selain itu saya tak merasa keberatan. Akan tetapi diri saya merasa malu, sebab ibu sudah mengupayakan sampai harus keluar uang untuk membelikan saya celana jeans hitam.
Keberuntungan berpihak kepada saya, sebab malam itu toko tutup lebih awal pukul 9 malam. 

Sehingga pukul 20.00 WIB saya sudah tidak berada di depan pintu akan tetapi membantu pegawai yang lain untuk closing. Melakukan apapun pekerjaan yang belum dikerjakan sesuai yang diminta pegawai lain untuk lakukan. Sepulang dari lokasi training saya mampir di indomaret, membeli es kopi susu sembari memikirkan keputusan saya. Sebetulnya saya pun malu untuk pulang. Tak tahu harus menjelaskan apa kepada ibu besoknya. Meski saya sebenarnya sudah memikirkan alasan untuk berbohong. Mengatakan bahwa training hanya sehari, selanjutnya nanti dikabari melalui whatsapp oleh pihak terkait perihal keputusan diterima atau ditolak. Rencana tersebut akan saya gunakan, sebab saya merasa tak mampu untuk menjelaskan alasan sebenarnya, dimana saya tidak kuat jika diharuskan bekerja dengan berdiri selama berjam-jam.

Ini adalah kali kedua saya membuat apa yang di upayakan ibu berakhir sia-sia. Sebelumnya ibu mengupayakan uang senilai 170.000 untuk tes kesehatan dan ronsen dada sebagai persyaratan seleksi pekerjaan di pabrik. Uang tersebut terbuang sia-sia sebab pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak melanjutkan. Cerita selengkapnya ada pada tulisan lain berjudul Folder No 92. Dua pekerjaan dimana ada upaya ibu di dalamnya namun tak berakhir dengan semestinya sesuai yang diharapkan.
Dalam kesempatan lain juga pernah saya lakukan, sebut saja menolak rejeki. Setelah membaca paragraf ini kalian boleh dengan bebas menilai apapun yang bisa kalian nilai tentang diri saya. Jika tidak lupa saya pernah menolak atau membuat saya di tolak pada beberapa kesempatan pekerjaan yang hampir menerima saya.

Pertama pada bulan Desember 2019 setelah libur natal, saya mendapat panggilan interview di mangga dua surabaya sebagai staff finance. Lolos tes tahap interview dan berlanjut psikotes namun saya tidak hadir. Sebab saat interview sebelumnya, seseorang yang menginterview saya berkata, “kalo tidak pernah dipakai terus buat apa ini? (membanting berkas ijasah saya ke tumpukan kertas tak terpakai), dibuang saja ya seperti berkas lain yang tidak lolos seleksi, sia-sia kamu kuliah bahasa namun tak pernah digunakan”.

Kedua saya pernah mengikuti walk interview sebagai Staff Purchasing. Meski tidak sesuai background ijasah, saya memiliki sedikit kualifikasi seperti yang ditentukan. Interview berakhir dengan saya dinyatakan gagal untuk posisi staff purchasing, akan tetapi saya diberi tawaran untuk menempati posisi staff marketing dengan nominal gaji awal 2.5jt, training 1 bulan. Namun pada akhirnya saya melewatkan kesempatan itu, dengan dalih saya merasa tak mampu minder untuk bekerja di bidang marketing. Apa lagi barang yang harus saya pasarkan berupa mesin.

Ketiga di Resto Quali Jember, saya melamar sebagai Assisten Supervisor. Interview pertama lolos, interview kedua juga lolos. Selanjutnya di undang untuk melakukan interview dengan pihak HRD. Bodohnya kala itu saya tidak datang sebab sudah ada janji acara dengan anak-anak HPI. Kebutuhan bertarung melawan kebersamaan, kebutuhan finansial & menjaga janji dengan kawan dekat. Sehingga saya jujur minta reschedule, dan mereka berkata akan menyanggupi. Namun, sampai detik ini saya tidak dihubungi sama sekali.

Keempat di Cafe Senja di Jember, saya melamar sebagai kitchen. Mendapat undangan interview melalui whatsapp. Namun saya tidak bisa hadir. Sebab ibu tidak mengizinkan saya untuk pergi ke jember. Mungkin sebab kala itu ibu belum memiliki uang. Sedangkan transportasi kereta atau bis tidak cukup dengan 100 ribu saja. Kelima dan keenam merupakan kejadian dimana upaya ibu terbawa di dalamnya.   

Terkait dengan kisah saya, saya ingin titip pesan bagi kalian. Mungkin kalian kelak merupakan seorang atasan, atau bos, atau manager atau apalah itu. Saya sampaikan, pekerjaan dengan hanya berdiri selama 8 jam kerja itu merupakan hal yang sulit dan tidak mudah untuk dilakukan. Jangan lah dibuat peraturan yang kaku seakan membuat pegawai takut untuk sekedar duduk sebab ada pantauan cctv. Berikanlah keluwesan namun tetap tertib, sebab bagaimana pun pegawaimu juga manusia, bukan robot selamat datang yang bisa berdiri berjam-jam. Buatlah peraturan pegawai dengan memposisikan dirimu pada posisi tersebut. Sehingga jika engkau tak mampu untuk melakukan, ya jangan kamu terapkan kepada pegawai mu juga. Setidaknya ingatlah, manusiakan manusia dimana engkau sendiri juga manusia bukan dewa.

Terakhir, untuk calon istri saya siapapun kamu. Maafkan saya di usia saya yang hampir menginjak 26 tahun (1 bulan lagi) saya belum memiliki pekerjaan tetap yang bisa menjamin kebahagiaan mu. Saya masih menganggur dan tidak tahu entah kapan akan menghalalkanmu. Memang mungkin kita belum dipertemukan. Hanya saja entah bagaimana, saya seringkali bingung jikalau saja tiba-tiba bertemu dengan mu dan saya masih tak memiliki apapun untuk membahagiakan mu. Jikalau saja bertemu dengan mu dan engkau ingin aku segera menghalalkan mu. Saya bingung harus berbuat apa nantinya. Harap ku do’a kan aku, jika engkau benar jodohku semoga kita dipertemukan dalam kondisi yang benar-benar mampu.[] 

Folder No. 92


Sedikit bercerita perihal isi folder dan kisah kisah di dalamnya. Sebelum masuk kedalam cerita, ada baiknya akan saya sedikit jelaskan perihal apa itu folder dan penjelasan mengenai nomer dari folder tersebut. Jadi folder yang saya beri nomer di atas merupakan folder-folder nama perusahaan yang saya buat untuk melamar pekerjaan. Sedangkan nomor nya merupakan jumlah banyaknya atau urutan lamaran kerja yang sudah pernah saya keluarkan, entah melamar pekerjaan melalui email ataupun melalui kantor pos. Hal tersebut saya gunakan sebagai bahan tulisan untuk menghindari penyebutan nama tempat perusahaan atau pabrik terkait yang saya lamar.

Ini adalah kisah dari Folder No. 92, folder tersebut kosong tanpa ada file di dalamnya. Hal tersebut sebab saya menggunakan jasa pihak ke-2 sebagai penyalur tenaga kerja kepada perusahaan atau pabrik yang sudah menjalin kerja sama dengan pihak ke-2 tersebut. Singkat cerita saya mendapatkan panggilan masuk dari pihak ke-2 untuk segera melakukan tes Medical Check Up. Sebelumnya saya sudah di kasih informasi dari sepupu yang menawarkan suatu pekerjaan. Kebetulan sepupu saya bekerja sebagai pihak ke-2 namun bertempat di pusat, sedangkan yang menghubungi saya merupakan orang cabang.

Tanpa pikir panjang saya mengiyakan dan segera melakukan tes MCU pada waktu dan lokasi yang sudah ditentukan. Sebab dari informasi singkat saudara saya, saya memang tertarik dengan posisi yang ditawarkan oleh perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, kala itu diberitahukan sebagai Admin.

Tes pun terlaksana di salah satu puskesmas di suatu daerah. Tes kali ini merupakan tes pertama saya untuk mengecek kesehatan fisik saya. Berawal dari tes urin, tes buta warna, tinggi badan, berat badan, detak jantung, anatomi & postur badan (mungkin itu sebutannya, sebab kala itu saya di suruh melepas baju dan menurunkan celana), terakhir ronsen di bagian dada.

Hasil tes pun akhirnya keluar pada hari itu juga, dan saya di informasikan untuk mengantarkan hasil tes kesehatan tersebut ke kantor pihak ke-2 sebagai penyalur tenaga kerja.  Sampai di sana barulah saya berkenalan dan di jelaskan sedikit perihal job desk pekerjaan saya kelak. Bapak tersebut menjelaskan bahwa posisi yang akan saya tempati adalah sebagai Admin Gudang. Jauh dari persepsi dan bayangan saya yang mengimajinasikan posisi Admin tersebut sebagai Admin Kantor. Sejenak membisu karena ragu, hingga muncul beberapa rasa penasaran terkait pekerjaan sebagai Admin Gudang tersebut.

Keraguan saya perihal penjelasan job desk Admin Gudang terbawa sampai ke rumah. Saya pun menangguhkan pertanyaan Bapak pihak ke-2 tersebut terkait kesanggupan bekerja sebagai Admin Gudang tersebut. Banyak pertimbangan yang akhirnya saya fikirkan, hingga memaksa saya untuk berhenti di salah satu warung kopi dan mengabaikan waktu ibadah Jum’at yang seharusnya saya tunaikan.

Keraguan saya berubah menjadi kebingungan. Bingung bagaimana cara memberi alasan yang tidak mengecewakan ibuk saat tau ternyata saya kurang berminat pada posisi pekerjaan tersebut. Sebab, juga sudah menghabiskan uang secara sengaja guna melakukan tes kesehatan sebelumnya. Selanjutnya saya juga merasa malu terhadap sepupu saya, yang telah mensaranai CV saya untuk di salurkan kepada perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan tersebut, tapi saya kurang berminat.
Memang gaji yang ditawarkan sangat menggiurkan, sebab sudah menyentuh UMK setempat. Namun, yang membuat saya kepikiran adalah soal kenyamanan. Percuma gaji besar jika tidak merasa nyaman saat bekerja. Apa lagi pekerjaan tersebut akan menjadi kegiatan sehari-hari kita sampai entah kapan pun itu. Selain itu, saya khawatir jika sudah tidak merasa nyaman saya nekat pindah dan mencari pekerjaan lain. Sedangkan usia saya sudah tidak muda lagi. sedangkan, lebih banyak lowongan kerja dengan kualifikasi maksimal usia 25 tahun sebagai persyaratan. Selain itu bukan tipikan saya juga yang menargetkan mendapatkan gaji tinggi saat bekerja.

Hari berlalu dan selanjutnya saya bertemu dengan mas-mas penyalur pekerjaan tersebut, sembari saya mengambil hasil tes ronsen di laboratorium. Saat bertemu untuk yang kedua kali saya memberikan banyak pertanyaan guna memuaskan rasa penasaran saya, sebelum mengiyakan untuk menerima pekerjaan tersebut. Setelah percakapan yang ternyata tidak berlangsung lama tersebut, saya sudah yakin dan mengambil keputusan untuk mundur dan tidak melanjutkan proses rekrutmen tersebut. Sehingga bisa digantikan oleh orang lain yang lebih butuh dan beruntung. Setelah ini tinggal meminta maaf dan menjelaskan alasan kepada ibuk, perihal menghabiskan uang yang diberikan untuk tes kesehatan dan juga alasan kenapa saya tidak mengambil kesempatan tersebut. Akhirnya kembali berharap lagi dan berusaha lagi untuk mencari jalan lain. []


Minggu, 06 Agustus 2017

Nestapa

Bisanya hanya lari kesana kemari...
Menabur kesedihan demi menuai perhatian
Hanya karena rasa kesepian
Kekosongan yang saat itu juga sedang dirasa
Hingga akhirnya menyalahakan sang waktu..

Waktu terus berjalan dan tanpa ada pelajaran yang bisa aku ambil
Hanya membiarkan lewat begitu saja..
Terjebak kenyamanan hingga satu persatu pamit untuk kembali pulang
Hanya berteriak teriak kesana kemari..
Mengaduh kepada siapapun yang peduli
Mencari perhatian demi mengisi kekosongan akan sepi

Terjebak sang waktu bukan hal yang mudah..
Dimana menjadi saksi bisu datang dan pergi
Datang membawa kebahagiaan saat itu lalu pergi dengan kerinduan tanpa temu
Sekali lagi merasa sepi..

Aku saja tak tahu apa ini yang sedang aku rasa
Kadang bahagia.. kadang sedih.. kadang marah tanpa henti..
Merasa sepi.. tanpa bisa merubah diri..
Sepi tak terarah.. berlari lagi menghindari..
Namun sepi lagi yang aku temui..

Kamis, 22 Desember 2016

Dia yang Aku Panggil Ibuk

Lokasi : Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri
Depok, 29 Mei 2014
Diambil saat sedang ziarah wali songo



Buk.. 
pie kabare samean?
sehat tho.. 
samean masak opo buk...
wes maem durung samean mau?
nek durung, samean ndang maem...
ojo lali istirahat... ojo kesel2 samean iku...

Buk.. 
sepurane nggeh.. 
sampek akhir tahun niki kulo dereng saget damel bapak ibuk bangga... 
dereng saget damel samean seneng... 
kuliah molor... dereng lulus2 padahal kancane pun podo katah seng lulus.
sepurane nggeh buk... 
kulo dereng saget mbantu perekonomian keluarga... 
malah nggawe soro samean kale bapak... gara2 kuliah molor... 

Buk..
sekedik maleh... 
sekedik maleh nggeh samean entosi... mantun niki kulo lulus...
nggeh nek saget mboten sekedik... tapi nggeh sak terus e...
amergo kulo nggeh iri kale rencang2 kulo.
pengen samean ndugi ten wisuda kulo...
pengen samean ngertos mbesok damel ngerestui kulo rabi... 
pengen samean saget nggendong putu samean... 

Buk...
ngapunten nggeh buk... 
ngapunten sing kuatah... kulo nyesel, dereng lulus2 sampek ayah mboten wonten...

Buk...
samean sing kuat nggeh... 
sehat terus... 
kulo mung saget sms... 
mboten wantun ngomong langsung... 
ngapunten nggeh buk... 
Selamat Hari Ibu...


Ini merupakan pesan yang sempat saya kirimkan ke Ibuk pagi ini. Saya tahu ibuk pasti belum membuka hp untuk membaca pesan ini. Biasanya jam segini ibu sedang sibuk mempersiapkan botokan untuk dititipkan di pasar tradisional terdekat, meracik es sinom, gorengan untuk di jual di depan rumah, dan beberapa botol bensin yang kosong untuk di isi. Bangun pukul 03.00 dini hari setelah sholat sampai pukul 10.00 pagi, setelah itu duduk menunggu pembeli gorengan dan bensin di depan rumah. Kegiatan baru ibuk setelah ayah pergi. Terkadang warung belum sampai buka banyak pembeli yang sudah memesan, 5 ribu sampai 10 ribu. Es Sinom dan gorengan molen ibuk paling laris diserbu pembeli, sehingga masih belum buka sudah habis di pesan orang.

Akhir-akhir ini memang sering saya berkirim pesan dengan ibuk. Berbicara soal masakan ibuk sampai kegiatan yang saya lakukan setiap harinya. Sedikit cerita tentang ibuk, ibuk saya sosok yang benar-benar sangat mandiri. Semua hal yang bisa dikerjakannya akan dikerjakan sendiri. Seperti beberapa hari yang lalu, ibuk memotong sendiri pohon buah srikaya di depan rumah menggunakan golok. Anehnya mungkin karena kekuatan ibuk terlalu besar golok tersebut sampai lepas dari pegangannya. Saya hanya bisa heran membaca pesan dari ibuk sebab saya masih posisi di Jember.

Foto di atas merupakan foto Ibuk dan Bapak saat melakukan perjalanan ziarah wali sembilan, berlokasi di Masjid Kubah Emas Depok. 29 Mei 2014 tahun kemarin. Mereka berdua layaknya muda-mudi yang lagi pacaran. Sebab waktu bapak dan ibuk berangkat ke wali songo saya sedang berada di Jember dan adik ada di pondok Jombang.

Jika saya di rumah, sering saya membayangkan foto mereka berdua sembari mengenakan kain ihram. Seperti yang mereka berdua cita-citakan, sehingga membuat mereka berdua mendaftar dan menabung untuk mewujudkannya. Namun apa daya, harus menunggu beberapa tahun bapak dan ibuk baru bisa berangkat. Sampai Tuhan berkata lain memilih untuk segera bertemu bapak. Terkadang saya heran kenapa antrian harus begitu panjang.

Ibuk dan Bapak... Saya kasih tahu. Mereka berdua merupakan pasangan sederhana yang sangat romantis. Candaan mereka saat dirumah terkadang membuat saya rindu. Saling berbalas kentut, saling ejek sebab rambut sudah mulai banyak tumbuh uban, saling ejek gara2 sudah mulai pikun. Entahlah.. saya tak kuat mengingatnya. Sering kali sikap mereka membuat saya heran. Pernah suatu ketika mendapat undangan resepsi pernikahan dari salah satu saudara. Sampai di tempat parkir Bapak dan Ibuk baru sadar acara resepsi di adakan di sebuah gedung mewah. Beberapa pengunjung menggunakan Jas dan Gaun2 cantik lainnya. Sedangkan Bapak hanya mengenakan sarung dengan baju batik dan berkopyah, Ibuk memakai setelan baju daster bepergian tak jauh beda seperti yang ada di foto. Parahnya Bapak salah memakai sendal jepit -kebiasaan bapak sebab matanya sedikit kabur saat gelap-. Akhirnya mereka pulang dan berkata ke penjaga parkir mereka kesasar.

Ibuk.. ingin sebenarnya saya untuk memeluknya saat di rumah. Namun dasarnya saya memang pemalu, hal itu jadi hanya keinginan saja. Akhir-akhir ini saya sering merindukannya. Saya selalu berdo'a semoga ibuk bisa kuat. 40 harian ayah kemarin ibuk masih belum mampu untuk pergi ke makam bapak. Melalui bapak dan ibuk saya benar-benar belajar banyak. Bagaimana itu perpisahan sampai indahnya suatu hubungan kesetiaan yang abadi. Bukan layaknya pemuda pemudi atau abg-abg labil yang setelah putus lalu update status mewek, nangis di medsos. Atau mbribik kata2 galau takut perpisahan dan ditinggalkan. Lebih dari itu... sulit untuk menjelaskannya.

Hanya ini yang bisa saya tulis untuk ibuk. Selebihnya masih saya buat proyek tulisan yang menceritakan lebih lengkap tentang sosok bapak dan ibuk. Semoga akhir tahun ini bisa selesai. Untuk sekarang hanya do'a, do'a dan do'a yang bisa saya lakukan dan berikan. Agar Tuhan bisa selalu menjaga ibuk saya dan menempatkan bapak di tempat yang terbaik. Amin. Tabik. []

Rabu, 14 September 2016

Peninggalan Tanpa Wujud


Lanjutan tulisan saya yang berjudul pesan whatsapp. Baru saja saya bangkit dari kemalasan yang mendera akhirnya bisa menulis lagi. Tulisan ini, jika bisa saya dedikasikan untuk ibu beribu terimakasih atas apa yang telah engkau berikan. Terucap rasa syukur atas apa yang telah engkau ajarkan. Satu pelajaran penuh arti, pelajaran untuk bertahan hidup.

Di tulisan sebelumnya saya mengakhiri tulisan dengan menuliskan telah diterima bekerja di sebuah cafe. Berikut kelanjutan kisahnya. Saya bekerja sejak tanggal 15 Maret 2016 masih teringat dengan jelas. Cafe tersebut letaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal hanya sekitar 15 menit berjalan kaki. Saya diterima bekerja sebagai seorang pelayan, mengantarkan gelas demi gelas disetiap meja sesuai permintaan pelanggan. Nampaknya memang bukan pekerjaan yang sulit namun disini lah kisah ini berlanjut.

Saya adalah seorang pelayan cafe sejak bekerja di cafe tersebut. Cafe Cangkir Kita terletak di jalan tidar berdekatan dengan Zona Futsal. Jika waktu senggang mempirlah mari untuk meneguk segelas kopi dan menikmati malam. Sebagai seorang pelayan job dis saya tidak banyak namun sedikit berat serta memerlukan banyak tenaga dan kesabaran. Cangkir memiliki 4 pegawai semuanya laki-laki diantaranya ada Kasir, Barista, Koki & Pelayan. Jam kerja saya dari pukul 19.00 sampai pukul 01.00 atau bahasa lainya sampai cafe tutup. Saya memang bekerja sebagai pelayan namun tugas utama saya adalah sebagai tukang cuci gelas-gelas kotor. Jangan bingung itu termasuk dalam satu paket job dis saya.

"Jika ada banyak gelas kotor kamu fokusnya nyelesaikan gelas-gelas tersebut, nanti ngantarkan makanan dan minuman di tanggung bersama" perkataan Mas Yopi salah satu owner Cangkir saat hari pertama saya training kerja. Seperti yang saya katakan tidak banyak job dis saya. Mencuci gelas-gelas kotor yang menumpuk, mengantarkan makanan dan minuman saat cucian sudah selesai, mengambil satu per satu gelas di meja meja yang sudah di tinggalkan dan terakhir membantu pegawai lain untuk menutup Cafe.

Hari pertama bekerja saya disambut dengan setumpuk cucian gelas kotor. Hari hari berikutnya hal tersebut menjadi terbiasa, dalam sehari saya dapat menghasilkan 3-5 bak besar penuh yang biasa digunakan untu mencuci pakaian (saya tak tahu indonesianya). 1-2 bak sebelum jam malam mendekati close order, 2-3 bak dari pukul 23.00 sampai jam close order 24.00 WIB. Hari pertama masih tak terasa, seminggu pertama baik-baik saja, seminggu kedua mulai terasa lelah, sampai sebulan pertama saya berhasil untuk melewatinya.

Perjalanan satu bulan pertama banyak keluh kesah dalam hati yang harus saya lalui. Bekerja itu lelah, mencari uang itu susah, disitu saya menyadari dan mempelajarai banyak hal. Suatu ketika -saat sedang menghabiskan banyak cucian- pernah terlintas dalam benak saya bahwa mencuci piring dan gelas adalah pelajaran yang di ajarkan ibu saya saat mulai beranjak dewasa. Saya lupa tepatnya umur berapa saya mulai di ajarkan untuk mandiri. Membantu mencuci piring dan gelas di rumah, membersihkan rumah, mencuci baju dan masih banyak yang lain. Sekilas saya teringat apa yang ibu ajarkan. Ada haru disana. Peninggalan tanpa wujud, kemandirian. Peninggalan yang membuat saya bertahan dalam usaha mencari satu-dua lembar uang saku tambahan. Saya bersyukur, terimakasih buk.

Sepinya pasar ayah membuat ibu, adek dan saya harus mencari tambahan meringankan keuangan keluarga. Ibu dengan pekerjaanya di usaha rumahan pembuatan kursi. Adek dengan menjual es lilin (ini membuat saya haru tertahan saat mendengar cerita dari ibu) agar bisa mendapat tambahan uang saku. Saya bekerja di cafe untuk mencari tambahan uang saku juga, sebab adek dan saya tidak setiap saat bisa mendapatkan uang saku (tapi orang tua kami selalu mengusahakan agar tetap bisa memberi uang saku). Heran, ada saat dimana saya sedang bekerja teringat ibu, ayah dan adek yang sama-sama bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Ingatan itu seperti kilasan film yang berjalan menampakan wajah teduh mereka, lelah, senyum semua bercampur menjadi satu memunculkan rindu.

Sampai saya menuliskan kisah ini saya masih terus selalu bersyukur. Banyak perubahan yang sudah saya alami. Banyak pelajaran yang sudah dan masih saya pelajari tentang hidup. 2 bulan pertama saya bekerja sebagai pelayan merangkap tukang cuci. 2 bulan berikutnya saya menjadi tukang masak (memasak makanan ringan french fries, pop corn dan mie). Sekarang dan masih saya jalani menjadi kasir. Perubahan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Banyak jalan yang sudah Tuhan berikan dalam bentuk pilihan. Kita hanya perlu memilih lalu ikhlas dan bersyukur menjalani. Jangan pernah ragu dan berfikir negatif. Kita tak akan pernah tahu rencana Tuhan.[]
     




Selasa, 19 April 2016

Pesan Whatsapp


Sebenarnya tulisan ini sudah seharusnya selesai beberapa hari yang lalu saat hari pertama bekerja. Namun karena masih awal pertama bekerja, masih belum terbiasa sehingga sepulang bekerja pukul 01.00 dini hari saya langsung tertidur pulas saat sampai di kamar kos.

Sembari mengunyah biskuit abon malkist saya memulai menuliskan awal mula, termasuk alasan dimana saya memang sudah seharusnya untuk mencari pekerjaan di tahun terakhir saya berkuliah. Selasa, 07 Maret 2016 sekitar pukul 18.45 WIB setelah sholat isya lebih tepatnya saya mendapatkan pesan whatsapp masuk. Pesan tersebut dari bibi, adik dari ibu saya yang biasa saya sapa dengan sapaan Lek Bin kepanjangan dari Binarti nama lengkapnya. Biasannya saat Lek Bin sms, telepon, atau mengirim pesan whatsapp tidak pernah jauh dari bertanya kabar, sudah makan atau belum, hingga bersambung pada sesi curhat dimana Lek Bin menceritakan kegiatan anaknya Galang yang berusia sekitar 4-5 tahun. Galang memang lumayan dekat dengan saya. Saat libur panjang kuliah dan sedang pulang ke Madiun Galang tidak pernah lepas dengan saya, kemanapun saya pergi Galang selalu ikut.

Kembali ke pasan whatsapp. Hari itu berbeda dari biasanya. Tidak ada sesi curhat, namun diganti dengan pertanyaan kapan saya akan di wisuda. Pertanyaan yang jarang sekali terlontar dari keluarga saya. Saya pun menjelaskannya dengan panjang lebar perihal keterlambatan perkuliahan saya sehingga berujung pada molornya masa studi. Lek Bin lalu mengatakan pertanyaan tersebut datang dari ibu saya, dimana sehari sebelumnya ibu ber-sms ria dengan lek bin. Selanjutnya lek bin mengirimkan screenshoot potongan pesan dari ibu, setelah membaca potongan-potongan pesan tersebut saya hanya bisa terdiam. Banyak fikiran berkecamuk tak tentu arah bingung, sedih, marah, hingga berakhir dimana saya hanya bisa menyalahkan diri saya atas segala hal. Seperti anak labil tiba-tiba butuh rokok, kopi, tempat untuk menyendiri, pacar untuk berbagi (sayangnya saya tidak punya), akhirnya saya mencari Yayan Si Anak Terong untuk menceritakan ke kalutan atas fikiran saya.

Potongan pesan tersebut berisi kebingungan tertahan dari ibu saya. Adakalanya ibu merasa malu, sebab teman-teman sekolah dasar saya dulu sudah akan di wisuda sarjana. Sialnya lagi ayah dari salah satu teman sd saya tersebut –yang jarak rumahnya hanya sepelemparan batu dari rumah saya- selalu update kabar terbaru saya, sembari mengunggul-unggulkan anaknya sehingga membuat ibu semakin malu. Adakalanya ibu merasa kesal sebab kuliah saya yang tak kunjung usai, sehingga membuat ibu saya terbelit hutang guna masih harus membiayai molornya kuliah saya. Belum lagi uang SPP sekolah adek –sekarang harus bayar sebab bukan asli warga surabaya- yang harus menunggak tiga bulan lalu uang bulanan listrik yang masih menunggak juga.

Ibu bingung –saya khawatir akan kesehatannya- harus bagaimana. Ibu juga khawatir darah tinggi ayah naik jika tertekan kondisi dan banyak fikiran. Keadaan ekonomi keluarga sekarang memang sedang mengalami banyak cobaan. Tidak lagi terlihat tetangga rumah yang biasa mencari ikan atau pemilik tambak yang menjual ikannya di rumah, sebab sudah banyak tambak ­ter-uruk tanah untuk dijadikan pabrik dan perumahan. Agar tetap bisa berdagang ikan ayah harus kulakan di pasar ikan dimana harga ikan sangat tinggi tidak sebanding dengan harga penjualan. Belum lagi jika bertemu ibu-ibu yang menawar dengan harga tidak manusiawi yang akan mencibir saat tidak berhasil menawar.

Akhirnya ibu juga bekerja guna membantu perekonomian keluarga, begitu juga dengan adek. Ibu bekerja di usaha rumahan pembuatan kursi –entah kursi seperti apa- yang tidak jauh dari tempat kost ibu saat masih muda. Sedangkan adek berjualan es lilin di sekolah walaupun tidak banyak hanya 12-15 biji. Kata ibu adek masih dalam tahap berlatih, awalnya malu tapi pelan-pelan ibu juga memahamkan kondisi ekonomi keluarga sehingga adek pun mau. Mendengar cerita itu mata saya berkaca-kaca walaupun sudah menetes satu.  

Bekerja Tanpa Ijazah

Pesan whatsapp tersebut saya ceritakan pada dua teman saya, Yayan dan Nisful. Yayan ini teman seangkatan SMA saat di pesantren, tapi kami baru akrab saat sama-sama merantau kuliah di Jember. Sedangkan Nisful –teman dunia maya, sebab telepon nyasar- saya tidak pernah kenal dan bertemu dengannya tapi kami sangat akrab dan sering saling curhat.

Bekerja menjadi pilihan terakhir untuk bisa bertahan menghadapi kondisi tersebut. Tujuannya agar ada pemasukan tanpa mengharap kiriman orang tua, tetap bisa segera lulus walau harus kuliah sambil bekerja dan menebus kesalahan untuk membiayai sendiri molornya kuliah sebagai bentuk tanggung jawab. Saya tidak memilih menjadi guru les, selain sudah pernah saya juga kurang tertarik jika harus mengajar walaupun sebenarnya mampu. Sebelumnya saya juga sudah pernah melamar kerja. Dari tiga surat lamaran kerja yang saya kirim, hanya satu yang berhasil lolos hingga sampai ke tahap wawancara sebelum benar-benar diterima. Namun semangat tersebut pupus saat tes wawancara, sebab mahasiswa yang masih berkuliah kurang begitu dipertimbangkan untuk diterima. Alasannya karena jam kerja yang padat pasti akan mengganggu perkuliahan. Alasan tersebut yang membuat saya gagal untuk diterima.

Sejak saat itu saya tida tertarik lagi untuk melamar atau hanya memasukan surat lamaran kerja. Memang, sampai semester 10 sekarang ini saya masih juga menempuh mata kuliah. Tujuan saya adalah untuk mendongkrak IPK yang masih belum memasuki angka 3, padahal tinggal 6 angka lagi dibelakang koma untuk mencapai angka 3. Nasehat teman saya kuliah sudah terlanjur molor akan rugi jadinya kalo tidak mencapai angka 3.

Setelah hadir pesan whatsapp saya kembali bergerilya dari satu grup info lowongan kerja di facebook ke group yang lain, dari satu teman ke teman yang lain. Sasaran saya pekerjaan sebagai pelayan di cafe atau restoran, menjaga kios distro, atau menjaga warnet. Jika ada postingan info lowongan kerja di facebook langsung saya hubungi contact person-nya, membuat cv dan lamaran lalu kirim. Jika ada info dari teman langsung saya datangi tempat yang dimaksud, bertanya, membuat cv dan lamaran lalu kirim. Terus seperti itu.

Saya membeli satu bendel amplop coklat besar yang biasa digunakan untuk melamar pekerjaan. Pertimbangannya lebih murah membeli satu bendel dari pada jika harus membeli per-biji, selain itu juga praktis tidak harus berkali-kali beli. Saat itu bendelan amplop coklat sudah hampir habis, namun setelah berbulan-bulan belum juga ada panggilan dari pihak tempat saya memasukan lamaran kerja. Ada satu panggilan tapi saya tidak cocok dengan jam kerjanya, sebab tidak memberikan saya waktu untuk mengerjakan skripsi.

Sampai pada sebuah postingan di facebook dengan akun bernama Yopi yang memposting lowongan pekerjaan sebagai pelayan di Cafe Cangkir Kita. Lokasinya tidak jauh dari pondok tempat saya tinggal, hanya sejauh suara adzan dari pengeras suara di masjid. Selanjutnya saya mengirim pesan pada CP yang tertera di postingan, sayangnya hanya berbalas permohonan maaf sebab sudah ada orang yang lebih dahulu mengisi lowongan. Namun saya akan dihubungi kembali jika orang tersebut membatalkan untuk memasuki lowongan.

Pasrah, sebagai jalan terakhir sembari tetap bergerilya. Setiap malam kegiatannya hanya ngopi dari satu tempat ke tempat yang lain sambil sesekali bertanya adakah lowongan pekerjaan. Membayangkan untuk melakukan hal nekat namun nalar masih tetap bermain. Sampai pada suatu sore dimana saat itu sedang membantu teman-teman yang lain untuk melatih silat. Latihan selesai, tiga panggilan tak terjawab dengan nomor asing dan satu pesan sms muncul di layar handphone. Sms tersebut berisi jika masih tertarik untuk bekerja agar segera datang ke Cafe Cangkir Kita pukul 17.00 WIB untuk menemui orang yang namanya tersebut di dalam pesan. Sialnya saat saya membuka pesan waktu sudah menunjukan pukul 17.30 WIB. Saya mengirimkan pesan permohonan maaf dan jika masih di izinkan saya akan datang pukul 19.00 WIB untuk menemui orang tersebut namanya di atas. Nasib baik sedang berpihak, pesan tersebut berbalas positif.

Pukul 19.00 WIB saya datang ke cafe tersebut lalu bertemu dengan salah satu diantara Mas Fikar, Mas Yopi, dan Mas As’ad untuk membicarakan perihal lowongan pekerjaan tersebut. Sejauh yang saya ingat orang yang menemui saya saat itu adalah As’ad, salah satu pegawai di Cafe Cangkir. Disitu saya diberitahu perihal jam kerja, gaji, deskripsi pekerjaan beserta hal-hal kecil yang lain. Beberapa pertanyaan sempat saya lontarkan sebab ada yang masih membuat saya mengganjal. Pertanyaan pertama perihal cv dan surat lamaran kerja: hal tersebut ternyata tidak berlaku di sini, yang dibutuhkan hanyalah sistem saling percaya dan niat serius untuk bekerja. hal ini sangat bertolak belakang dengan banyaknya cv, ijazah dan lamaran kerja yang sudah banyak saya sebar namun tidak satupun jawaban yang masuk. sedangkan ini tanpa embel-embel tersebut sudah bisa diterima. Pertanyaan kedua perihal pakaian saat kerja sebab saya kurang suka jika harus berpenampilan serba formal setiap hari, ibu saya saja pernah mengatakan bagaimana nanti saya jika bekerja kalau tidak suka berpenampilan rapi, pakaian formal pun juga tidak berlaku disini. Selanjutnya pertanyaan terakhir adalah perihal permohonan waktu sehari untuk mempertimbangkan sebelum saya memutuskan, dan berbalas positif.


Selanjutnya saya benar-benar bekerja ditempat tersebut sampai saat saya menuliskan tulisan ini. Selebihnya masih banyak keajaiban-keajaiban yang tak terduga sebelumnya yang belum sempat saya sampaikan pada tulisan ini, dan akan bersambung pada kesempatan berikutnya.[]