Senin, 04 Desember 2023

Bahagia itu Hari Ini, Tak Perlu Harus Menunggu Nanti

 


“Hanya satu cara untuk bahagia, yaitu dengan berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kuasa kita.” –Epictetus

Sampai sejauh ini usiaku (tepatnya hampir mencapai kepala tiga), belum benar aku pahami tentang apa itu bahagia. Entah sebab egoku terlalu tinggi, atau mungkin tingkatan kepekaanku memang tumpul. Hanya saja, yang aku pahami adalah aku tidak pernah memusingkan segala sesuatu yang sama sekali tidak ada kaitannya denganku. Selama itu tidak mengganggu, aku pun tetap akan merasa damai dengan duniaku. Meski, aku paham tak selamanya hidup bisa seacuh itu.

Tentunya dalam satu atau dua kali, tetap saja kita akan pernah merasa terganggu, meski sudah sangat acuh. Pada tahap ini, kita tinggal memilih. Seperti halnya, melonggarkan toleransi untuk mengalah dan tidak peduli. Atau meladeni dan memprotes, lalu pada akhirnya terlibat dalam debat kusir sebab permasalahan yang salah tafsir.

Begitulah perjalanan hidup. Kita perlu memberi garis pada batas-batas kehidupan yang bisa membuat kita paham. Mengenai sampai batas mana kita boleh melihat, mendengar, dan berbicara. Sebab kita hidup tidak hanya berkaitan tentang hal-hal pribadi, tetapi juga menyangkut kepentingan komunal.

Selain batas, kita juga harus pandai dalam membuat lingkaran. Sebuah lingkaran yang kita bagi dua, untuk menentukan mana lingkaran dalam dan mana lingkaran luar. Lingkaran dalam adalah tentang hal-hal yang masih ada dalam jangkauan kita. Bisa kita sentuh, kita gapai, kita atur dan kendalikan. Semuanya terserah bagaimana kita sebagai usernya.

Selanjutnya adalah lingkaran luar. Mengenai segala hal yang entah itu menyangkut kita ataupun tidak, di mana hal-hal tersebut sudah berada di luar jangkauan kita. Sekali lagi, ‘di luar jangkauan’. Oleh karena itu, tak semestinya kita begitu merasa pusing dan terganggu atas hal-hal yang berada di luar jangkauan kita. Meski, seringnya tidak sedikit yang tidak bisa lepas dari itu. Memusingkan segala sesuatu yang seharusnya juga tidak perlu kita pusingkan. Membingungkan apapun yang juga tidak harus kita bingungkan.

Tapi, sadar tidak? Manusia memang serumit itu. Seperti kata orang, bahwasanya manusia adalah makhluk yang kompleks. Bukan kompleks terkait yang ada pada luar manusia. Melainkan kompleks pada si manusia itu sendiri. Tak jarang seringkali kita selalu kalah dengan apa yang kita pikir. Kita menjadi minder, ragu, takut, apapun itu padahal sebetulnya hal tersebut yang menjadi hambatan nyata untuk kemajuan diri.

Harusnya bisa kita kontrol, tetapi tidak kita hiraukan. Malah apa yang tidak bisa kita kontrol, selalu kita pedulikan. Jika bisa kita tela’ah lebih lanjut. Mengenal diri merupakan hal yang penting untuk kita bisa paham, bagaimana mengatur apa yang bisa kita atur dan hal yang tidak bisa kita atur. Karena dengan mengenal diri sendiri kita jadi tau batasan-batasannya. Sehingga, untuk memilih atau mencapai kebahagiaan bukanlah hal sulit. Sebab, kita tahu apa yang kita butuhkan untuk bahagia. Jika sudah tahu, tentunya kita akan paham apa yang perlu kita lakukan dan bagaimana melakukannya.

Hal terakhir yang perlu kita benahi adalah, kebahagiaan bukanlah hal yang bisa kita bandingkan, sebab takaran kebahagiaan setiap orang yang tidaklah sama. Oleh karenanya, bahagiamu belum tentu menjadi bahagia mereka. Pun kebahagiaan mereka, belum tentu juga menjadi bahagiamu juga. Ingat, jangan lupa bahagia karena bahagia itu hari ini, tak perlu harus menunggu nanti.[]

Senin, 20 November 2023

Yogyakarta, 18-21 Agustus 2023


Jember, 18 Agustus 2023

Perjalanan saya di mulai pada tanggal ini. Tanggal yang saya tunggu-tunggu, sebab pada tanggal ini sampai tanggal 21 nanti, untuk pertama kali saya mengambil izin libur selama 4 hari. Hal yang memang tak biasa bagi saya sendiri. Sebab, pada pekerjaan sebelum-sebelumnya saya tidak pernah izin libur lebih dari 2 hari lamanya. Oleh karenanya, 4 hari ini merupakan izin bermodal nekat pada tempat bekerja saya yang juga terhitung masih baru. 

Berangkat pukul 05.15 pagi dari stasiun Jember, menggunakan Kereta Ranggajati jurusan Jember - Cirebon saya memilih pemberhentian Stasiun Yogyakarta. Sebelum pemberangkatan memang sudah berniat untuk tidak tidur, karena saya terlalu khawatir tidak bisa bangun pagi. Pikir saya, jam tidur bisa saya habiskan di dalam kereta selama perjalanan nanti. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menemani seorang teman ngopi sampai pagi.

Perjalanan kali ini bisa dikatakan sebagai liburan tahunan, sebab saya menuju Yogyakarta bertujuan untuk menghadiri meet up komunitas HPI (Hogwarts Potterheads Indonesia) yang diadakan setiap tahun di kota berbeda. Sebuah komunitas yang di dalamnya berisikan anak-anak pengemar Harry Potter, dulunya kami terbentuk di sebuah aplikasi bernama BAND. Namun, pada meet up kali ini kami tidak benar-benar mengusung pertemuan antar penggemar Harry Potter. Kami hanya sepakat untuk bertemu dan staycation bersama, karena tidak banyak peserta yang bisa hadir. Selain meet up, saya juga memiliki tujuan lain yang sudah tersusun bersama seorang sohib untuk mendaki Gunung Andong di Magelang. 

Jauh hari sebelum keberangkatan, semua tiket sudah saya pesan. Mulai dari kereta berangkat, kereta pulang, hingga tempat menginap pada hari pertama saya sampai di Yogyakarta. The Capsule Malioboro menjadi pilihan tempat saya menginap saat itu. Karena di pagi hari saya sudah ada janji dengan Shinta (sohib) untuk bertemu di Stasiun Tugu, sembari menunggu motor sewaan yang sudah ia pesan. Saya tiba pukul 15.00 sore, agak terlambat sepertinya karena di tiket saya seharusnya tiba pukul 14.30 WIB. 

Selama perjalanan menggunakan kereta, saya tidak banyak merekam atau memotret. Pertama karena saya lelah dan mengantuk. Kedua, karena gawai saya sangat merepotkan sebab kapasitas baterai yang mudah sekali habis, meski di dalam kereta ada colokan penambah daya. Kereta berangkat seiring saya mulai terlelap, dan terbangun ketika kereta sudah bersandar di Stasiun Gubeng. Selanjutnya, dari Stasiun Gubeng sampai Stasiun Yogyakarta saya hanya sesekali tertidur dan bangun hanya untuk maraton Anime One Piece. 

Sampai di The Capsule Malioboro saya segera check in dan merebahkan badan. Mengenai penginapan ini tidak banyak yang bisa saya ulas. Penginapan ini bertemakan luar angkasa. Terdapat tiga ruangan terpisah berisikan beberapa unit ranjang. Jangan berpikir bahwa penginapan ini menyediakan bentuk kamar pada umumnya jenis hotel penginapan. Karena pada penginapan ini, kita hanya menempati satu ranjang berbentuk capsule, di mana di dalamnya terdapat televisi, pendingin semacam ac, kaca berhiasakan lampu-lampuan, kasur, bantal, selimut dan lain-lain. Penginapan ini juga menyediakan loker untuk penyimpanan tas dan sepatu, jadi tidak membuat sempit ketika saya berada di dalam capsule untuk tidur tersebut. Selain itu, mereka memiliki fasilitas shared bathroom, jadi bukan rekomendasi yang baik jika kalian tidak nyaman dengan penggunaan kamar mandi bersama pada sebuah penginapan. 

Bagi saya, hal yang menyenangkan pada penginapan ini adalah, selain harga yang terjangkau, kita juga mendapatkan free breakfast. Sangat cocok bagi saya yang tidak berkantong tebal dalam sebuah perjalanan. Review lain terkait penginapan The Capsule Malioboro, bisa kalian cari di youtube atau google, karena saya tidak pandai mengulas layaknya para vlogger dan traveller. 

Yogyakarta, 19 Agustus 2023.

Pukul 06.00 pagi terbangun, agak terlambat dari jam seharusnya saya bangun. Dua panggilan tak terjawab dan sebuah pesan singkat dari Shinta. Ia mengabarkan sudah tiba di Stasiun Lempuyangan dan beristirahat di warung Bu Lisa untuk ngopi dan makan. Bu Lisa ini menjadi tempat pendaratan Shinta setiap kali ia tiba di Yogyakarta. Dari apa yang pernah ia ceritakan, saya jadi penasaran dengan sosok Bu Lisa dan kali itu berkesempatan untuk bertemu dengan beliau. Kami mengubah lokasi meeting point dari yang sebelumnya di Stasiun Tugu, berubah di Stasiun Lempuyangan. Beruntung batinku, karena akhirnya bisa bertemu dengan sosok Bu Lisa. 

Setelah bangun tidur, saya bergegas untuk cuci muka tapi tidak berniat untuk mandi karena tidak ingin membuat Shinta menunggu, meski sebetulnya dia sudah menunggu sejak pukul 05.30 WIB (hehe Sorry Ta...). Niat hati ingin segera bergegas, tapi petugas penginapan menyarankan saya untuk sarapan terlebih dahulu, lumayan untuk menghemat pengeluaran pikir saya. Setelahnya, saya langsung memesan ojek online dan tak lupa untuk membeli beras 5kg pesanan Shinta, karena ia ingin memberikan beras itu kepada Bu Lisa. Sepertinya, Bu Lisa sudah memberikan kesan yang baik dan dinobatkan sebagai Ibu Pemberhentian di Lempuyangan oleh Shinta.

Sesampainya di Lempuyangan akhirnya saya bertemu dengan Shinta, sayangnya tidak saya dapati Bu Lisa sedang berada di warung. Saat itu kebetulan Bu Lisa sedang pergi ke pasar dan yang menjaga warungnya adalah anak dari Bu Lisa. Kami mengahbiskan sebatang rokok sembari menunggu kabar dari tempat sewa motor Transmojo. Beruntung, ternyata Transmojo memiliki cabang penyewaan di Stasiun Lempuyangan, sehingga memudahkan kami untuk melakukan serah terima motor sewaan. Sialnya, hari itu motor yang kami pesan sedang perpanjangan surat-surat, sehingga tempat sewa memberikan jenis motor lain untuk digunakan sementara waktu sebelum nantinya akan ditukar dengan jenis motor yang kami pesan. Pesanan kami adalah motor Honda Vario tahun terbaru, digantikan sementara dengan Honda Beat tahun terbaru. Motor menjadi pertimbangan penting bagi kami, sebab akan kami gunakan menuju dataran tinggi basecamp pendakian Gunung Andong.

Hari kedua di Yogyakarta adalah jadwal meet up dengan teman-teman HPI di Vila Lavavela yang sudah kami pesan bersama. Meet up kali ini dihadiri oleh sembilan orang saja, karena kebetulan yang lain sedang berjibaku dengan kegiatan real world, pun ada juga yang sedang sakit. Seperti biasa pada setiap acara meet up kami memiliki tradisi tukar kado. Kado berupa barang dengan nilai minimal 20 ribu rupiah berbungkus koran yang nantinya akan di acak untuk diberikan secara random. Tentunya ada aturan-aturan dasar terkait isi yang diperbolehkan, sialnya saat menulis ini saya lupa apa aturannya. Selain tukar kado, seringkali juga diselingi dengan kegiatan permainan berhadiah. Permainan tersebut layaknya kuis dan game yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai Harry Potter. 

Jika saya tidak salah menghitung, ini adalah pertemuan ke-4 kami. Dulu meet up pertama diadakan di Jogja dengan peserta terbanyak, sayangnya saat itu saya tidak bisa hadir. Meet up ke-2 diadakan di Surabaya, saya ikut sekaligus membantu sebagai panitia. Meet up ke-3 di Malang, syukurnya saya masih bisa hadir, sebab memiliki teman seperti mereka benar-benar membuat saya haus akan perjumpaan. Entah, untuk selanjutnya meet up ke-5 apakah akan diadakan atau tidak. 

Agenda pertama dari meet up adalah kumpul terlebih dahulu. Sebab tidak semua peserta tiba di vila, beberapa yang sudah hadir hanyalah Rin, Momon dari Semarang datang tanggal 18 sore, ditemani dengan Tian, penduduk asli Jogja. Vila memang sudah di booked selama dua hari dari tanggal 18 sampai dengan tanggal 20. Selanjutnya ada saya (dari Jatim) yang datang, bersamaan dengan Shinta dari Jakarta. Selanjutnya, datang lagi si Mamad dari Malang dan si Anis dari Jogja. Di Susul dengan Athael dari Solo bareng Sita cewenya dan genap sudah para peserta meet up saat itu. 

Acara selanjutnya adalah perjalanan ke Pantai Depok untuk makan seafood, bersambung dengan mampir ke wisata Gamplong Studio Alam, sebuah lokasi tempat pengambilan gambar untuk film karya Hanung Bramantyo seperti Bumi Manusia, Sultan Agung dan Habibie Ainun. Saya dan Shinta mengendarai motor, sedangkan Athael dan teman-teman lain menggunakan mobil. Di perjalanan, saya sempat melipir ke Eiger Store untuk mengantarkan Shinta berburu tas untuk summit di Gunung Andong keesokan paginya. Kunjungan menuju dua tempat tersebut berjalan lancar, berlanjut acara pada malam hari yaitu tukar kado dan menikmati sajian barbeque sosis dan daging slice. Setelah acara, saya memilih untuk tidur lebih awal, karena keesokan paginya harus bangun pukul 4 pagi untuk mulai perjalanan menuju basecamp pendakian Gunung Andong di Magelang.

Cerita tentang pendakian, akan saya ceritakan sendiri. Pada Meet Up kali ini saya mendapatkan hadiah seperangkat sendok dan garpu dengan bonus wadah minum dari Mixue. Sayangnya saya kehilangan wadah minum Mixue tersebut. Entah tertinggal di mana. Senang rasanya pada usia saya di tahun 2023 ini masih memiliki kawan dari berbagai kota. Masih bisa berkumpul bersama, staycation bersama, liburan, bermain game dan lain sebagainya. Bahkan tak jarang juga kami bertukar cerita tentang kehidupan dan pengalaman. Hal ini bagi saya sudah cukup istimewa, karena kelak ketika sudah berkeluarga, belum tentu momen seperti ini bisa terulang kembali. Terima kasih kawan. Semoga tahun depan kita masih bisa bertemu kembali.[]



Minggu, 01 Oktober 2023

Ra Bakal Rampung


L
agi-lagi tentang perdebatan hati, tetapi kali ini bukan hanya hati yang saling melempar argumen. Pikiran pun hadir menghadang, menghalau semua hal yang diyakini oleh hati. Memuntahkan segala hal dan pernyataan, hingga memunculkan pertanyaan. Sejauh ini hati hanya bertugas untuk merasakan sebuah 'rasa', sedang pikiran bertugas untuk melogikakan semua yang ada. Mereka berdua akan selalu bertempur untuk mendahulukan sebuah kepentingan yang pada akhirnya tak bisa dimengerti pun dipahami. 

Setiap manusia memiliki dua hal tersebut. Keduanya bak pisau bermata dua, tak jarang menyakiti seringkali membutakan arah. Masing-masing tak bisa dipilih untuk di utamakan, keduanya haruslah bisa berjalan selaras tanpa ada kepentingan. Mungkin, begitulah sebuah role mode terbentuk dalam wujud kehidupan. Selalu ada positif dan negatif, hitam dan putih, baik dan buruk, lingga dan yoni. Tidak ada diantara keduanya sebagai posisi tengah. Tidak untuk memilih salah satunya, pun keduanya. Keselarasan terbentuk sebab keanekaragaman. Heran, pun akan sangat sulit dijangkau oleh tolak ukur pikiran, tetapi begitulah adanya keberlangsungan.

Semuanya butuh pertahanan, tak jarang juga masih banyak yang mencari pegangan, sebab dasarnya segala yang ada berasal dari ketiadaan. Masing-masing memiliki penguat, atas apa yang sedang berjalan pada rute sebuah perjalanan. Sebab dasarnya perjalanan, sebuah tujuan menjadi pedoman, meski tak jarang pun tak sedikit yang masih belum paham akan sebuah tujuan. 

Berdasarkan sebuah tujuan, semua berlomba untuk mencari arah, menentukan arah, bahkan tak peduli dengan adanya arahan. Pada setiap arah yang berdasarkan patokan, keyakinan, kepercayaan juga ketidak pedulian. Selalu dan akan selamanya mengalami kebingungan dan mempertanyakan keberadaan. Meski tanpa sadar apa yang mereka pertanyakan adalah sebuah jawaban.

Kita adalah ketidak layakan yang tetap akan terus dianggap layak. Sebuah ketidak pantasan yang mulai dianggap pantas. Pun sebuah ketidak sempurnaan yang selalu merasa ingin disempurnakan. Tidak akan pernah ada tolak ukur, pada segala macam hal yang tidak bisa di ukur. Pada sebuah capai yang selalu berusaha ingin digapai. Pada sebuah batasan yang sebenarnya tidak akan pernah ada batas.

Sulit untuk dimengerti, oleh karenanya jangan pernah untuk coba memahami. Pada sebuah kerahasiaan yang memang harus tetap jadi rahasia. Pada sebuah rahasia yang belum waktunya untuk tidak menjadi sebuah rahasia. Tentang sebuah rahasia yang tidak beriring dengan kesiapan untuk mengetahuinya. Hingga pada sebuah rahasia yang memang sudah waktunya untuk tidak menjadi rahasia. 

Tentang sebuah keluh kesah, bukan menyerah. Tentang sebuah tujuan, sebagai pegangan. Pun tentang sebuah alasan, agar tetap bertahan. Kau adalah penentu atas apa yang ingin kau cari tahu. Kau adalah kebingungan atas sebuah pemahaman. Kau dan sayangnya ini bukan tentang kau, adalah jawaban atas banyaknya pertanyaan.[]

Minggu, 24 September 2023

Marijo Mangli, Warkop Pinggir Rel Kereta Api


S
untuk. Mungkin juga bisa disebut sebagai burnout, atau apalah itu suatu kondisi di mana sering kali saya rasakan dikala benar-benar sedang bosan. Bosan dengan tingkatan yang tidak bisa ditampung atau bahkan diutarakan. Fase ini yang sering saya rasakan menjelang usia kepala tiga di mana juga belum memiliki sandaran. Tidak bisa dipungkiri, jika setiap manusia selalu membutuhkan sosok teman di kala sedang merasakan kesendirian. Bisa dikatakan sebab sudah menjadi sifat dasar manusia bahwasanya mereka adalah makhluk sosial. 

Tiap manusia selalu punya cara untuk bagaimana mereka menghalau kebosanan. Menepis jauh sebuah rasa akan sepi. Memungkiri sebuah keadaan yang seringkali disebut bahwa 'sendiri itu menyenangkan'. Di luar konteks ekstrovet atau introvet, pada keadaan tertentu kalian tetap akan mengharapkan kehadiran seseorang di samping kalian. Entah sekedar untuk menemani, meski tidak saling berbicara. Atau sekedar untuk mendengarkan keluh kesah saja. 

Seperti yang sedang saya rasakan saat ini. Pada keadaan seperti ini, banyak hal bisa saya lakukan untuk menepis rasa sepi atau bosan yang datang. Nonton layar lebar, motoran tanpa arah dan tujuan, menghabiskan waktu marathon anime, kuliner di tempat yang agak jauh, sampai mencari tempat ngopi dengan vibes menyenangkan sembari menuliskan keresahan. Jika memiliki dana yang cukup, baru lah memutuskan tujuan gunung mana yang cocok untuk disambangi. Maklum, kesenangan mendaki gunung sedang hangat-hangatnya saya gemari.

Kali ini, sembari membuang sisa-sisa keresahan menjadi sebuah tulisan, saya singgah di Marijo Mangli. Sebuah warung kopi yang tidak jauh dari keramaian, tetapi juga tidak riuh ramai oleh pengunjung yang datang. Lokasinya tepat berada di belakang Alfamart Mangli, jalan arah menuju gudang Bulog. Tepat empat kali hari ini saya menyambangi warung kopi ini. Warkop ini hanyalah warkop biasa pada umumnya, hanya saja vibes yang dihadirkan di sini membuat saya senang untuk kembali. Alasannya, tak lain dan tak bukan sebab lokasinya berada di samping rel kereta api. 

Sembari menikmati rokok, bersanding kopi tubruk yang tidak terlalu manis, di iringi suara kereta api yang lewat, benar-benar sangat menenangkan. Hiburan saya sesederhana itu. Namun, tetiba saya khawatir dengan kondisi yang menenangkan ini. Sebab selama beberapa kali ke sini, bangku pengunjung tidak pernah sampai penuh terisi. Seringnya hanya terlihat empat sampai lima bangku saja yang ditempati pengunjung. Bahkan saat menulis ini, pengunjungnya hanya saya seorang. 

Sebagai seseorang yang pernah bekerja di warung kopi. Ramainya pengunjung seringkali menjadi harapan tersendiri, meski tak dipungkiri jika ramainya juga setara dengan lelah yang hadir menghampiri. Namun, benar-benar akan menjadi pertimbangan tertentu jika keadaan yang sepi sampai terjadi berulangkali. Mengenai keberlangsungan usia sebuah warung kopi untuk bisa tetap eksis menghadapi kondisi yang sedang sepi. 

Sebagai pengunjung warkop yang bersanding dengan rel kereta api, tentunya saya berharap Marijo Mangli bisa tetap ada sampai kapanpun nanti. Sebab, warkop ini bak penyelamat manusia-manusia yang sedang mencari perenungan dalam kabutnya pemikiran yang menghiasi. Meski bukan bertemakan warkop kekinian, bagi kalian yang suka ngopi dengan vibes perenungan, ini adalah tempat yang pas. 

Teruntuk mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas atau skripsi sembari ngopi, harusnya kalian tahu tempat ini. Terutama bagi teman-teman yang sedang berkuliah di UIN KHAS. Mungkin saja lokasi ngopi kalian sudah mulai menjenuhkan dan hanya itu-itu saja, cobalah mampir kemari. Harapnya dengan kehadiran mahasiswa (saat saya sedang ngopi di situ) saya bisa mendengarkan celoteh kalian entah berdiskusi, membicarakan UKT, menghibahkan dosen-dosen killer, tugas kuliah menjemukan atau membicarakan sebuah aksi guna memprotes kebijakan yang timpang. 

Oh, iya, terkait jam buka, Marijo Mangli buka dari sebelum maghrib hingga tengah malam. Tempat parkir motor, wifi, kamar mandi sudah available. Makanan ringan seperti kentang goreng, singkong, mie, mereka sediakan. Minuman panas dan dingin juga ada. Harga terjangkau, tidak akan sampai menguras kantong. Colokan juga ada mungkin kalian mau bawa laptop atau main game bersama kawan.

Ah, intinya apapun itu. Semoga Marijo Mangli bisa tetap eksis, sehingga saya tidak bingung lagi mencari tempat ngopi baru dengan kondisi yang sama. Setidaknya, saya tidak harus jauh-jauh mencari tempat ngopi di wilayah Unej dan sekitarnya.[] 

Minggu, 06 Maret 2022

Sebutan Pak Dhe

 

Pagi ini aku terbangun oleh suara Bulik sedang 'Ngudang' anak kecil pada sebuah panggilan video call Whatsapp. Tentunya kalian pasti tahu arti 'Ngudang'. Bagi yang belum tahu, 'ngudang' merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan oleh orang dewasa saat bertemu batita. 

Mereka (orang dewasa), menyuarakan bunyi-bunyian di hadapan batita guna mengajaknya untuk berinteraksi. Meski entah, si batita itu mengerti atau tidak terhadap yang dilakukan orang dewasa tersebut. Sebab, hasilnya kadang ada yang membuat batita tertawa. Tak jarang juga ada yang membuat batita menangis.

Sekilas aku langsung tahu siapa batita yang sedang diajak interaksi oleh Bulik. Sejauh yang aku tahu dari story Whatsapp ibuku, ia adalah Arsa. Batita ini merupakan anggota keluarga yang baru hadir di tengah-tengah keluargaku. 

Arsan ini merupakan anak dari sepupu laki-lakiku. Status sepupu dari keluarga bapak, karena bapakku merupakan kakak nomor tiga dan bapak sepupuku yang merupakan adik nomor lima. Bingung? Jangan dipikir. 

Benar adanya, sepupuku lebih muda secara usia dari pada aku. Namun, dia telah menikah lebih dulu pada 22 November 2020. Jarak usia kami sekitar 2-3 tahun, aku lupa tepatnya berapa. Tidak berhenti di situ. Pada 23 Januari 2021 mas sepupuku menyusul untuk melangsungkan pernikahannya. Jarak usia kami hanya satu tahun, dia adalah anak pak dheku dari keluarga bapak juga. Nantinya aku buat khusus tulisan tentang ini. 

Waktu yang sangat singkat, aku didahului saudara-saudara sepupuku dalam hal pernikahan. Padahal di usia saat ini (28 tahun pada 2022) sudah seharusnya aku melangsungkan pernikahan lebih dulu jika menilai dari usia dan stereotip lingkunganku. 

Kembali lagi pada Arsa. Melalui suara video call yang dilakukan bulek, aku menyadari satu hal. Bahwa, nantinya sudah pasti Arsa akan memanggilku dengan sebutan Pak Dhe. Membuatku merasa sudah benar-benar tidak muda lagi. Entah, pada usiaku aku ini masih masuk dalam golongan dewasa ataukah orang tua. 

***

Seharusnya tulisan ini aku tempatkan sebagai tulisan rekap untuk bulan februari, sebab pada bulan itu aku belum menuliskan ringkasan apa yang sudah terjadi pada bulan februari. Oleh karena itu, akan aku gabung pada tulisan ini. 

Februari merupakan bulan menyebalkan. Sangat berbeda dengan anggapan semua orang bahwa februari merupakan bulan kasih sayang. 

Pada februari tahun ini hal menyebalkan yang terjadi adalah munculnya pengeluaran tak terduga dari apa yang tidak direncanakan. Hal itu benar-benar sangat mengganggu alur finansial pribadi. Keuangan yang sudah diatur sedemikian rupa untuk ini dan itu, harus rela pupus guna memperbaiki layar laptop dan juga gear motor. 

Sabtu, 06 februari 2022. Rantai motorku putus tepat setelah pulang kerja dan hendak berkunjung di tempat latihan. Pada beberapa minggu sebelum kejadian putus memang rantai motor ini jadi hambatan saat berkendara. Ia sering sekali lepas dari gear ketika melewati banyak jalan berlubang. 

Sebelumnya sudah pernah aku perbaiki di bengkel, untuk mengganti rantainya dengan rantai KW. Pikirku saat itu hanya untuk pemakaian sementara waktu sembari menunggu tanggal gajian. Nyatanya malah membuatku semakin kesusahan, sampai putus, hal yang benar-benar tidak aku harapkan. 

Karena membuatku semakin ripuh, aku memutuskan untuk memperbaikinya lagi dengan membeli barang ori satu set. Perkiraan pengeluaran tidak akan lebih dari angka 250 ribu, sialnya malah melebihi budget perkiraanku. 

Kesialan tidak hanya berhenti di situ saja. Minggu, 07 februari 2022 laptop yang sedang aku gunakan untuk mengejar deadline cetak, ternyata juga ikut bersuara. Setelah aku gunakan untuk mengedit naskah, tanpa sengaja aku membuat layar laptopku pecah, sehingga sama sekali tidak memunculkan gambar saat menyalakannya. 

Jika tidak terkendala deadline, tentunya aku tidak akan terburu-buru untuk memperbaiki. Akhirnya aku coba bertanya pada tempat servis laptop langganan. Ternyata harga yang diberikan untuk memperbaiki layar monitor benar-benar tidak murah. Jauh dari perkiraan yang membuatku seketika mengumpat keras. Biaya servis tersebut memakan 80% dari gaji bulananku, padahal saat itu masih empat hari lagi menuju tanggal gajian. 

Dua pengeluaran itu membuat keuanganku minus di bulan februari. Apa yang sudah menjadi rencana terpaksa diurungkan, karena sudah tidak ada lagi uang saku tersi(k)sa. Pada akhirnya membuat lubang baru, padahal lubang sebelumnya belum tertutup juga. 

Tanggal-tanggal lain selain tanggal yang tercantum pada tulisan ini tidak memiliki banyak kisah. Berjalan biasa tanpa ada cerita menarik untuk dituliskan. Bulan februari ini berjalan begitu singkat, sama halnya keuangan yang aku dapat, habis begitu cepat. 

Hampir lupa. 27 februari ada yang berulang tahun, pun pada 29 februari. 27 februari eksekusi menyusul menunggu ada pemasukan. 29 februari sudah tereksekusi pada 28 februari, meski hanya dengan sekotak donat isi sepuluh biji. 

Bulan selanjutnya, membuat target agar segera bisa menutup lubang-lubang yang ada. Entah dari pemasukan mana, entah dari jalan mana dan cara apa. Meski masih banyak PR terkait perawatan motor dan juga hewan peliharaan. []

Jumat, 25 Februari 2022

Story Behind


Jum'at, 25 Februari 2022

Balasan surat.. 

Matur nuwun.. 
Aku bingung arep opo maneh sing kudu diomongke selain terima kasih. Barangmu sudah sampai dengan selamat. Sepasang sepatu gunung, yang jika dilihat dari tampilannya pasti mahal. 

Terkadang aku bingung, barang-barang larang iki, kenopo nganti mbok tukokne gawe aku? Bahkan selama iki aku urung iso bales. Sedangkan awakmu uwes berbuat banyak gawe aku. 

Lanjute, aku gawe bahasa indonesia ae yo.

Oke..
Ehem.. ehem.. 
Tadi aku belum lengkap menyampaikan. Sepatu pemberianmu sudah sampai, bersama dua kertas surat dan juga satu buah buku catatan harianmu. Sekali lagi terima kasih. Aku seneng, tapi ya ngerasa ga pantas buat nerima ini. 

Bukumu sudah aku baca. Berat nerima buku ini, tapi aku baca sampai tamat. Selebihnya, harum parfummu (di mana aku menyukai itu) tercium saat aku buka isi paket yang tadi aku terima dari kurir ekspedisi. Sekilas, beberapa gambaran kenangan yang pernah kita lewati terlintas begitu saja. Bahkan, sampai detik aku menulis ini, bau itu masih sering terbang melintas hidung dan memenuhi ruangan tokoku. Tentunya tak mengapa, aku nyaman, sebab aku suka baunya. 

Selanjutnya, izinkan aku menjawab semua tanyamu dalam goresan buku yang kau beri. Semoga kau tidak salah memahami, dan bisa menerima dengan lebih dewasa lagi atas apa nantinya yang akan aku tulis ini. 

Pertama soal sepatu. 
Sekali lagi terima kasih. Terima kasih banget sesuatu yang sedang aku usahakan buat beli, malah kamu seng bisa ngebelikan. Wis terlalu banyak kamu ngasih, mulai dari kiriman makanan, yang di dalamnya ada kaosnya. Lanjut ke jam tangan. Lalu ke pinjaman uang yang aku hutang buat dipinjamkan lagi ke temenku karena dia butuh. Ada juga aku pinjam uang lagi, ketika aku bingung pelunasan untuk pembayaran buku. 

Belum lagi di kota kemarin, masih sempat-sempatnya ngasih kaos. Ngebayarin tiket berangkat, lalu sekarang ini, sepatu gunung. Semuanya aku catat dan aku anggap hutang budi yang kelak akan aku balas. 

Sekarang soal sepatu..
Bagus, pas, keren, pengen segera pake buat naik ke gunung beneran. Hal yang paling bikin seneng, model sepatunya agak tinggi, jadi sedikit membuat tinggiku bertambah sekian senti saat memakainya. 

Membeli ini itu (termasuk sepatu) memang bukan kebiasaanku, sebab aku mandangnya sebagai sesuatu yang aku tidak terlalu butuh. Dulu, kuliah saja aku masih harus pinjam. Sebab sepatu terakhirku sudah lubang. 

Bisa dikatakan sepatuku selalu memiliki cerita dari kisah orang-orang hebat di baliknya. Pertama ada sepatu pantofel. Sepatu itu pemberian budhe dari gaji pensiunan pakdeku. Memang benar, lulus kuliah aku tidak memiliki sepatu. Pernah suatu ketika ayah mau membelikannya, hingga ia tiada, barang itu tak juga terbeli. Namun, bagiku, pemberian budhe sudah mewakili dari pemberian ayah. 

Kedua, sepatu sport biasa. Berwarna biru, yang tentunya kau tahu karena aku kenakan kala bertemu denganmu di kota itu. Sepatu tersebut hasil iuran ibu dan adek. Mereka membelikan aku kado di ulang tahunku yang ke 25. Lalu sekarang, sepatu pemberianmu. Tentunya akan aku jaga dan bangga memakainya. 

Ah terima kasih banyak. Mohon maaf belum bisa balas. Aku gagal dalam manajemen keuangan pun gagal dalam membahagiakan. 

Mungkin kamu tak tahu. Kaos pertama pemberianmu, yang datang berbarengan dengan camilan dan manisan carica.  Meski kebesaran, aku masih sangat suka memakainya. Lalu dua kaos yang bertuliskan kotamu, sangat pas di badan, aku pun bahagia memakainya. Lalu jam tangan, sampai tidak pernah lepas kecuali saat mandi, meski sekarang sudah jarang terpakai sebab itunya (ga tau namanya) putus. Terakhir, ada sepatu. Ah aku sangat bahagia. Terima kasih banyak. 

Maaf sejauh ini aku sosok yang sangat merepotkan dan sudah menghabiskan banyak uangmu. Kamu yang sudah sebaik ini, aku malah sejahat itu dalam memperlakukanmu. Maafkan aku. 

Kenangan di kotaku, saat kau kemari merupakan kesalahanku yang tidak bisa aku putar ulang. Tanpa banyak beralasan lagi, aku mengaku salah sebab tidak bisa menyambutmu dan memperlakukanmu dengan layak. 

Jika masih bisa memberikan alasan. Sebetulnya aku bingung dan tidak siap harus betingkah seperti apa saat kau ada di sini. Aku kikuk, cenderung malu, akhirnya kaku dalam memperlakukanmu. Selagi bisa, tolong maafkan tindakanku kala itu. Aku meminta maaf kepadamu, sudah (bisa dikatakan) menelantarkanmu kala kamu ada di sini. Tidak bertanggung jawab untuk menyenangkanmu, malah hanya bisa membuatmu meneteskan air mata. Sekali lagi, aku mohon, tolong maafkan kebodohanku. 

Mungkin kau penasaran. Apakah aku bahagia saat kau ada di sini? Jujur, aku sangat bahagia. Mungkin jika masih ada waktu dan aku boleh berharap. Aku berharap bisa menebus kesalahanku dengan menunggumu untuk singgah kembali di kotaku. Entah kapan, tapi semoga usia dapat memenuhi dan Tuhan bisa mengizinkan. 

Selanjutnya kau juga bertanya. Apakah aku memikirkanmu? Jika masih boleh jujur, iya aku memikirkanmu. Bahkan sejak saat kita memutuskan untuk berhenti komunikasi dan saling menjauh. 

Seringnya aku selalu teringat kamu saat sedang berkendara. Entah berangkat kerja, saat pulang kerja, atau ketika kemana saja aku berkendara. Kilasan wajahmu pada senyum yang tak bisa aku artikan selalu berhasil muncul. 

Aku terbawa, hingga membuatku senyum dengan sendirinya. Bahkan juga merasa salah atas segala perilaku yang sudah aku lakukan padamu. Sangat tidak pantas aku yang sudah begitu padamu, malah terus kau balas kebaikan. Maafkan aku. 

Terkait mimpimu. Benar memang, Februari ini aku mengalami sedikit perubahan atas peringatan dari Sang Kuasa. Membuatku berpikir ulang berhenti menjalankan tindakan yang tidak semestinya. Meski berat, Februari ini aku bangga bisa lebih baik dari bulan sebelumnya, atau bahkan tahun sebelumnya. Selebihnya, hanya sebab finansial yang kritis sehingga membuatku pontang panting dalam menyelesaikannya. Tapi tak apa, akan selesai juga nantinya, semoga. 

Berikutnya perihal rindu. Maaf, aku tidak bisa menjawabnya. Namun, aku yakin kau tahu jawabannya. 

Terakhir, rencana kita setelah lebaran iedul fitri. Insya allah aku akan tetap mengusahakan untuk singgah. Bertemu Mbokmu, menikmati masakannya, tidur di bawah atap rumahmu, pun mendaki jika mungkin aku masih mampu. Semoga kelak finansialku baik-baik saja. Meski nantinya tidak baik, aku akan tetap mengusahakan untuk ke sana. 

Seperti pada lirik lagu 'Mesin Waktu' milik Budi Doremi. Kali ini aku sampaikan padamu. 

Kalah, kuakui aku kalah.
Cinta ini pahit dan tak harus memiliki.

Jika aku bisa, ku akan kembali.
Ku akan merubah, takdir cinta yang ku pilih.

Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau.
Membawa kamu lewat mesin waktu.



NB: Oh iya satu lagi. Sama sekali aku tidak melihatmu, menilaimu, menganggapmu dari batasan ijasah sekolahmu. Bahkan, bagiku kau adalah orang paling kreatif yang sudah aku temui sepanjang batas usiaku. 

Tak peduli apa ijasah sekolahmu. Aku bangga bisa mengenalmu, yang kelak entah kenapa aku yakin kehebatanmu selalu di atas mereka yang bersekolah tinggi. Tidak pernah aku merasa malu ataupun rugi. Selama kita masih sama-sama manusia, jangan pernah berpikir siapa lebih rendah dan siapa lebih tinggi. Ingat perkataanku, kamu istimewa. 

Selasa, 01 Februari 2022

Definisi Tolol



Hai Januari..

Jangan pergi dulu, beri aku sedikit waktu guna merangkum 31 hari kehidupanku pada bulanmu. Tampaknya memang tak penting, tapi setidaknya aku merekam ingatan ini menjadi memori tulisan. 

Awal tahun 2022 semua tertulis pada Warmindo Mastrip. Melalui denting sendok dan garpu, pada semangkun penuh mie yang gagal aku habiskan. 

Bukan sebab apa, perutku terlanjur mulas untuk menghabiskan kenikmatan dalam semangkuk putih. Hingga, memaksa dia untuk menghabiskan makanannya, lalu aku ajak ia pergi. Beruntung aku menemukan toilet masjid, tempatku mandi dulu saat masih aktif menjadi aktivis. 

Yah, benar.. 
31 Desember - 01 Januari kami terlibat kisah yang tak seharusnya terangkai dalam kehidupan di dunia. 

Ingatanku kembali berputar, sembari menahan kram saat jongkok di kamar mandi. 

Tidak ada yang istimewa pada tanggal-tanggal setelahnya, sebab aku tak sabar untuk segera tiba pada tanggal 14 Januari. 

14 Januari - 17 Januari
Aku berkunjung ke Jawa Tengah, bertandang di kota Kerinduan, Yogyakarta. 

Menggunakan Mutiara Timur, salah satu kereta kelas ekonomi dalam rangkaian gerbong eksekutif dan bisnis. Hanya kebetulan semata, mendapat tiket free dari teman dekat untuk mengunjunginya. 

Sebetulnya aku bukan termasuk golongan penumpang yang mampu untuk membeli tiket kereta di atas harga 100k. Banyak sekali pertimbangan, karena bagi saya tingkat pelayanan kereta ekonomi antar kota sudah sangat memuaskan dan membuat saya nyaman. Hanya saja, saat itu pertimbangannya saya bisa lebih lama berada di kota tersebut dengan menggunakan kereta malam untuk perjalanannya. 

Bersama rekan, saudara atau adik. Dia menjadi guide selama berada di Jogja. Banyak tempat saya kunjungi, pun banyak renungan saya lewati selama berada di sana. Pertimbangan muncul satu persatu, tentang hidup, tentang segala hal yang menjadi kebingungan semua manusia pada umumnya. Termasuk yang saat itu terjadi padaku. 

Sialnya, sampai baris ini waktu sudah menunjukan pukul 23.56 WIB, saya gagal atas rencana memposting tulisan ini pada tanggal 31 Januari. 

Apa yang terjadi di Jogja, biarlah tetap tertinggal di sana. Banyak hal yang pada akhirnya mendewasakan otak dan hati. Banyak jalan atas sederet keputusan ekstrim yang harus diambil. Beriring konsekwensi yang juga harus di hadapi. 

Jogja, terima kasih..
Candi Ratu Boko, mitosmu benar terjadi dan secara nyata aku alami. 

Waktu berjalan lagi, sama persis seperti saat ini yang sudah menunjukan pukul 23.59 WIB. 

Tepatnya sekarang sudah 01 Februari, selamat hari raya imlek teman-teman. 

Kisahku setelahnya menjadi sangat random. Banyak kerjaan terbengkalai, keuangan mulai tak terkontrol, hutang mulai membengkak, meski tanpa ada yang menagih, tapi nominal uang yang begitu besar akan cukup menghantui, tentang bagaimana akan bisa terlunasi. 

16, 17, 19, 20 Januari.
Keributan mulai muncul. Perenunganku harus sudah disikapi dengan mengambil keputusan tegas. Obrolan pada 20 Januari membuka sebuah keputusan dengan konsekwensi yang tidak mudah. 

Aku berharap dia akan tetap baik-baik saja. Bisa kembali pada jalan kehidupan yang sudah semestinya dia pilih. Memaksanya untuk tidak mempedulikanku, menjauhiku dan belajar untuk memulai kembali kehidupannya secara nyata, tanpa harus tersakiti olehku yang sudah terlanjur menjerumuskannya. 

Hai orang baik, semoga kelak bisa ketemu dengan keadaan yang baru tanpa ada tautan yang tidak perlu. Aku butuh beranjak dan kamu haru benar-benar bergerak. Kita harus bisa kembali seperti semula awal kita saling kenal. Sekali lagi, terima kasih banyak. 

Hari dan tanggal terus berlanjut dan beranjak..
Sampai pada kabar yang kurang mengenakkan terdengar.. 

26 Januari 2020
Seorang kawan mengirim pesan haru. Membuatku teringat yang terjadi pada tanggal 13 Desember kala itu. 

Kamu benar-benar telah resmi untuk 'membeli tiket pulang'

Pesanmu membuatku khawatir.. 
Tentunya jika kau begitu, bisa jadi aku juga sama. Aku setengah ketakutan membayangkan jika itu juga terjadi padaku. Aku belum siap, benar-benar tak bisa berpikir jika benar nyatanya kondisiku juga tak jauh berbeda denganmu. Harapku Tuhan benar-benar masih memberikanku kesempatan kedua. 

Aku sadar, sudah terlampau jauh aku bermain. Mungkin sudah terlanjur masuk aku ke dalam hutan yang terus membuatku penasaran. Namun, kali ini aku benar-benar lelah. Ketakutanku akan yang terjadi pada seorang kawan di Banyuwangi, selalu membuatku resah dan belum bisa bernapas dengan lega. Segera, aku harus melihat kondisiku lalu berusaha menerima dengan ikhlas hasilnya. 

Ah Tuhan, tolong.. 
Beri saya kesempatan ke dua..

Waktu berjalan beriring kegelisahan yang tak kunjung hilang. Hati sudah berdamai, tetapi otak membuatku resah tak karuan. 

27-28 Januari 
Tepatnya aku lupa.. 
Mulai bercerita pada seorang kawan di Malang. Padanya, semua kegelisahan terucapkan tanpa sedikitpun terpotong. 
Terima kasih..
Meski ada juga yang masih aku tahan.
Maaf kawan, nanti kamu pasti akan aku beri tahu. 

31 Januari
Banyak pelajaran pada bulan ini. Tepatnya ini adalah bulan untuk menyudahi dan melepaskan. 

Sialnya bertemu dengan orang aneh, melakukan trik pencemaran identitas, menyebarkan hal yang disebut orang aib. Membuatku bertindak lebih waspada tanpa ingin mengulanginya. 

Asing tetaplah asing karena tidak semua manusia memiliki niat baik pada akhirnya.

Bulan berikutnya, harapku bisa tetap dan terus menjaga apa yang sudah seharusnya berjalan. Lalu menghentikan apa yang sudah tidak semestinya untuk dijalankan. Banyak sekali kode Tuhan, sayangnya dulu sangat sering aku acuhkan. 

Hai orang-orang baik..
Kalian tetap orang-orang baik..
Pergiku, hilangku, tak akan berpengaruh pada kehidupan kalian.. 
Malah, ketidakhadiranku akan menjadi yang terbaik antara aku dan kalian.. 

Semoga kelak Tuhan bisa mempertemukan jika memang harus bertemu. 
Pun semoga Tuhan masih berwelas asih kepada saya, seorang hamba yang tidak tahu diri setelah semua yang sudah terjadi. Malah sekarang meminta belas kasih, ketika dulu sama sekali lupa untuk berterima kasih.

Terima kasih Januari
Selamat datang Februari

Sabtu, 04 September 2021

Absurd



Tak tahu harus mulai dari mana, karena pintu masuk sudah beberapa yang berhasil aku buka, meski sebenarnya sama sekali belum seperempat dari keseluruhan pintu yang masih tertutup. Aku berasal dari salah satu pintu, di mana selama sekian tahun aku berjibaku di dalam pintu tersebut. Tak pernah memilih karena aku rasa semua sudah ada di sini, pada sebuah pintu yang sudah diperuntukkan padaku. 

Sekian lama aku mulai tumbuh dan berkembang. Beraktivitas dan mulai menumbuhkan rasa penasaran, keingintahuan, bahkan ada rasa ingin keluar dari zona nyaman yang sudah sedari dini aku terima di mana seharusnya terus untuk dijalankan. Muncul rasa tak nyaman sebab sebuah penasaran. Hal tersebut tertanam menggebu hingga tumbuh benih-benih pemberontakan atas apa yang sudah digariskan. 

Mulai terdengar suara bisik. Kadang terdengan sangat bising. Hadir dalam bayangan imaji yang tak pernah bisa terdefinisi. Mencoba untuk mengartikan, tetapi selalu gagal menemukan sebuah makna dari proses pemahaman. Ruangan atas pintu yang diperuntukkan untukku serasa sempit, hingga membuatku jengah. Seringkali bosan sebab selalu terkikis sebuah rasa penasaran. Berjalannya waktu seakan semakin membuat bosan. Semua keadaan berulang, ingin sekali rasanya untuk tidak mengulang. Mencoba memahami tapi malah hanya semakin membuatku tak mengerti. 

Benih itu mulai muncul dan tumbuh. Aku memiliki rasa penasaran untuk membuka pintu yang ada pada ruanganku. Mencoba menebak apakah yang ada di balik pintu. Membayangkan ada ruangan yang lain. Mengimajinasikan bisa menemukan orang lain. Hingga muncul harapan berada pada ruangan lain di balik pintu yang lain. 

Mulai mencari cara, membuka pintu dengan kunci yang aku sadari tak memilikinya. Mencari cara keluar dari ruangan yang aku baru mengerti sudah ada di dalam sini dengan sendirinya. Memikirkan cara terbaik guna mencari jalan keluarnya. Tidak dengan ambisi melainkan rasa penasaran yang semakin menggerogoti. 

Aku ingin mengenal definisi nyaman dari arti nyaman yang sudah aku pahami. Mencari tahu ruangan lain dari ruangan tempatku saat ini. Membuka pintu baru guna mencari tahu apakah yang ada di balik pintu yang sudah sekian tahun aku tatap ini. Bertujuan untuk mengenal dan mempelajari. Bagaimana awal dan akhir yang nantinya harus aku tempuh sebagai perjalanan diri. Hingga aku paham maksud dari garis takdir yang diberikan padaku saat nanti.

Kudapati kunci pada sebuah laci yang aku tak tahu sejak kapan ada di ruangan ini. Mulai aku cari lubang kunci, hingga membuka apa yang sedang aku inginkan saat ini. Satu kali klik bunyi, dua kali klik memastikan, hingga berhasil aku putar gagang pintu yang ada di depanku saat ini. Pintu terbuka sedikit, tapi aku masih enggan untuk melangkah pergi, menjauhi pintu tempatku berteduh hingga kini. Tak ayal rasa penasaran ini membuatku berkenan melangkah pergi. ... Bersambung.


Repetisi


Hai, Pak apa kabar?

Sebesar ini, aku masih saja rindu..
Ketika kau mentraktirku makan, saat aku pulang ke rumah..

Sebesar ini, aku masih juga sering iri..
Kepada mereka saat dimarahi oleh bapaknya sebab rokok..

Sebesar ini, aku benar-benar iri..
Saat melihat mereka bisa berangkat bersama bapaknya, kala Sholat Jumat..

Dulu, ingin rasanya bertanya bagaimana kisah romantismu dulu..

Bagaimana saat bertemu Ibuk..
Bagaimana proses perkenalan kalian..
Pacaran..
Hingga memutuskan untuk menikah.. 

Bahkan ingin kutahu, berapa usiamu saat itu..
Ketika kau memutuskan untuk datang melamar Ibuk..

Tapi, entah..
Sepertinya pun ini hanya anganku..
Ketika kau ada, aku tak pernah sedekat bisa duduk bersamamu..
Meski bersama, tak pernah ada percakapan tentang aku ataupun tentangmu..

Akhir-akhir ini sering kuberfikir..
Tak ada lagi tempat untuk berbicara bahkan berdiskusi..
Kepada siapa kelak bisa kubertanya tentang pernikahan.. 
Kepada siapa penguat keyakinan kala aku ingin datang untuk melamar pasangan..

Apa yang aku rasa, seakan sudah tidak ada penahan.. 
Siapa saja yang melarangku pun tak pernah aku hiraukan..
Aku dulu sangat berharap kebebasan..
Tapi sekarang..
Terlalu bebas pun membuatku bosan.. 

Pak, apapun keputusanku.. 
Semoga kau di sana juga setuju.. 
Meski aku tidak bisa menjadi inginmu..
Aku akan membuatmu bangga dengan versiku..

Jumat, 13 November 2020

Sepatu Bapak

Hai Yah.. 
Ternyata aneh rasanya kalo panggil dengan sebutan Ayah. Itu sebutan adek padamu, sedangkan aku memanggilmu dengan sebutan Bapak. 

Sebetulnya aku enggan menulis ini. Hanya saja, tampaknya tahun ini banyak bersliweran postingan ucapan selamat kepada sosok Ayah. 'Selamat Hari Ayah' beberapa story Whatsapp bertuliskan seperti itu. Hal tersebut, membuatku ingat kepingan memori di tahun-tahun yang telah lewat. 

"Kapan kuliahmu selesai?"

Pertanyaan itu masih sering terlintas. Tepatnya pada bulan september, satu bulan sebelum bulan kelahiranmu merangkap bulan kepergianmu. Seperti biasa, aku juga hanya bisa berkilah menjawab tanyamu.  

''Sebentar lagi".

Memori lain hadir, kau begitu mengkhawatirkanku. Sebab mengambil jurusan bahasa, kau takut aku kesulitan mencari kerja. Begitulah yang ibu sampaikan. Bahasa sayang yang tak pernah langsung kau tunjukan padaku, melainkan melalui perantara ibu.

Sialnya kali ini kekhawatiranmu terbukti benar adanya. Pekerjaanku selalu di luar ranah jurusan. Sempat 3 bulan menganggur setelah kelulusan. Lalu bertambah setahun menganggur setelah keluar dari pekerjaan pertama. Syukurnya kali ini bisa bekerja, tapi masih saja tetap di luar ranah bahasa.

Tak ingin kalah, memori lain berebut masuk. Kekhawatiranmu kau ceritakan pada adikmu. Ia bercerita padaku kala kau sudah tiada. Kali ini kau merasa gagal, sempat tiga bulan tidak bisa mentransfer uang bulanan. Membuatku memutuskan untuk bekerja di cafe mencari tambahan. 

Apakah aku sudah makan, bagaimana aku bisa jajan, takut aku memiliki banyak hutang, hingga ketakutan lain yang terus kau khawatirkan. Beruntung, adikmu pandai meredam apa yang kau takutkan.

Kepingan memori berikutnya muncul. Aku berharap kehadiranmu pada acara wisudaku. Berharap kau bisa mengajak ibu berkeliling kota kelahiranmu, sembari mengingat masa-masa pacaran bersama ibu. Berharap kau bisa bangga melihatku, anakmu yang kau damba, bisa lulus menjadi seorang sarjana. Berharap kau hadir, memenuhi undangan untuk mengisi kursi perwakilan orang tua. Lalu menangis saat namaku disebut untuk menerima ijasah. 

Aku benar-benar berharap kau bisa hadir. Membuatmu tak malu dengan penampilanmu, meski seringkali kau merasa minder, tidak seperti mereka dengan setelan jas atau pakaian mewah. Benar-benar ingin ku banggakan sosokmu, seorang pedagang ikan yang sanggup mensarjanakan anaknya, bahkan bukan lewat jalur beasiswa. 

Apalah mau dikata. Kau lebih dulu dipanggil oleh Sang Kuasa. Kursimu kosong tanpa isi, undangan untukmu tetap aku simpan dengan rapi. 

Kepingan terakhir muncul. Sampai akhir hayat, pernah kau ucap dan sampaikan pada ibu. Namun, hal itu tak kunjung terwujud. 

Kau ingin membelikanku sepatu, tepatnya sepatu untuk acara wisudaku. 

Terakhir aku pulang adalah saat libur panjang lebaran. Memang saat itu sepatu yang aku bawa untuk pulang adalah milik teman. Sepatu bekas, ada beberapa jahitan, tapi masih layak pakai. Sempat kau bertanya, aku pun jawab sekenanya, bahwa sepatuku hilang entah kemana, sebab memang sudah lubang di beberapa sudutnya. Kau hanya diam tanpa respon. 

Memang saat itu aku sama sekali tidak butuh sepatu. Perkuliahan sudah habis, bimbingan skripsi pun cukup dengan meminjam teman hanya untuk datang ke kampus. Seringnya memang begitu. Semua barang yang aku miliki, rata-rata adalah hasil pemberian. Sebab aku tipikal orang yang malas beli barang, jika barang yang lama masih bisa digunakan. 

Mengenakan celana bolong di bagian dengkul pernah aku alami. Dompet, belum pernah ganti sejak zaman SMA. Jaket, kalo belum sampai hilang ya ndak beli. Sepatu, kalo belum lubang sampai ndak bisa dijahit ya ndak beli, Kemeja, kaos, dan barang-barang lain. Sungguh jika bukan karena kau suruh, atau ibu yang mengajak ku, aku tak pernah mau untuk membeli barang jenis apapun itu. 

Sampai saat kau sudah pergi, sepatu juga tak kunjung terbeli. Aku tak tahu menahu, jika itu adalah keinginan terakhirmu. Sampai hari ke 40, ibu tak pernah menyampaikan apapun kepada ku. Hingga aku kembali ke perantauan, menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Sedangkan ibu di rumah, melakukan usaha keras menjadi pengganti mu sebagai kepala keluarga. 

Suatu ketika ibu menelepon. Suaranya berat, sesenggukan entah gerangan apa yang sudah terjadi. Aku diam bergeming, dia lalu bercerita. 

Siang hari matahari sangat terik. Ibu sedang istirahat merebahkan badan. Ia berada di teras rumah, sembari berjualan aneka gorengan, es sinom dan es kelapa muda. Memang begitulah salah satu bentuk usaha ibu, untuk terus memutar perekonomian keluarga. Tanpa sadar, lelah membuatnya lelap.

Tidak begitu lama, ibu terbangun. Menurutnya, ia mendengar suara mu. Meminta ibu untuk segera membelikan sepatu untuk ku. Mengasihaniku sebab tidak memiliki sepatu. Mengkhawatirkan ku di ejek teman-teman, sebab menggunakan sepatu yang tak layak pakai. Sejenak mendengar cerita ibu, membuatku tak bersuara. Aku heran, sampai tiada pun kenapa masih saja kau mengkhawatirkanku. Sedangkan aku, sebait fatihah atau do'a pun masih sering terlupa untuk ditujukan kepadamu. 

Selanjutnya ibu ingin mengirimkan tambahan uang, agar aku bisa membeli sepatu. Tapi aku menolaknya, dan berkata sudah memiliki simpanan untuk itu, lalu menenangkan ibu agar tidak terlalu khawatir memikirkanku. Padahal sejatinya juga tidak baik-baik saja, bahkan untuk mendaftar wisuda aku harus meminjam uang kepada Yayan temanku. Sialnya sampai saat ini juga belum bisa terlunasi.

Aku tidak terlalu memikirkan sepatu, sebab sudah ada rencana untuk meminjam kepada beberapa teman. Sepatu Pantovel, celana kain hitam, kemeja putih lengan panjang, dan juga jas yang dilengkapi dasi. Semua barang itu sudah aku list, mau meminjam kemana dan kepada siapa. Dari ujung rambut sampai kaki, hanya kaos kaki satu-satunya barang yang aku tidak pinjam. 

Tidak begitu lama apa yang tak pernah terduga pun terjadi. Budhe (kakak dari bapak ku) memberikan beberapa lembar uang pensiunan suaminya, lalu memaksaku untuk pergi mencari sepatu. Beberapa kali aku sudah menolaknya, tapi dia terus memaksaku. Hingga terbelilah sepatu pantovel pertama ku. 

Ujian Skripsiku telah berlalu. Yudisium berada di depan mata, undangan orang tua juga telah berada di genggaman ku. Banyak diantara para peserta wisuda merasa bahagia, bisa memberikan undangan untuk orang tuanya hadir dan menyaksikan anaknya di wisuda. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum masam. Ikut merasa bahagia melihat teman-teman, sedangkan undangan orang tua milik ku masih tersimpan rapi di dalam lemari.

Acara wisuda berlangsung sangat khidmat. Nyanyian mars atau hymne universitas melepas kelulusanku, dimana sebelumnya juga menyambut kedatangan ku sebagai mahasiswa baru. Prosesi wisuda telah usai. Banyak diantara para peserta wisuda terlihat bingung menemukan orang tua mereka. Tak sedikit juga yang sudah bertemu. 

Ada banyak tangis dan tawa pada sore itu. Para orang tua memeluk bangga anak mereka, Mengelu-elukan gelar kesarjanaan mereka, Berfoto-foto ria hingga memberikan berbagai kado dan bunga kepada anaknya yang telah di wisuda. Sedangkan aku masih terdiam duduk di kursi, memperhatikan orang-orang lalu beranjak menemui ibu di tempat kami sudah berjanji untuk bertemu. 

Sialnya aku melihatmu, duduk tersenyum di barisan ujung kursi tempat orang tua hadir. Kau mengenakan kopyah hitam, dengan batik berlengan panjang, juga celana kain kesukaanmu. Sandalmu juga tak begitu bagus, sebab memang itu sandal favoritmu. Aku berdiri mematung, kau masih saja terus tersenyum. Seketika itu aku rindu kau peluk, lalu mendapatkan ucapan selamat darimu. Ingin sekali aku letakan topi wisuda di kepalamu, lalu berbisik lirih..

"Maternuwun pak, pendidikanmu memang tidak tinggi, tapi kau bisa menyekolahkan aku hingga perguruan tinggi, maternuwun."

Selamat hari ayah, bahkan aku sudah hampir lupa ada hari ayah selain hari ibu. Sudah begitu lama pak, maafkan anakmu ini jika inginmu masih belum bisa aku penuhi. Mungkin yang lain masih bisa bertegur sapa mengucapkan selamat hari ayah, apalah aku yang hanya bisa mengirimkanmu sebait fatihah. 

Alfatihah...

















P.S : Selamat membaca, tapi tolong setelah itu tak perlu sampai mengucap bela sungkawa, atau mengasihani, atau menyemangati. Aku sudah baik-baik saja, tak usah khawatir. Tulisan lain tidak aku rekom untuk dibaca, sebab masih sangat tak beraturan. Terima kasih sudah berkunjung, sehat selalu, dan jangan lupa untuk berwelas asih kepada sesama makhluk.