Selasa, 28 Juli 2015

Wayang Bercerita

Baru saja Wayang membaca tulisanya. Tulisan dengan judul table “coretan gak penting”. Tulisan yang ditulis oleh si dia ini -sebut saja Danbo- menuliskan jawaban atas sebuah sapaan yang sudah membuatnya menitikkan air mata. Sapaan yang sungguh tidak tahu diri. Semacam tidak merasa berdosa dan bertanggung jawab atas apa yang sudah di tuliskan oleh Wayang dalam bentuk sapaan.

Sapaan Wayang tak bisa menjelaskan dan melegakan apa yang sudah diharapkan oleh Danbo. Harapan akan penjelasan dari sebuah penantian yang sudah dilakukan oleh Danbo. Sapaan tersebut memberikan kesadaran kepada Danbo akan hubungan yang telah sampai pada ujungnya. Bagi Danbo, ujung dari sebuah hubungan adalah untuk mengakhiri, entah mengakhiri dengan berhenti di tengah jalan ataukah mengakhirinya dengan bertemu di pelaminan. Hingga terjadilah mengakhiri dengan akhir yang pertama. Akhir yang sebenarnya tidak pernah diharapkan oleh Wayang, namun menjadi lebih baik bagi Wayang untuk dilakukan.

Wayang memang sosok yang egois, angkuh, dengan apa yang dikenal banyak orang dengan sebutan rindu. Banyak rindu, terutama rindu dari terciptanya suatu hubungan. Dia lebih memilih untuk menekan rasa rindunya saat rindu itu datang dan mencoba untuk menyapanya. Setiap kali datang, rindu itu seakan ditepis jauh-jauh. Digantikan dengan yang sering disebut tanggung jawab, dan juga kewajiban oleh banyak orang. bisa dikatakan hal tersebut hanya dalih atau sebuah pembenaran saja memang, bagi Wayang terserah bagaimana pembaca mengartikan. Namun menjadi sangat tidak berdaya bagi Wayang saat rindu itu terucap dan menuntut kepada Wayang agar terealisasikan.

Mungkin Danbo tidak tahu. Wayang belum mengerti mana yang harus didahulukan antara kewajiban, tanggung jawab, ataupun kerinduan. Bagi wayang semua itu sama untuk bisa selaras dijalankan. Namun, Wayang memang belum mengerti dan juga baru saja belajar tentang apa dan bagaimana itu sebuah hubungan. Dimana memunculkan kerinduan hingga menjadi sangat wajib untuk dipertanggung jawabkan karena menyangkut seseorang.

Wayang meminta maaf.. benar-benar meminta maaf. Wayang baru saja sadar, sekolah memang kewajiban oleh karena itu harus dipertanggung jawabkan karena menyangkut banyak orang. Organisasi juga kewajiban kerena sudah berani memilih untuk berorganisasi oleh karena itu harus dipertanggung jawabkan dihadapan banyak orang. Hubungan juga.. karena sudah dipilih oleh karena itu harus dipertanggung jawabkan pula.

Wayang sudah terbengkalai, karena terlalu sibuk menimbang-nimbang, memilih-milih, mana yang penting mana yang bukan. Wayang mencoba menata ulang puing-puing kegagalan. Pemikiran sistematis Wayang sudah mencelakakan banyak orang, mengecewakan, menyakiti, dan meninggalkan banyak bekas kesalahan yang sangat memalukan lalu ditinggalkan tanpa ada pertanggung jawaban.

Wayang memang seperti anak kecil, tapi dia ingin Danbo tahu, bahwa Wayang tidak pernah sekalipun memiliki maksud untuk melakukan semua –hal buruk - yang banyak seperti yang sudah Danbo rasakan dan fikirkan. Wayang hanya merasa kebingungan, itu saja. Kebingungan Wayang menyebabkan tidak terusahakanya sesuatu. Kebingungan yang menyebabkan kebingungan, saat kebingungan lain datang.


Di tulisan Danbo yang lain. Wayang menemukan Danbo sedang dalam titik kebingungan, kebingungan karena sudah menemukan kebahagiaan yang lain. Wayang memberikan pesan kepada Danbo untuk tidak terlalu lama bergulat dengan kebingungan. Segera putuskan sebelum datang kebingungan yang lain. Wayang berterima kasih. Banyak pelajaran yang sudah Danbo ajarkan. Jurus-jurus rahasia untuk bisa melumpuhkan, jurus-jurus dimana baru pertama kali Wayang dapatkan. Danbo tidak tahu jika memang benar baru pertama kali Wayang dapatkan. Wayang Berterima kasih untuk banyak hal kepada Danbo, dan meminta maaf untuk segala hal.[]

Whatsapp Terbangun

Sore ini saya di ajak Fandy untuk ngopi, karena ada janji dengan orang travel. Kami bertemu di warung kopi Cak Wang.

Iseng karena ada fasilitas hotspot wifi saya mencoba untuk memanfaatkanya. Menggunakan sarana handphone, yang sudah dilengkapi dengan aplikasi untuk terhubung dengan hotspot wifi. Berawal dari membuka facebook hingga twitter, sampai ke beberapa link menuju berita-berita yang sedang menjadi trending topik. Setelah bosan, baru saya teringat akan aplikasi whatsapp yang selalu gagal untuk saya download. Padahal handphone saya baru saja saya paketkan menggunakan xl kapasitas 5gb dengan jangka waktu satu bulan, maklum keuangan mulai sedikit stabil. Sialnya saya salah untuk memaketkannya. Paketan yang saya gunakan hanya berlaku untuk handphone dengan sarana 3G, handphone saya tidak masuk dalam kualifikasi. Lalu saya mencoba dengan perantara wifi cafe untuk mendownload aplikasinya. Aplikasi sukses saya download dan mulai memperbarui akun whatsapp yang telah lama saya nonaktifkan. Bukan tanpa alasan, namun karena dana yang ada harus saya alokasikan untuk pelunasan hutang. Sejak bulan februari aplikasi itu saya nonaktifkan, hingga hari ini 06 Mei 2015 baru saya aktifkan kembali. Semua pesan sejak februari mulai bermunculan masuk ke dalam akun whatsapp saya. Berikut ringkasanya, bukan gambar screensaver yang bisa saya tampilkan. Hanya nama sesuai di dalam kontak handphone saya, tanggal, dan pesan yang disampaikan oleh mereka. Dan semua pesan itu baru terbaca hari ini.

Sing Sita 12 /02 feb
Iyaa
lewat SFS aku
ð  Saya lupa dan kurang begitu tahu perihal apa pesan ini disampaikan, karena sudah lama sekali.

TB Agus /03 feb
Pek, sehat?
ð  Dia adalah teman saya anak teknik, sedang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi di organisasi kami ukpkm tegalboto. Dulu di awal bulan februari ini saya memang sudah mulai menghindar dari anak-anak terutama Si Agus ini. Entah kenapa, saya sudah kehilangan kenyamanan disana. Parahnya saat itu saya masih menjabat sebagai ketua, dan tidak bisa bertanggung jawab akan organisasi karena seringnya hilang tanpa kabar. Padahal semua sudah berusaha untuk merangkul saya kembali, seperti yang dilakukan si Agus ini, mencoba untuk menghubungi saya beberapa kali untuk menanyakan kabar ataupun keberadaan saya. Namun pesan ini juga baru saja terbaca. Maafkan Saya Gus...

Nisful Lailiyah /03 feb
Ardi ;(
ð  Gadis satu ini merupakan teman akrab dunia maya. Kami kenal sejak semester 2 namun tidak pernah bertemu muka hingga sekarang. Kenalpun berawal dari telefon nyasar yang dikiranya nomor telefon milik teman sekelasnya. Berawal dari situ kami menjadi sangat akrab hingga terkadang sering kali saling kali berbagi cerita, padahal sampai detik ini belum pernah sekalipun saya bertemu denganya. Saya kurang begitu faham mengenai pesan yang disampaikanya ini.

TB Didik /06 feb
Sudah sampe mana tulisanmu Di?
ð  Pemuda satu ini merupakan senior di organisasi saya. Secara struktural organisasi dia menjabat sebagai dewan pertimbangan organisasi (DPO). Dia yang selalu sering memberi nasehat dimana saat itu saya sudah sering misskomunikasi dan menghilang dari organisasi. Saat itu memang sedang dalam progress pengerjaan salah satu media, namun saya tidak bertanggung jawab dan memilih untuk menghilang. Oleh karena itu Mas Didik ini mencari saya untuk menagih tulisan. Pesan ini pun baru terbaca saat saya kembali menghidupkan whatsapp. Maafkan saya Mas Dik..

Ath Ilyas /10 feb
Mas sampean dk ndi?

TB Bill /11 feb
Anda dimana bung?
ð  Bill ini teman seangkatan saat diangkat menjadi pengurus, selain Agus dan Arum. bukan hanya Agus dan Mas Didik. Dia saat itu menjabat sebagai koordinator litbang, disini Bill juga berusaha mencari-cari saya. Adakalanya dia mengirimkan pesan untuk mengajak saya ngopi selain pesan menanyakan dimana keberadaan saya. Dan pesan ini juga baru saja terbaca saat saya menghidupkan whatsapp kembali. Sepurane Bill...

TB Toni /15 feb
Nak endi koen ar?
Ayo ngopi
ð  Toni ini juga salah satu teman di Tegalboto. Sama seperti yang lain, dia juga mencari-cari saya saat tiba-tiba menghilang dan tak pernah lagi muncul. Dan pesan ini juga baru saja terbaca. Sepurane Ton...

Ath Rizal /16 feb
Kode pos pondok piro?

Hj Yunisa MBI /17 feb
<Gambar>

+62 852-3376-xxxx /18 feb
Mas ardi aku cahyani. Al millah
Sms d no.ku ni aja yg m3 no.e ibuk.ku

RP_RPA à ada 5 pesan
Wkwkwk... lagu banyuwangian cak.
Gpopo t arek iki. Iki kn lgu kelangan.  /02 feb
B a nguun. Mandi. Sarapan syaang :* /03 feb
Di aq kebangun jam 0.33. Aq keingetan
qm yank. Kangen. /10 feb
Diam it bukan pilihan di. It bntuk lain dr
Siksa. Makasih untuk diam nya /14 feb
Aku mundur ya pendekar. Kamu jangan
lupa bahagia. J /19 feb
ð  (maaf saya tidak bisa menjelaskan untuk sosok satu ini) entah kenapa aku membaca pesan ini berulang kali. Sudah tak perlu dijelaskan lagi, namun saya akan membalasnya di tulisan yang lain. Pesan ini juga baru saja terbaca.. saya minta maaf.. dan terimakasih

Milenium Rika /22 feb
Mas, kenal dosen politik?

SIng Nopret /23 feb
Due di

Sing Dea /04 Mar
Diiii
Minggu kmren discourse blm bagi klompok??? blsenn matt

TB Lidya /05 Mar
Di... di... Kamu dimana? Aku mau mina conan :D Aku lg di jember

Anista /06 Mar
Qm k mlg gk

TB Vino /12 Mar
Km dmna di? Ayo ngopi aku d jember nij

Plantarum Nineng /14 Mar
<pesan terlampau panjang, singkatnya pengumumman yang di tujukan kepada seluruh Pemimpin Umum (PU) untuk diharapkan kedatangannya di dalam forum pada 16 Maret 2014 di LPM Sinvesta>

Etik /19 Mar
Ron..., lek etik wingi gak iso bls sms so gak due pulsa...., smpn nag omah engko taaa....

IKS Nanang à ada 5 pesan
Mas J /21 Mar
<Gambar> Siswane roby bos /21 Mar
Sampeyan nangndi mas ? /21 Mar
Mas ron J /26 Mar
Mas /12 Apr

TB Nuran /20 Apr
Awakmu sehat?
Yo opo kabarmu?

Lek Bin àada 4 pesan
Testing /09 feb
Tes /10 feb
<gambar> /20 mar
<pesan suara> /20 mar

MI Mufida /03 Mei
Rona


Whatsapp memang baru saja terbangun. Saat itu memang sedang masa-masa sulit. Dimana saya tidak mengalokasikan dana untuk menghidupi handphone. Tapi untuk dialokasikan ke beberapa hal yang sangat penting dan mendesak. Jangankan paket data, pulsa pun tidak saya isi. Oleh karena itu handphone saya biarkan. Terkadang juga saya matikan. Permasalahanya klise, masalah ekonomi. Saya sekali lagi memohon maaf karena semua pesan tersebut baru saja terbaca. Apa boleh buat banyak yang sudah terlanjur terjadi gegara hal tersebut. saya juga tidak menampik, semuanya terjadi juga karena kesalahan saya. Pada akhirnya seharusnya saya berani menghadapi permasalahan yang ada. Bukan menyerah dan memilih diam lalu pergi. Sekali lagi mohon maaf atas pesan-pesan di atas yang tidak terbalaskan dan juga baru saja terbaca.[] 

Kamis, 25 September 2014

Mahasiswa Baru

Mulai menulis lagi. Bukan menulis dengan menggunakan alat tulis di atas secarik kertas atau buku, melainkan menggunakan laptop yang beberapa bulan ini baru menemani saya. Sayang.. mungkin baru kali ini si laptop yang saya berinama Asu ini akan menghasilkan tulisan yang nantinya akan saya masukan ke dalam blog pribadi saya.

Kali ini akan bercerita tentang tempat tinggal saya yang hanya di tempati beberapa hari saja. Kost adalah pilihan pertama saat saya ditanya mau tinggal dimana selama menjadi mahasiswa. Jauh dari orang tua, beranggapan bisa melakukan apa saja, dengan keinginan untuk bebas saat sudah menjadi mahasiswa. Semua itu merupakan perwujudan karena efek 5 tahun hidup di pondok pesantren. Seperti burung yang baru saja lepas dari sangkar. Beranggapan bebas adalah saat hidup di luar sangkar, walaupun sebenarnya bebas itu tak sebebas seperti yang burung itu kira saat berada di dalam sangkar. Karena akan berlaku hukum alam, berburu atau di buru. Contoh lain untuk mancari tahu makna bebas. Melihat binatang di dalam kebun binatang dengan binatang di alam liar. Mana diantara keduannya yang bisa menjelaskan makna bebas yang sebenarnya?

Kost saya terletak di jalan jawa 7. Yang terletak di belakang kampus sastra tempat saya di terima. Tidak terlalu lebar memang. berukuran 3x3 dengan seperangkat lemari yang terbuat dari triplek, meja belajar, juga tempat tidur dengan dipan sederhana. Di situ saya hidup selama beberapa hari ke depan. Dengan beberapa kisah, juga teman. Di tambak pak kos yang biasa dikenal dengan sebutan Pak Haji dan Istrinya yang menganggap kami (anak kos.red) sebagai anaknya sendiri.

Saat itu hari pertama masuk kuliah. Bukan perkuliahan, tapi pengenalan kehidupan kampus atau lebih di kenal dengan PK2. Kegiatan yang di lakukan setiap tahun untuk menyambut mahasiswa baru dan memperkenalkan mereka dengan kehidupan kampus. Seperti biasa saat PK2 semua di haruskan memakai seragam, hitam putih. celana kain atau rok hitam dengan kemeja putih lengan panjang. Juga sepatu pantofel hitam. Saat itulah saya mulai kebingungan, karena tidak tahu pengumumman mengenai hal ini. Yang ada di fikiran adalah anak kuliahan itu tidak memakai seragam saat perkuliahan, dari referensi beberapa film dan televisi.  Di situ saya mulai kebingungan. Dari banyak kamar kos yang ada di situ saya hanya mengenal dua orang, karena sempat bertegur sapa dan mencari makan bersama, mereka juga sama mahasiswa baru seperti saya.

Melalui mereka berdua saya meminta tolong untuk meminjamkan kemeja putih untuk saya. Beberapa pintu di ketuk dan di masuki tapi semuanya mengaku tak punya atau hanya ada satu dan sedang mereka pakai. Hampir muncul niat untuk tidak ikut sampai akhirnya ada ide untuk meminjam kepada pak kos. Dan akhirnya dapat. Hari pertama sampai sepuluh hari terakhir saya memakai kemeja putih lengan panjang, dengan corak garis-garis hitam tipis. Kemeja yang biasa di pakai kakek-kakek usia senja untuk menghadiri acara tahlil atau ibadah. Lalu celana hitam -mangkak- jeans pensil dengan bawahan nguapret/ngepres -style celana yang ngetrend saat itu-. Di tambah sepatu sport warna abu-abu. Bersenjatakan mental yang kuat saya pun berangkat. mungkin ketika ada inspeksi, saat itu juga saya akan di suruh pulang atau di jadikan objek tertawaan di depan kelas.


Hanya 10 hari lamanya saya tinggal di kos ini. Setelahnya saya memilih untuk hidup di pesantren kembali. Entah mungkin karena tidak biasa dengan kehidupan di kos. bagi saya saat di kos ruang lingkup hanya sebatas kamar saja, cenderung lebih terbiasa dengan suasana ramai. Di mana kebersamaan menjadi saat yang menyenangkan.

Rabu, 12 Februari 2014

Natasha Nauljam, Suck Seed



Bukan menjadi sebuah tuntutan, tapi memang sudah seperti keharusan untuk di jalankan. Yah, menulis. Suatu hal yang sangat sulit untuk aku biasakan, terkandang hanya jika sedang mood saja aku akan menulis. Terkadang, walaupun mood itu pun belum tettu terselesaikan apa yang harus aku tulis.

2014, mungkin tahun ini akan aku jadikan ulasan dari tahun-tahun sebelumnya. Satu per satu mulai aku perhatikan untuk sekadar ingin mengabadikan, dengan sedikit menuliskanya. Untuk hari ini, mood sedang kuat-kuatnya untuk menceritakan seseorang dalam tulisan. Dia seorang perempuan yang dulu tidak lama aku mengenalnya. Berperawakan tinggi, entah jika di bandingkan denganku. Kulitnya, seputih dan sebersih kulit bayi. Selalu suka memakai kerudung terusan, alasanya selain mudah di pakai dia memang tidak bisa memakai jenis kerudung yang persegi empat. Tidak seperti seorang wanita pada umumnya, karena lebih suka memakai celana jeans dan hem lengan panjang.yang selalu di lipat di bawah sikunya.  

Saat pertama mengenalnya, orang akan mengira dia angkuh dan biasa saja. Berbeda jika bisa membuatnya tersenyum, karena senyumnya jarang sekali di miliki perempuan lainya. Aku mengenalnya dari temanku –Crispy-, karena dia suka dengan si perempuan itu –Cookies-. Karena penasaran, aku berusaha untuk mencari tahu nomer dari Cookies. Setelah ku mendapatkanya aku mencoba untuk sedikit berkenalan, melalui sms. 

Untuk pertama, kesan yang di buatnya adalah angkuh. Sms terkadang hanya di balas satu atau dua kali, lalu berhenti tanpa jawaban. Entah, seberapa keras hati si Cookies hingga sulit untuk ku mencoba menggigitnya. Memang butuh kesabaran ekstra untuk mendekati si Cookies istimewa ini. 

Setelah lewat satu bulan lamanya, Cookies mulai melunak. Pesan demi pesan mulai di jawabnya, entah angin darimana Cookies mulai berubah. Satu minggu lamanya Cookies mulai intens menerima dan menjawab pesan dari ku, tak peduli pagi ataukah tengah malam. Saat mengucap selamat pagi, hingga selamat malam. 

Cookies perempuan yang sangat mematuhi aturan, lalu bertemu aku yang sama sekali tidak suka di atur. Untuk mengajaknya keluar bermotor dengan jarak yang dekat, di haruskannya membawa helm. Selain itu, mungkin aku sedikit terbantu karena Cookies yang tak lupa untuk mengingatkan ibadah ku. Yah, memang aku tidak suka di atur tapi aku sadar. aku tetap seseorang yang membutuhkan batasan untuk membatasiku dari keterlepasan. 

Tidak banyak yang bisa aku ingat, tidak banyak juga yang bisa aku lupakan darinya. Pernah suatu ketika temanku Rizal memanggil Cookies dengan sebutan Ern atau Natasha Nauljam dengan alasan yang sulit untuk di cerna, karena nama asli Cookies yang pelafalanya sama dengan nama Ern. Ern adalah salah satu actrees yang bermain di dalam film Suck Seed. Dia sosok cantik, dengan rambut coklat kehitamannya yang indah. Ern memiliki senyum yang sangat manis menurutku, dengan tipe gigi seri khas yang aku suka. Selain itu dia seorang gitaris, memang darah dari keluarga pemusik.

Ern dengan Cookies, yah.. relatif entah dengan penilaian orang lain. Tapi tentu saja, mereka berdua memiliki kesamaan menurutku. 

Hanya ini cerita yang Rama sampaikan kepadaku, sosok pria melancholi yang selalu terlihat suram di wajahnya. Dia tidak begitu tinggi tapi unggul pada wajah tampanya, walau tidak banyak perempuan dengan status pernah menjadi mantan pacarnya. Yah.. memang tidak banyak.[]

Conan #76



Hari itu Detektif Mouri sedang bersantai di depan televisi menonton berita sembari menghidupkan rokoknya. Berita tentang perampokan bank yang belum seminggu terjadi, di duga ada salah seorang pegawai bank yang sempat tewas tertembak karena melawan. akan tetapi menurut kesaksian nasabah, bukanlah melawan melainkan menyuruh perampok untuk menghentikan perampokan itu. Tapi, si perampok langsung marah dan akhirnya menembak pegawai bank tersebut.

Mungkin para perampok tersebut sedang sial, karena uang dua ratus juta yang mereka rampok merupakan uang kertas baru yang hari itu diantar  ke bank. Selain itu polisi juga sudah memiliki nomor seri uang itu. melalui nomor seri, bisa melacak keberadaan uang curian itu berada. Itu yang dikatakan Amuro saat memasuki kantor Detektif Mouri sambil membawakan sandwich, karena Detektif Mouri bersedia mengajarinya menjadi detektif. Pagi itu, Amuro membuat Mouri kaget karena tahu ia memiliki janji bertemu dengan klien yang ingin diselidiki kasusnya, karena di hari libur biasanya Mouri tidak pernah lepas dari Koran pacuan kudanya. Tapi, hari ini sudah memakai pakaian rapi seolah ingin bertemu seseorang klien yang sangat penting. Apalagi jam segitu ada penayangan konser life Yoko Okino artis kebanggaan Mouri, seolah dia tak memikirkannya. 

Tanpa di komando Mouri langsung menyabet remote televisi dan menyalakanya. dengan semangat, ia meneriaki artis pujaanya. Memang benar Mouri mempunyai janji dengan klien yang tidak ia ketahui, karena menghubungi Mouri melalui internet yang homepagenya di buatkan Conan, oleh karena itu ia mengundurkan waktu pertemuanya agar bisa menonton Yoko Okino. Belum sampai acara selesai, Mouri mendapatkan email masuk dari Kei Kashitsuka berisikan perubahan tempat pertemuan. Semula di kantor Kogoro Mouri, berganti di Restoran Colombo yang berada tidak jauh dari kantor sesuai waktu yang di janjikan. Sedikit kesal, Mouri hampir saja tidak menyetujuinya. Akan tetapi Ran memaksa sekalian untuk makan siang, dan menyimpan sandwich untuk makan malam. Amuro meminta izin untuk ikut, karena jam kerja di Poirot tempatnya bekerja sudah habis. Mouri mengizinkan dengan syarat Amuro mau untuk membayar uang belajar kepada Mouri.

Percakapan pun terjadi, Mouri sedikit menjelaskan kasus yang di minta pecahkan kepada Amuro. Mulanya Klien Mouri menemukan kunci loker sewaan di antara barang peninggalan kakaknya yang meninggal beberapa hari yang lalu. Klien meminta Mouri untuk mencari loker yang di maksud, jika isinya termasuk benda yang berharga maka klien akan menguburkanya bersama kakaknya. dengan asumsi mudah mencari loker yang di maksud hanya melihat nomor seri dan nomor pabrik pembuatnya. Conan sedikit jengkel karena bayaran yang di berikan lebih besar dari pada Mouri yang tidak rajin.

Makan siang keluarga Mouri bersama Amoru pun selesai, tapi klien tidak juga muncul. Ketika memeriksa handphonenya Mouri baru sadar, email yang membuat janji pertama kali dengan email yang baru saja masuk untuk merubah tempat pertemuan alamatnya berbeda. Berbagai dugaan muncul, akhirnya Mouri memutuskan untuk kembali ke kantor. Sesampainya di kantor ternyata masih tetap tidak ada siapapun, lalu Mouri mengirimkan email kepada klien mengatakan bahwa ia sudah kembali ke kantor. Tak beberapa lama kemudian ada email masuk, mengatakan bahwa klien baru saja sampai di Restoran Colombo dan menyuruh Mouri untuk menghampirinya. Mouri pun memutuskan untuk berangkat kesana, di ikuti Conan yang minta untuk di tunggu karena mau ke kamar mandi. Belum sampai Mouri membuka pintu ia menerima email lagi dari klien, menyuruh mereka semua untuk berangkat. Tanpa di komando Amuro mendorong Ran keluar, Conan juga mendorong Mouri untuk keluar sembari menutup pintu kantor. Di luar kantor Amoru menceritakan dugaanya.

Ada seseorang yang tidak ingin Mouri bertemu dengan klien, oleh karenanya mengirim email tentang perubahan tempat janjian supaya Mouri meninggalkan kantor. Saat kantor kosong, dia pura-pura untuk menjadi asisten Mouri dan menyambut kedatangan klien yang sebenarnya. Terbukti dari beberapa bekas congkelan pada knop pintu, juga cangkir teh yang masih agak basah di lemari alat makan. 

“Doooor… !!” tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api di dalam kantor Kogoro Mouri, mereka pun masuk, dan mencari sumber suara yang tepatnya berasal dari kamar mandi. Di sana ada seorang pria duduk di atas kloset kamar mandi terbunuh dengan mata terbelalak dan mulut menganga menghadap langit-langit dengan di penuhi darah. Di tanganya terdapat pistol yang mengarah ke arahnya. Di depan pria yang terbunuh itu ada seorang wanita dengan tangan terikat dan mulut di lakban duduk di depan pria tersebut. 

Polisi datang, dan wanita itu diperiksa. Dia bernama Kashitsuka, klien yang meminta bantuan Mouri untuk mencari loker yang sesuai dengan kunci yang ditemukanya. Ketika di tanya kashitsuka mengaku tidak mengenal pria bunuh diri tersebut, pria itu yang menyambutnya ketika di kantor kogoro Mouri, sampai akhirnya ia memaksa Kashitsuka untuk mengatakan dimana kunci yang dimaksud karena ia harus menemukan loker itu secepatnya. 

Pemeriksaan terpaksa di hentikan, dan di lanjutkan besok karena hari sudah malam. Tidak bagi Conan dan Amuro, mereka merasakan adanya kejanggalan terhadap kasus yang di duga bunuh diri tersebut. Beberapa ke anehan mengusik fikiran mereka, seperti halnya ponsel pelaku yang berisi pemberitahuan perubahan tempat tapi tidak ada catatan email lagi setelah itu. lalu uang receh yang berisi hampir 5 ribu yen, 2 lembar uang sepuluh ribu, 5 lembar uang 5 ribu, 47 lembar uang seribu. 

Sebelum pulang Amuro sempat menawarkan untuk mengantarkan Kashitsuka pulang untuk berjaga-jaga adanya komplotan dari pelaku, Mouri pun ikut mengantar di ikuti Ran dan Conan. Mereka pun akhirnya mampir sebentar di manshion Kashitsuka karena Conan, Amuro dan Kogoro yang menumpang toilet. Manshion itu tergolong tempat mewah yang hanya di tinggali oleh Kashitsuka beserta kakaknya sebelum meninggal. Tidak sampai begitu lama berita bunuh diri di kantor Kogoro Mouri telah di muncul di televisi. Ran pun menghidupkan handphonenya yang sedari tadi mati, takut jika ibunya khawatir lalu menelfonya. Namun, bukan telefon dari ibunya yang masuk melainkan Sera. Siswi baru yang juga seorang detektif dan satu kelas dengan Ran. Akan tetapi, telefon yang masuk terputus-putus karena ruangan itu sedang di sadap. Melihat Amuro, Ran dan Mouri sibuk mencari alat penyadap yang ada di ruangan tersebut, Kashitsuka kabur membawa mobil bersama Conan yang tertidur karena obat bius yang terdapat pada minuman pemberian Kashitsuka. 

Penyadap akhirnya bisa ditemukan, beserta mayat laki-laki yang berada pada koper. Saat itu juga Mouri mendapat email dari Kashitsuka jika Conan sedang di bawanya. Ran lalu meminta bantuan kepada Profesor Agasa untuk melacak keberadaan Conan dengan kacamata pelacak jejak. Mendengar itu, Profesor Agasa sedikit bingung karena tidak ada kendaraan yang bisa ia bawa. Taka lama kemudian datang Subaru –tetangga baru profesor yang menempati rumah Shinichi untuk sementara- menawarkan tumpanganya untuk mencari conan.
Sebenarnya Conan sudah mengetahui semuanya. saat berada di dalam mobil ia bangun dan mengatakan semuanya kepada Kashitsuka yang sebenarnya bernama Serina Urakawa, atau kekasih dari pegawai bank yang menjadi korban penembakan. Pelaku bunuh diri di kantor Kogoro Mouri dan juga mayat yang ditemukan Amuro di dalam koper sebenarnya adalah dua dari tiga orang pelaku perampokan, yang di bunuh oleh Serina untuk membalaskan dendamnya. Dengan di bantu Conan, Serina mengunjungi rumah tiga wanita yang satu diantara mereka diduga sebagai pelaku terakhir dari komplotan perampok tersebut.

Alasan Conan mengikuti Serina adalah supaya Serina tidak mengakhiri hidupnya setelah membalaskan dendamnya, Conan pun membuat perjanjian kepada Sherina untuk mau menyerahkan diri kepada polisi ketika sudah mengetahui pelaku sebenarnya. Akan tetapi belum sampai Conan selesai menceritakan analisisnya, ia sudah di sekap dari belakang dan di ancam menggunakan pistol oleh pembunuh ketiga yang diam-diam mengikuti Conan dan Serina.

Cerita itu di akhiri dengan datangnya Amuro beserta Ran dan Mouri, lalu Sera, juga Subaru beserta Ai dan Profesor Agasa untuk membebaskan Conan. Kejadian itu di amati dari jauh oleh Vermouth salah satu anggota organisasi hitam. Dia lalu menelfon seseorang sembari mengatakan, “Kelihatanya.. Kamu berhasil mendapatkan kepercayaan mereka tapi kamu akan menepati janji kita, ‘kan? Bourbon”. Tepat di saat Amuro, Sera, dan Subaru juga menerima telefon dari seseorang.[]

Bergulirnya Waktu



Setiap tahun pasti berubah dan semua ada masanya, dimana yang dulu benih sekarang sudah tumbuh juga, mulai batang, ranting, daun dan juga buah. Pohon yang dulu mengayomi sekarang tergantikan sudah, dengan pohon pohon muda yang beranjak tua, mengayomi di bawah rindangnya, dengan semilir angin yang menyejukkan. Tak hanya pohon semua juga pasti ada masanya, tahun demi tahun yang tak lama telah tergantikan dengan tahun demi tahun yang mulai muncul dan menggantikan, bukan sedih tapi jadi saksi, sebuah perkembangan yang terus terjadi, tidak jalan di tempat atau berhenti di situ saja. 

Banyak yang tak terketahui dari rumitnya kehidupan akan tetapi disitulah suatu kenangan akan mewakilkan, oleh segala peristiwa, tempat, waktu, dan juga tidak memandang kejadian ataupun peristiwa, semua pasti terekam walaupun hanya jadi kenangan saja. Masa yang tak pernah lepas oleh asa, semua tak akan sia sia tak akan bisa dimakan usia karna akan jadi sejarah oleh setiap insan yang mewakilinya. Berbicara soal waktu yang tidak akan pernah ada habisnya, hanya bertambah dan terus bertambah membuat banyak orang lupa akan setiap masa dan usianya, tak pernah terkirakan juga tak pernah tersadarkan, akan masa demi masa yang terus hilang, juga waktu demi waktu yang telah tergantikan. 

Menjalani sebuah kehidupan layaknya menulis pada sebuah buku, tak hanya menulis, juga bisa di umpamakan dengan contoh lainya, tergantung orang itu yang menjalani. Bagai menulis, terus menulis, memang tak tahu bakal siapa dan kapan akan dibaca, untuk dikenang atau pun tuk teringatkan. Menulis dan terus menulis, akan semua, seutuhnya sebuah kehidupan yang terjalani atau terlewati, berubah menjadi guratan yang tak tahu hingga sampai kapan. Setiap orang ingin dikenang, entah oleh kelayakan atau ketidak layakan dirinya tuk di kenang. Entah disengaja atau ketidak sengajaan karena terkenang.

Dari bayi hingga tumbuh, tak akan pernah kau tuk menahu, bukan gambar, bukan tulisan, bukan juga dirimu, yang menjadi saksi akan perjalanan hidupmu. Hanya orang-orang di sekitarmu, temanmu, teman masa kecilmu, teman semasa pertumbuhanmu. Yang kan menggambarkan, menuliskan, menjadi sebuah memori kenangan. Lingkaran waktu yang takkan pernah terhindarkan tak juga tuk tertaklukan selalu menyelimuti kehidupan, dengan angkuhnya selalu menjatuhkan atau malah meninggikan setiap insan.

Sebuah pencapaian yang tak pernah tersadarkan, sebuah kehidupan yang semakin lama mulai tak terasakan. Entah ketidak sadaran atau memang sudah tenggelam di dalam sebuah lembah kematian, ataukah terjebak di dalam ke abnormalan yang tak tahu entah sampai kapan. Sudah banyak umpatan yang keluar, entah karna pelampiasan atau secara kebetulan. Sudah banyak juga yang terlewatkan tapi hanya timbul penyesalan, karna hidup di dalam sebuah bayang-bayang yang mulai muncul menghitam.

Kesadaran ini seakan digerogoti oleh sang waktu, penyesalan dan sebuah pertanyaan, hingga timbul suatu kehampaan yang tak bisa tuk di abaikan. Diam dalam renungan sebuah kehampaan, hingga memikirkan waktu, dan terus mengumpat kenapa harus bermusuhan dengan sang waktu, dia tertawa dan terus tertawa, perlahan tapi pasti, entah kan menyadari atau malah tergerus oleh emosi yang tak terkendali. Sang waktu yang tak pernah tuk bertoleransi, dalam cengkramanya, perlahan tapi pasti, yang terjangkiti pun akan mati.

Kematian pun mulai datang tuk menjangkiti dalam nikmatnya, dia terus menggerogoti. tak kenal lelah karna memang tak pernah tuk bisa merasakan lelah. Tak mudah tuk putus asa karna mereka tak punya asa. Tak jauh beda, mereka juga sama angkuhnya, tak peduli siapa, entah kapan waktunya atau dimana tempatnya, tak juga peduli harus seperti apa kondisinya ataupun dalam posisi apa,  ia akan senantiasa tuk menyalami lalu mengiringi. Begitu berat jika sadar harus bermusuhan dengan mereka, karena jangankan tuk  menghindar menyerang tuk membelapun tak akan terlaksana, pada akhirnya hanyalah menerima dengan seutuhnya.

Dalam kebingungan penuh tanya dalam hampa, yang hanya kan tertawa oleh karena orang lain saja. Hanya sebagai saksi tanpa bisa merasai, hanya menjadi pendengar tanpa bisa bercerita karena tak ada yang tuk di kata, selalu sebaga objek perantara tanpa menjadi sebuah subjek yang bisa tuk ikut dan pernah merasa. Bahagia karena mereka demi mereka tanpa bisa tuk merasa menjadi tokoh utama, tak tahu harus dengan siapa dan harus bagaimana tuk menghadapinya, seperti ini dan terus selalu begitu saja, hingga menjadi penutup senyuman pasrah.

Objek manusia dengan segala kesulitan yang dihadapinya, tanpa tahu akan jalan keluar yang entah ada atau bisa tuk diraihnya, hanya putus asa, dalam hampa, yang tak tahu kapan habisnya. Kapan ada cahaya jika memang harus seperti ini tuk menjalaninya, entah memang benar ada cahaya ataukah sama sekali tak akan pernah ada cahaya. Selalu dalam persimpangan yang tak tahu harus memilih yang mana, memilih satu dan akan terus ada satu, dan satu. Terjebak di dalam sebuah kerumitan atau memang membuat sebuah kerumitan, di dakam sebuah kenyataan ataukah berada di dalam sebuah bayangan, hanya satu dan kembali kepada satu, sebuah kesulitan yang tak terjawabkan.

Seperti manusia buta di dalam goa yang gelap gulita, tanpa adanya cahaya, hanya meraba, merasa dan mendengarkan saja, berada di dalam sebuah goa tapi hanya terlihat hitam biasa saja, selalu lewat perantara dan menjadi perantara, tanpa tahu bagaimana sebuah rasa yang sesungguhnya, tanpa tahu bagaimana subjek dari sebuah rasa. Seperti sebuah buku cerita, yang hanya bisa ku baca, tertawa dengan sendirinya, penasaran oleh ceritanya dan seringnya selalu terbawa. Sebuah ilusi yang ku juga bisa merasa tanpa benar-benar bisa melakukanya.
Entah akan menjadi apa dan akan seperti apa, dalam kebingungan akan sebuah makna, atau mungkin memang tak bermakna, sebuah buku baru yang sudah lusuh.[]