Rabu, 12 Februari 2014

Natasha Nauljam, Suck Seed



Bukan menjadi sebuah tuntutan, tapi memang sudah seperti keharusan untuk di jalankan. Yah, menulis. Suatu hal yang sangat sulit untuk aku biasakan, terkandang hanya jika sedang mood saja aku akan menulis. Terkadang, walaupun mood itu pun belum tettu terselesaikan apa yang harus aku tulis.

2014, mungkin tahun ini akan aku jadikan ulasan dari tahun-tahun sebelumnya. Satu per satu mulai aku perhatikan untuk sekadar ingin mengabadikan, dengan sedikit menuliskanya. Untuk hari ini, mood sedang kuat-kuatnya untuk menceritakan seseorang dalam tulisan. Dia seorang perempuan yang dulu tidak lama aku mengenalnya. Berperawakan tinggi, entah jika di bandingkan denganku. Kulitnya, seputih dan sebersih kulit bayi. Selalu suka memakai kerudung terusan, alasanya selain mudah di pakai dia memang tidak bisa memakai jenis kerudung yang persegi empat. Tidak seperti seorang wanita pada umumnya, karena lebih suka memakai celana jeans dan hem lengan panjang.yang selalu di lipat di bawah sikunya.  

Saat pertama mengenalnya, orang akan mengira dia angkuh dan biasa saja. Berbeda jika bisa membuatnya tersenyum, karena senyumnya jarang sekali di miliki perempuan lainya. Aku mengenalnya dari temanku –Crispy-, karena dia suka dengan si perempuan itu –Cookies-. Karena penasaran, aku berusaha untuk mencari tahu nomer dari Cookies. Setelah ku mendapatkanya aku mencoba untuk sedikit berkenalan, melalui sms. 

Untuk pertama, kesan yang di buatnya adalah angkuh. Sms terkadang hanya di balas satu atau dua kali, lalu berhenti tanpa jawaban. Entah, seberapa keras hati si Cookies hingga sulit untuk ku mencoba menggigitnya. Memang butuh kesabaran ekstra untuk mendekati si Cookies istimewa ini. 

Setelah lewat satu bulan lamanya, Cookies mulai melunak. Pesan demi pesan mulai di jawabnya, entah angin darimana Cookies mulai berubah. Satu minggu lamanya Cookies mulai intens menerima dan menjawab pesan dari ku, tak peduli pagi ataukah tengah malam. Saat mengucap selamat pagi, hingga selamat malam. 

Cookies perempuan yang sangat mematuhi aturan, lalu bertemu aku yang sama sekali tidak suka di atur. Untuk mengajaknya keluar bermotor dengan jarak yang dekat, di haruskannya membawa helm. Selain itu, mungkin aku sedikit terbantu karena Cookies yang tak lupa untuk mengingatkan ibadah ku. Yah, memang aku tidak suka di atur tapi aku sadar. aku tetap seseorang yang membutuhkan batasan untuk membatasiku dari keterlepasan. 

Tidak banyak yang bisa aku ingat, tidak banyak juga yang bisa aku lupakan darinya. Pernah suatu ketika temanku Rizal memanggil Cookies dengan sebutan Ern atau Natasha Nauljam dengan alasan yang sulit untuk di cerna, karena nama asli Cookies yang pelafalanya sama dengan nama Ern. Ern adalah salah satu actrees yang bermain di dalam film Suck Seed. Dia sosok cantik, dengan rambut coklat kehitamannya yang indah. Ern memiliki senyum yang sangat manis menurutku, dengan tipe gigi seri khas yang aku suka. Selain itu dia seorang gitaris, memang darah dari keluarga pemusik.

Ern dengan Cookies, yah.. relatif entah dengan penilaian orang lain. Tapi tentu saja, mereka berdua memiliki kesamaan menurutku. 

Hanya ini cerita yang Rama sampaikan kepadaku, sosok pria melancholi yang selalu terlihat suram di wajahnya. Dia tidak begitu tinggi tapi unggul pada wajah tampanya, walau tidak banyak perempuan dengan status pernah menjadi mantan pacarnya. Yah.. memang tidak banyak.[]

Conan #76



Hari itu Detektif Mouri sedang bersantai di depan televisi menonton berita sembari menghidupkan rokoknya. Berita tentang perampokan bank yang belum seminggu terjadi, di duga ada salah seorang pegawai bank yang sempat tewas tertembak karena melawan. akan tetapi menurut kesaksian nasabah, bukanlah melawan melainkan menyuruh perampok untuk menghentikan perampokan itu. Tapi, si perampok langsung marah dan akhirnya menembak pegawai bank tersebut.

Mungkin para perampok tersebut sedang sial, karena uang dua ratus juta yang mereka rampok merupakan uang kertas baru yang hari itu diantar  ke bank. Selain itu polisi juga sudah memiliki nomor seri uang itu. melalui nomor seri, bisa melacak keberadaan uang curian itu berada. Itu yang dikatakan Amuro saat memasuki kantor Detektif Mouri sambil membawakan sandwich, karena Detektif Mouri bersedia mengajarinya menjadi detektif. Pagi itu, Amuro membuat Mouri kaget karena tahu ia memiliki janji bertemu dengan klien yang ingin diselidiki kasusnya, karena di hari libur biasanya Mouri tidak pernah lepas dari Koran pacuan kudanya. Tapi, hari ini sudah memakai pakaian rapi seolah ingin bertemu seseorang klien yang sangat penting. Apalagi jam segitu ada penayangan konser life Yoko Okino artis kebanggaan Mouri, seolah dia tak memikirkannya. 

Tanpa di komando Mouri langsung menyabet remote televisi dan menyalakanya. dengan semangat, ia meneriaki artis pujaanya. Memang benar Mouri mempunyai janji dengan klien yang tidak ia ketahui, karena menghubungi Mouri melalui internet yang homepagenya di buatkan Conan, oleh karena itu ia mengundurkan waktu pertemuanya agar bisa menonton Yoko Okino. Belum sampai acara selesai, Mouri mendapatkan email masuk dari Kei Kashitsuka berisikan perubahan tempat pertemuan. Semula di kantor Kogoro Mouri, berganti di Restoran Colombo yang berada tidak jauh dari kantor sesuai waktu yang di janjikan. Sedikit kesal, Mouri hampir saja tidak menyetujuinya. Akan tetapi Ran memaksa sekalian untuk makan siang, dan menyimpan sandwich untuk makan malam. Amuro meminta izin untuk ikut, karena jam kerja di Poirot tempatnya bekerja sudah habis. Mouri mengizinkan dengan syarat Amuro mau untuk membayar uang belajar kepada Mouri.

Percakapan pun terjadi, Mouri sedikit menjelaskan kasus yang di minta pecahkan kepada Amuro. Mulanya Klien Mouri menemukan kunci loker sewaan di antara barang peninggalan kakaknya yang meninggal beberapa hari yang lalu. Klien meminta Mouri untuk mencari loker yang di maksud, jika isinya termasuk benda yang berharga maka klien akan menguburkanya bersama kakaknya. dengan asumsi mudah mencari loker yang di maksud hanya melihat nomor seri dan nomor pabrik pembuatnya. Conan sedikit jengkel karena bayaran yang di berikan lebih besar dari pada Mouri yang tidak rajin.

Makan siang keluarga Mouri bersama Amoru pun selesai, tapi klien tidak juga muncul. Ketika memeriksa handphonenya Mouri baru sadar, email yang membuat janji pertama kali dengan email yang baru saja masuk untuk merubah tempat pertemuan alamatnya berbeda. Berbagai dugaan muncul, akhirnya Mouri memutuskan untuk kembali ke kantor. Sesampainya di kantor ternyata masih tetap tidak ada siapapun, lalu Mouri mengirimkan email kepada klien mengatakan bahwa ia sudah kembali ke kantor. Tak beberapa lama kemudian ada email masuk, mengatakan bahwa klien baru saja sampai di Restoran Colombo dan menyuruh Mouri untuk menghampirinya. Mouri pun memutuskan untuk berangkat kesana, di ikuti Conan yang minta untuk di tunggu karena mau ke kamar mandi. Belum sampai Mouri membuka pintu ia menerima email lagi dari klien, menyuruh mereka semua untuk berangkat. Tanpa di komando Amuro mendorong Ran keluar, Conan juga mendorong Mouri untuk keluar sembari menutup pintu kantor. Di luar kantor Amoru menceritakan dugaanya.

Ada seseorang yang tidak ingin Mouri bertemu dengan klien, oleh karenanya mengirim email tentang perubahan tempat janjian supaya Mouri meninggalkan kantor. Saat kantor kosong, dia pura-pura untuk menjadi asisten Mouri dan menyambut kedatangan klien yang sebenarnya. Terbukti dari beberapa bekas congkelan pada knop pintu, juga cangkir teh yang masih agak basah di lemari alat makan. 

“Doooor… !!” tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api di dalam kantor Kogoro Mouri, mereka pun masuk, dan mencari sumber suara yang tepatnya berasal dari kamar mandi. Di sana ada seorang pria duduk di atas kloset kamar mandi terbunuh dengan mata terbelalak dan mulut menganga menghadap langit-langit dengan di penuhi darah. Di tanganya terdapat pistol yang mengarah ke arahnya. Di depan pria yang terbunuh itu ada seorang wanita dengan tangan terikat dan mulut di lakban duduk di depan pria tersebut. 

Polisi datang, dan wanita itu diperiksa. Dia bernama Kashitsuka, klien yang meminta bantuan Mouri untuk mencari loker yang sesuai dengan kunci yang ditemukanya. Ketika di tanya kashitsuka mengaku tidak mengenal pria bunuh diri tersebut, pria itu yang menyambutnya ketika di kantor kogoro Mouri, sampai akhirnya ia memaksa Kashitsuka untuk mengatakan dimana kunci yang dimaksud karena ia harus menemukan loker itu secepatnya. 

Pemeriksaan terpaksa di hentikan, dan di lanjutkan besok karena hari sudah malam. Tidak bagi Conan dan Amuro, mereka merasakan adanya kejanggalan terhadap kasus yang di duga bunuh diri tersebut. Beberapa ke anehan mengusik fikiran mereka, seperti halnya ponsel pelaku yang berisi pemberitahuan perubahan tempat tapi tidak ada catatan email lagi setelah itu. lalu uang receh yang berisi hampir 5 ribu yen, 2 lembar uang sepuluh ribu, 5 lembar uang 5 ribu, 47 lembar uang seribu. 

Sebelum pulang Amuro sempat menawarkan untuk mengantarkan Kashitsuka pulang untuk berjaga-jaga adanya komplotan dari pelaku, Mouri pun ikut mengantar di ikuti Ran dan Conan. Mereka pun akhirnya mampir sebentar di manshion Kashitsuka karena Conan, Amuro dan Kogoro yang menumpang toilet. Manshion itu tergolong tempat mewah yang hanya di tinggali oleh Kashitsuka beserta kakaknya sebelum meninggal. Tidak sampai begitu lama berita bunuh diri di kantor Kogoro Mouri telah di muncul di televisi. Ran pun menghidupkan handphonenya yang sedari tadi mati, takut jika ibunya khawatir lalu menelfonya. Namun, bukan telefon dari ibunya yang masuk melainkan Sera. Siswi baru yang juga seorang detektif dan satu kelas dengan Ran. Akan tetapi, telefon yang masuk terputus-putus karena ruangan itu sedang di sadap. Melihat Amuro, Ran dan Mouri sibuk mencari alat penyadap yang ada di ruangan tersebut, Kashitsuka kabur membawa mobil bersama Conan yang tertidur karena obat bius yang terdapat pada minuman pemberian Kashitsuka. 

Penyadap akhirnya bisa ditemukan, beserta mayat laki-laki yang berada pada koper. Saat itu juga Mouri mendapat email dari Kashitsuka jika Conan sedang di bawanya. Ran lalu meminta bantuan kepada Profesor Agasa untuk melacak keberadaan Conan dengan kacamata pelacak jejak. Mendengar itu, Profesor Agasa sedikit bingung karena tidak ada kendaraan yang bisa ia bawa. Taka lama kemudian datang Subaru –tetangga baru profesor yang menempati rumah Shinichi untuk sementara- menawarkan tumpanganya untuk mencari conan.
Sebenarnya Conan sudah mengetahui semuanya. saat berada di dalam mobil ia bangun dan mengatakan semuanya kepada Kashitsuka yang sebenarnya bernama Serina Urakawa, atau kekasih dari pegawai bank yang menjadi korban penembakan. Pelaku bunuh diri di kantor Kogoro Mouri dan juga mayat yang ditemukan Amuro di dalam koper sebenarnya adalah dua dari tiga orang pelaku perampokan, yang di bunuh oleh Serina untuk membalaskan dendamnya. Dengan di bantu Conan, Serina mengunjungi rumah tiga wanita yang satu diantara mereka diduga sebagai pelaku terakhir dari komplotan perampok tersebut.

Alasan Conan mengikuti Serina adalah supaya Serina tidak mengakhiri hidupnya setelah membalaskan dendamnya, Conan pun membuat perjanjian kepada Sherina untuk mau menyerahkan diri kepada polisi ketika sudah mengetahui pelaku sebenarnya. Akan tetapi belum sampai Conan selesai menceritakan analisisnya, ia sudah di sekap dari belakang dan di ancam menggunakan pistol oleh pembunuh ketiga yang diam-diam mengikuti Conan dan Serina.

Cerita itu di akhiri dengan datangnya Amuro beserta Ran dan Mouri, lalu Sera, juga Subaru beserta Ai dan Profesor Agasa untuk membebaskan Conan. Kejadian itu di amati dari jauh oleh Vermouth salah satu anggota organisasi hitam. Dia lalu menelfon seseorang sembari mengatakan, “Kelihatanya.. Kamu berhasil mendapatkan kepercayaan mereka tapi kamu akan menepati janji kita, ‘kan? Bourbon”. Tepat di saat Amuro, Sera, dan Subaru juga menerima telefon dari seseorang.[]

Bergulirnya Waktu



Setiap tahun pasti berubah dan semua ada masanya, dimana yang dulu benih sekarang sudah tumbuh juga, mulai batang, ranting, daun dan juga buah. Pohon yang dulu mengayomi sekarang tergantikan sudah, dengan pohon pohon muda yang beranjak tua, mengayomi di bawah rindangnya, dengan semilir angin yang menyejukkan. Tak hanya pohon semua juga pasti ada masanya, tahun demi tahun yang tak lama telah tergantikan dengan tahun demi tahun yang mulai muncul dan menggantikan, bukan sedih tapi jadi saksi, sebuah perkembangan yang terus terjadi, tidak jalan di tempat atau berhenti di situ saja. 

Banyak yang tak terketahui dari rumitnya kehidupan akan tetapi disitulah suatu kenangan akan mewakilkan, oleh segala peristiwa, tempat, waktu, dan juga tidak memandang kejadian ataupun peristiwa, semua pasti terekam walaupun hanya jadi kenangan saja. Masa yang tak pernah lepas oleh asa, semua tak akan sia sia tak akan bisa dimakan usia karna akan jadi sejarah oleh setiap insan yang mewakilinya. Berbicara soal waktu yang tidak akan pernah ada habisnya, hanya bertambah dan terus bertambah membuat banyak orang lupa akan setiap masa dan usianya, tak pernah terkirakan juga tak pernah tersadarkan, akan masa demi masa yang terus hilang, juga waktu demi waktu yang telah tergantikan. 

Menjalani sebuah kehidupan layaknya menulis pada sebuah buku, tak hanya menulis, juga bisa di umpamakan dengan contoh lainya, tergantung orang itu yang menjalani. Bagai menulis, terus menulis, memang tak tahu bakal siapa dan kapan akan dibaca, untuk dikenang atau pun tuk teringatkan. Menulis dan terus menulis, akan semua, seutuhnya sebuah kehidupan yang terjalani atau terlewati, berubah menjadi guratan yang tak tahu hingga sampai kapan. Setiap orang ingin dikenang, entah oleh kelayakan atau ketidak layakan dirinya tuk di kenang. Entah disengaja atau ketidak sengajaan karena terkenang.

Dari bayi hingga tumbuh, tak akan pernah kau tuk menahu, bukan gambar, bukan tulisan, bukan juga dirimu, yang menjadi saksi akan perjalanan hidupmu. Hanya orang-orang di sekitarmu, temanmu, teman masa kecilmu, teman semasa pertumbuhanmu. Yang kan menggambarkan, menuliskan, menjadi sebuah memori kenangan. Lingkaran waktu yang takkan pernah terhindarkan tak juga tuk tertaklukan selalu menyelimuti kehidupan, dengan angkuhnya selalu menjatuhkan atau malah meninggikan setiap insan.

Sebuah pencapaian yang tak pernah tersadarkan, sebuah kehidupan yang semakin lama mulai tak terasakan. Entah ketidak sadaran atau memang sudah tenggelam di dalam sebuah lembah kematian, ataukah terjebak di dalam ke abnormalan yang tak tahu entah sampai kapan. Sudah banyak umpatan yang keluar, entah karna pelampiasan atau secara kebetulan. Sudah banyak juga yang terlewatkan tapi hanya timbul penyesalan, karna hidup di dalam sebuah bayang-bayang yang mulai muncul menghitam.

Kesadaran ini seakan digerogoti oleh sang waktu, penyesalan dan sebuah pertanyaan, hingga timbul suatu kehampaan yang tak bisa tuk di abaikan. Diam dalam renungan sebuah kehampaan, hingga memikirkan waktu, dan terus mengumpat kenapa harus bermusuhan dengan sang waktu, dia tertawa dan terus tertawa, perlahan tapi pasti, entah kan menyadari atau malah tergerus oleh emosi yang tak terkendali. Sang waktu yang tak pernah tuk bertoleransi, dalam cengkramanya, perlahan tapi pasti, yang terjangkiti pun akan mati.

Kematian pun mulai datang tuk menjangkiti dalam nikmatnya, dia terus menggerogoti. tak kenal lelah karna memang tak pernah tuk bisa merasakan lelah. Tak mudah tuk putus asa karna mereka tak punya asa. Tak jauh beda, mereka juga sama angkuhnya, tak peduli siapa, entah kapan waktunya atau dimana tempatnya, tak juga peduli harus seperti apa kondisinya ataupun dalam posisi apa,  ia akan senantiasa tuk menyalami lalu mengiringi. Begitu berat jika sadar harus bermusuhan dengan mereka, karena jangankan tuk  menghindar menyerang tuk membelapun tak akan terlaksana, pada akhirnya hanyalah menerima dengan seutuhnya.

Dalam kebingungan penuh tanya dalam hampa, yang hanya kan tertawa oleh karena orang lain saja. Hanya sebagai saksi tanpa bisa merasai, hanya menjadi pendengar tanpa bisa bercerita karena tak ada yang tuk di kata, selalu sebaga objek perantara tanpa menjadi sebuah subjek yang bisa tuk ikut dan pernah merasa. Bahagia karena mereka demi mereka tanpa bisa tuk merasa menjadi tokoh utama, tak tahu harus dengan siapa dan harus bagaimana tuk menghadapinya, seperti ini dan terus selalu begitu saja, hingga menjadi penutup senyuman pasrah.

Objek manusia dengan segala kesulitan yang dihadapinya, tanpa tahu akan jalan keluar yang entah ada atau bisa tuk diraihnya, hanya putus asa, dalam hampa, yang tak tahu kapan habisnya. Kapan ada cahaya jika memang harus seperti ini tuk menjalaninya, entah memang benar ada cahaya ataukah sama sekali tak akan pernah ada cahaya. Selalu dalam persimpangan yang tak tahu harus memilih yang mana, memilih satu dan akan terus ada satu, dan satu. Terjebak di dalam sebuah kerumitan atau memang membuat sebuah kerumitan, di dakam sebuah kenyataan ataukah berada di dalam sebuah bayangan, hanya satu dan kembali kepada satu, sebuah kesulitan yang tak terjawabkan.

Seperti manusia buta di dalam goa yang gelap gulita, tanpa adanya cahaya, hanya meraba, merasa dan mendengarkan saja, berada di dalam sebuah goa tapi hanya terlihat hitam biasa saja, selalu lewat perantara dan menjadi perantara, tanpa tahu bagaimana sebuah rasa yang sesungguhnya, tanpa tahu bagaimana subjek dari sebuah rasa. Seperti sebuah buku cerita, yang hanya bisa ku baca, tertawa dengan sendirinya, penasaran oleh ceritanya dan seringnya selalu terbawa. Sebuah ilusi yang ku juga bisa merasa tanpa benar-benar bisa melakukanya.
Entah akan menjadi apa dan akan seperti apa, dalam kebingungan akan sebuah makna, atau mungkin memang tak bermakna, sebuah buku baru yang sudah lusuh.[]

Puisi yang Hilang



Aryo adalah sosok orang yang tinggi sedang. dengan wajah oval, dia termasuk pria tampan di kelasnya. Akan tetapi, pria tampan yang belum pernah melabeli perempuan sebagai mantanya. Kulitnya sawo matang, dengan mata sayu tatapanya. Rambutnya sedikit panjang tapi tidak terlihat menakutkan, karna wajah melancholi yang selalu di perlihatkan.

Setelah beberapa hari ini melihat wajah sendunya. akhirnya dia bercerita juga ketika ku membaca buku pada sore itu, dalam tenang dia berjalan ke arahku lalu duduk bersila di hadapanku, dia yang biasa di sebut Aryo masih duduk diam di hadapanku hingga mulai membuka mulut untuk bercerita.

                Aku mengenalnya pada siang tidak begitu sore, di tempat biasa ku meletakkan kendaraanku. Awal pertemuan di parkiran, kita hanya saling pandang dalam dia, hanya saling pandang, hingga ku sibuk tuk memasukan kendaraanku dan dia sibuk tuk mengeluarkan kendaraannya. aku baru saja pulang dari penatnya kuliah, dan dia mungkin baru saja akan kuliah dengan harum aroma tubuhnya juga ayu nan elok paras wajahnya.

Ku tutup buku bacaanku dan ku letakkan di hadapanku tuk mendengar keseriusan cerita Aryo yang masuk ke dalam telingaku, untuk kali ini dia benar-benar serius akan apa yang di ucapkanya, guratan wajahnya tak bisa menipuku, juga kesedihan ataukah kehilangan yang terpancar dari keseriusan matanya menatapku.

                Sejak saat itu fikiranku tak bisa ku alihkan dari wajahnya, aku tak tahu apa itu hingga ku tepiskan jauh dan ku ganti dengan fikiran akan urusan lain, urusan yang yah.. kau tahu sendiri, dari deadline, tugas kuliah juga kewajiban yang harus aku penuhi. Walau seperti yang pernah aku ceritakan kepadamu entah itu tekanan, motivasi, ataukah tujuan lain yang selalu di ucapkan teman-teman kopi ku, karena tak pernah ada wanita di dekatku. Ingin ku tepiskan jauh, semua perkataan mereka yang pernah mereka katakan kepada ku, lalu kubuktikan pada mereka aku bisa membawa wanita untuk mau berada di dekatku, bukan hanya tuk berada di dekatku tapi juga tuk menemani setiap langkahku.

Itulah Aryo dengan segala kesibukanya, memang tidak hanya kuliah, berorganisasi pun juga di jalaninya. Aku  tak berani tuk berbicara menyela perkataan Aryo, terus ku dengarkan karena aku mulai menerka jawaban akan tingkah lakunya, yang entah karena apa akhir-akhir ini menjadi sedikit berubah.

Jam pun masih menunjukan pukul setengah sebelas malam, dimana mereka semua (teman kamar ku) sudah tertidur pulas dalam lautan karpet merah sebagai alas tempat tidur mereka, sesekali ada yang ngelindur atau meregangkan badan untuk mengatur posisi tidur mereka. Memang seperti ini kehidupan di dalam asrama.

                hari hari pun berganti, waktu juga kembali mengatur posisi, tidak dari angka awal tapi dari angka sesudahnya. Ketika itu aku sudah jarang kembali ke rumahku. rumah keduaku, lebih tepatnya rumah tempatku berteduh untuk sementara waktu. Banyak yang sudah ku tinggal dari apa yang seharusnya aku lakukan di tempat itu, teman kamarku, barang-barangku juga semua isi yang berada di tempat itu. Ingin ku coba tuk menyapa mereka lagi, tapi aku belum tahu entah kapan waktu itu datang tuk menyapaku.
                dia.. bunga yang sempat membuatku terkesima waktu itu. tak ku sangka, muncul di hadapanku di tempat yang sama dengan situasi yang juga sama, aku memandangnya dia juga memandangku, hanya beberapa saat hingga kami kembali pada kondisi normal.

Aryo terdiam, tak tahu mencoba tuk mengingat atau mencoba tuk mengkondisikan dirinya. Di samping aku pamit pergi membuatkan kopi juga mengambilkan dua batang rokok untuk kita berdua.
Ku letakkan kopi di antara kita lalu menyulut sebatang rokok yang ku apit di sela jari telunjuk dan jari tengahku. Di ambilnya satu, lalu di sulut dengan pemantik api yang terbuat dari kayu, yang sering di kenal sebagai korek e wong g nduwe. Satu sedotan dan dua sedotan dia melanjutkan apa yang diceritakanya kepadaku.

                Pertemuan kedua itu semakin membuatku tak tahu apa yang ada di fikiranku, omongan setiap orang muncul dari ingatanku entah nasehat, entah motivasi entah itu hanya tekanan atau gurauan semata. Ingin ku bercerita kepada temanku yang aku jamin kau tahu siapa, akan tetapi ku fikir percuma karena kadang dia hanya diam menyikapinya, disamping kita sudah jarang tuk saling menyapa. Aku memilih untuk diam berfikir dengan alunan lagu, dan membuat keputusan dengan segala pertimbangan, yah.. sekali lagi kau tahu, aku orang yang penuh dan terlalu banyak akan sebuah pertimbangan, bodohnya aku.
Dalam diam ku ambil sebuah keputusan, dengan keyakinan ku coba tuk melakukan. kali ketiga ku kan menyapanya, lalu mencoba tuk berkenalan denganya, dan meminta nomer handphonenya. Hari itu pun tiba, di tempat yang sama pada kondisi yang sebaliknya, dia datang dengan beban kuliah di kepalanya, dan aku bersiap tuk berangkat dengan tekad tuk bermaksud menyapanya. Kejadian itu berlangsung singkat, hingga ku tahu siapa namanya juga nomer handphonenya. Dengan itu, dagu wajahku sudah mulai sedikit terangkat untuk menghadapi teman-teman ngopiku.
Tanpa menunggu lama, dua-tiga hari ku sudah mulai akrab denganya, sms juga telfon jadi kegiatan sehari-hari buat kita, hingga kita jadi sedikit lebih kenal dari sebelumnya. kotak sms sudah penuh dengan sms nya, hingga suatu ketika seseorang membacanya dan menyudutkanku untuk mau bercerita tentang siapa si bunga itu. Aku bercerita hingga beberapa orang jadi tahu. Beberapa hari setelah itu sudah jarang teman kopiku berbicara soal wanita di depanku. motivasi, tekanan, atau apalah itu sudah jarang aku dengarkan. Mungkin mereka sudah bosan atau memang sudah tidak ada yang bisa tuk di bicarakan.

Panjang Aryo bercerita, membuatku tak sadar batang rokok hanya tinggal beberapa sedot saja begitu juga denganya, hingga aku buang lalu aku seruput sedikit kopi hangat buatanku. Berkat kopi dan rokok Aryo menjadi lebih rileks untuk berbicara juga mengatakan semua apa yang sudah membuntu fikiranya, dia memang orang yang lugu, lugu dalam hal tak mengerti soal cinta dan perasaan. yang di lakukan selalu saja sama, terlalu banyak pertimbangan karena ragu untuk melangkah. Tak hanya sekali, tapi berulangkali. Entah kenapa dia sering sekali melakukan itu atau mendapat kejadian yang sama seperti itu. Jika pun berhasil dalam cintanya tentu tak akan lama, hingga tidak jarang ketika perasaanya belum tersampaikan dia akan memilih mundur, dan alasan yang tak masuk akal “mengalah”. lalu Setelah selesai dia akan lupa, entah lupa karena benar lupa atau hanya lupa sementara dengat rasa sakit yang tertinggal.

Sering kali dia tiba-tiba datang dengan wajah ceria, tidak jarang juga ketika dia datang dengan wajah kuyunya, akan apa yang baru saja dilakukanya. entah itu baru berkenalan dengan seorang wanita atau baru saja dilukai wanita yang telah lama dikenalnya. Begitu dan selalu saja begitu, aku kadang heran, bagaimana bisa ada sosok seorang pria seperti Aryo yang selalu berbuat sama dalam hal cinta.

Akhirnya aku bisa menyimpulkan semua cerita panjang yang tadi dia ceritakan. tidak beranjak tidur, ku tetap terjaga dengan membayangkan cerita Aryo yang baru saja disampaikan, dalam diam dengan hembusan setiap batang rokok yang aku rasakan, gambaran kisah Aryo pun melayang.[]